Konten dari Pengguna

Tumbuh Cinta Bersemie di Mangkuk Mie

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kareenia Zalika Ayuningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mie Keriting Medan Nikmat di Jl. Babakan Jeruk Kota Bandung, memiliki cita rasa autentik khas Medan. (Foto: Kareenia Zalika Ayuningtyas)
zoom-in-whitePerbesar
Mie Keriting Medan Nikmat di Jl. Babakan Jeruk Kota Bandung, memiliki cita rasa autentik khas Medan. (Foto: Kareenia Zalika Ayuningtyas)

Di tengah hingar-bingar kota Bandung, tepatnya di Jl. Babakan Jeruk, berdiri sebuah rumah sederhana di dalam perumahan, dengan pagar putih dan taman kecil di depan nya. Di bagian garasi rumah itu, berdiri restoran yang menghadirkan cita rasa autentik khas Medan — dengan mie keriting sebagai sajian andalannya.

Tak banyak yang tahu, di balik semangkuk mie tersimpan kisah cinta dua insan: seorang Opa dan pacar nya atau kerap disapa Oma. Mereka membangun usaha Mie Keriting Medan Nikmat bukan hanya secercah untuk penghasilan, tetapi karena ada panggilan — panggilan dari Tuhan, yang mereka yakini sebagai tuntutan Tuhan setelah mereka memutuskan menikah.

Berawal dari tahun 1984, sepasang kekasih ini diutus untuk bekerja di Bandung menjadi kontraktor selama 10 tahun. Mereka menyusun kembali kehidupan bersama, membeli rumah yang cukup luas, usai pergi dari kota asal, Medan. Namun setelah usai kontrak dengan perusahaan nya, mereka dipindahkan ke Kalimantan bekerja di perkebunan sawit. Tak berujung baik, mereka mengalami dampak kegagalan dari perusahaan itu yang mengharuskan mereka untuk pulang lagi ke Kota Lautan Api.

“Habis semua, kami mengalami kegagalan di perusahaan besar Kalimantan. Terus kami balik lagi ke Bandung, ada saudara yang meminjamkan kartu kredit 15 juta. Uang ini lah kami jadikan modal untuk membangun restoran di garasi, soalnya kalau kontrak pasti mahal.” ujar Opa Nedyanto (81).

Restoran yang sudah berumur 21 tahun ini didirikan atas dasar keyakinan mereka pada Tuhan — sebuah dorongan hati yang menurut Opa dan Oma datang dari Tuhan. Bagi mereka, pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama melainkan menjadi satu kesatuan yang utuh dalam segala hal, termasuk saat pencarian mata uang sehari-hari. Ini merupakan kunci keawetan rumah tangga mereka.

Opa dan Oma sudah menjalankan usaha Mie Keriting Medan Nikmat selama 21 tahun dengan penuh suka cita yang dijalani bersama. (Foto: Kareenia Zalika Ayuningtyas)

“Not only how to become one, but how to be one”

Beginilah prinsip Opa yang ia pegang teguh dalam menjalani rumah tangga dan membangun usaha bersama sang kekasihnya.

“Keberhasilan pernikahan bukan hanya soal memilih pasangan yang tepat, tetapi bagaimana keduanya bisa menjadi pasangan yang tepat. Mungkin dalam rencana Tuhan, rumah sebesar ini kalau dijadikan restoran memiliki untung yang besar”, ujar Oma Rosalind (80).

Dalam menjalankan usahanya, Opa dan Oma pun tak lepas dari berbagai kesulitan juga termasuk pergulatan batin yang tak terlihat. Namun, di tengah arus kegelisahan akhirnya mereka yakin karena Tuhan yang membantu mereka untuk tetap berjalan.

“Kesulitan mah pasti ada saya kemudian bertanya ke diri sendiri. Apa mungkin ya garasi ini kami buka menjadi restoran? Apa mungkin di komplek seperti ini kami membuka restoran? Tapi kami dapat konfirmasi dari Tuhan, kami beranikan langkah dan akhirnya berjalan”, tambah Opa.

Kepercayaan itulah membuat mereka akhirnya memutuskan membuka restoran di garasi rumah. Dengan awalnya mereka dibantu empat orang pegawai, kini menjadi dua orang yang setia menemani. Tetapi Opa dan Oma tak pernah merasa kekurangan. Semua dijalani bersama-sama tanpa mengeluh.

Tak ada alasan khusus dalam pemilihan nama, Mie Keriting Medan Nikmat menurut sepasang kekasih ini nama yang cocok untuk menarik perhatian suku Jawa. Mie Keriting salah satu kuliner di Medan yang terkenal, sehingga Opa — yang mendirikan restoran ini, ingin membawa kuliner kota asalnya itu dengan ciri khas mie buatan sendiri tanpa formalin atau hygiene. Hal ini yang membuat mie di disini berbeda dengan restoran lainnya.

"Serbu, Serba Lima Ribu". Begitu kata Opa sambil tertawa kecil saat menceritakan waktu dahulu harga semua makanan di menu hanya lima ribu rupiah. Namun seiring waktu berjalan, segalanya berubah termasuk harga bahan pangan naik. Tentu saja, hal ini membuat harga di setiap menu nya menjadi tiga puluh ribu rupiah. Meski begitu, tidak sedikit pelanggan tetap mampir hanya untuk menikmati hidangan dengan rasa dan kehangatan yang ditawarkan tak ikut naik harga.

Opa dan Oma menyiapkan semua bahan untuk hidangan resto, serta satu karyawan yang setia menemani mereka. (Foto: Kareenia Zalika Ayuningtyas)

Saat saya tiba untuk makan siang di restoran ini pada Senin (19/05/2025), suasana tampak sepi dari luar. Di garasi yang kini disulap menjadi restoran, terlihat Oma yang tengah duduk memetik tangkai-tangkai cabai merah di atas tampah. Oma melihat pengunjung datang, seketika tersenyum hangat sambil menyapa “Mau pesen apa?”. Kemudian salah satu pegawai mulai menyalakan api untuk menghangatkan kuah mie.

Ketika saya sedang memesan, tak lama Opa datang memakai motor tua nya, membawa beberapa kantong belanjaan yang kemudian dengan cepat menaruh nya di dalam rumah. Suasana restoran mendadak terasa semakin hangat, meski angin Bandung sore itu masih berhembus sejuk. Melihat Opa dan Oma saling menyapa, saling mengisi tanpa perlu banyak kata, menyejukkan hati ketika menyaksikan.

Menikmati Apa yang Harus Dinikmati

Di seruput pertama, rasa gurih dari kuahnya seketika mengingatkan saya dengan masakan di rumah — tidak mewah, sederhana namun bermakna. Tekstur mie yang kenyal, porsi yang royal dilengkapi dengan irisan ayam yang tebal, membuat perut semakin terguncang. Tak lengkap jika makan mie tidak memakai pangsit di sisinya, seolah ada yang hilang di setiap suapan.

Kemudian saya menyadari, Mie Keriting Medan Nikmat patut dinikmati dengan hikmat di tengah kota Bandung yang padat.