Globalisasi vs. Budaya Lokal: Mampukah Indonesia Jaga Keberagamannya Hari Ini?

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fairuz Ghathfaan Athallah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di meja makan sebuah keluarga di pelosok Nusantara, obrolan ringan mengalir—bahasa lokal mengalun, piring-piring berdesing, dan tawa menyambung cerita lama. Adegan sederhana itu adalah potret kecil dari Indonesia: sebuah mozaik dengan lebih dari 1.340 suku, ratusan bahasa daerah, dan ribuan tradisi yang hidup berdampingan. Namun di balik kehangatan itu, ada kekhawatiran: apakah mozaik ini akan tetap utuh di tengah derasnya arus global? Arus budaya global saat ini begitu cepat. Lagu viral, serial luar negeri, dan tren gaya hidup menempuh jarak ribuan kilometer dalam hitungan jam. Bagi banyak anak muda, identitas populer itu terasa lebih menarik dan mudah diakses daripada ritual lokal yang memerlukan waktu dan konteks. Data memperlihatkan kekhawatiran nyata: survei Kemdikbud (2023) menunjukkan penurunan penutur bahasa daerah; beberapa bahasa bahkan masuk daftar "kritis" dengan penutur kurang dari seratus orang. Hilangnya bahasa bukan sekadar kata yang musnah—ia berarti lenyapnya cara pandang, kearifan, dan pengetahuan yang diwariskan generasi ke generasi. Media sosial, paradoksnya, punya dua wajah. Di satu sisi platform seperti TikTok atau YouTube memungkinkan tari tradisional dan kerajinan lokal dikenal hingga mancanegara; di sisi lain, algoritma cenderung mengutamakan konten yang seragam dan mudah dikonsumsi. Akibatnya, versi “ringan” budaya laris manis, sementara kedalaman dan konteks sering tertinggal. Lebih jauh lagi, ruang digital kerap menjadi kanal penyulut konflik identitas; hoaks dan ujaran kebencian berbasis SARA masih sering mengganggu kerukunan publik. Generasi Z dan milenial hidup di persimpangan: warisan leluhur di satu sisi, dan godaan global di sisi lain. Banyak yang menghadapi kebingungan identitas—siapa saya dalam dunia yang terus berubah? Sekolah semestinya membantu menjawab itu, namun muatan lokal sering diperlakukan sebagai pelengkap. Akibatnya, kesempatan menumbuhkan kebanggaan budaya dalam diri anak muda terlewatkan. Padahal penelitian menunjukkan anak yang berakar budaya kuat lebih percaya diri, empatik, dan tahan terhadap tekanan sosial. Masalah sosial-ekonomi juga memperumit situasi. Indeks Kerukunan Umat Beragama (Kemenag, 2023) menunjukkan rata-rata kerukunan masih cukup baik, namun ada disparitas antar daerah—terutama di wilayah dengan ketimpangan ekonomi tinggi. Ketika ketidakadilan meningkat, sentimen identitas mudah dipolitisasi dan kerukunan diuji. Lalu, apa yang bisa kita lakukan — secara praktis dan sederhana? - Revitalisasi bahasa dan seni lokal. Dokumentasi, program maestro (penghubung pelaku tua dan muda), serta kelas komunitas bisa menjaga praktik budaya tetap hidup. - Literasi digital yang berbudaya. Ajarkan generasi muda menggunakan media sosial secara kritis dan kreatif: buat konten lokal yang relevan tanpa kehilangan konteks. - Pariwisata budaya berkelanjutan. Libatkan masyarakat lokal sebagai pengelola utama agar budaya jadi sumber kesejahteraan, bukan sekadar tontonan. - Ruang dialog yang inklusif. Perkuat forum lintas komunitas di sekolah, kampus, dan platform digital untuk mengasah empati dan kemampuan menyelesaikan konflik. Contoh kecil sudah muncul: podcast bahasa daerah, video proses pembuatan tenun yang mendapat perhatian luas, dan inisiatif sekolah yang menyelenggarakan kelas bahasa ibu secara kreatif. Ini bukti bahwa solusi tidak selalu besar — cukup konsisten dan didukung kebijakan yang tepat. Keberagaman adalah aset, bukan masalah. Di tengah homogenisasi global, kemampuan merawat perbedaan justru menjadi keunggulan kompetitif: budaya yang beragam mendorong kreativitas, menumbuhkan toleransi, dan memperkaya identitas bangsa. Namun agar itu terjadi, kita perlu bertindak sehari-hari: merancang kebijakan yang mendukung, memperkaya kurikulum dengan muatan lokal, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat pelestarian, bukan pemampatan. Kembali ke meja makan tadi: ketika cerita-cerita lama masih diceritakan, ketika bahasa leluhur masih terdengar dari mulut anak-anak, dan ketika tradisi bukan sekadar tontonan tapi bagian dari hidup—di situlah masa depan keberagaman Indonesia terjaga. Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh berhenti sebagai slogan; ia harus hidup dalam tindakan kita sehari-hari.
