Konten dari Pengguna

Sepak Bola sebagai Medium Kehidupan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari 13 Hafizhah Az Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampul novel Tidak Ada Kartu Merah (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sampul novel Tidak Ada Kartu Merah (dokumentasi pribadi)

Identitas Buku

Judul : Tidak Ada Kartu Merah

Penulis : Ruly Riantiarno

Penerbit : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit : 2019

Tebal Halaman : x + 222 Halaman

Ukuran Buku : 13 cm x 19 cm

ISBN : 978-602-412-562-2

Harga Buku : Rp69.000 (Harga P. Jawa)

Pembahasan

Kalau hanya melihat judul, sampul, dan kutipan yang terpampang di sampulnya, Tidak Ada Kartu Merah karya Ruly Riantiarno memang seperti novel yang akan membawa kita ke lapangan sepak bola. Ada gambar bola, lapangan, dan berbagai istilah yang langsung mengingatkan kita pada pertandingan. Sekilas, rasanya kita akan membaca cerita tentang siapa yang menang, siapa yang kalah, atau bagaimana sebuah pertandingan berlangsung.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Sepak bola memang menjadi bagian penting dalam novel yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2019 ini. Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin terasa bahwa sepak bola hanya menjadi salah satu jalan bagi Ruly untuk membicarakan hal-hal yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia: masa lalu, penyesalan, persahabatan, keluarga, konflik, dan harapan.

Ruly Riantiarno sendiri merupakan warga Kabupaten Karanganyar yang sehari-hari bekerja sebagai tukang stempel. Ia aktif dalam Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning serta sebelumnya telah menerbitkan kumpulan cerpen Cakrawala Gelap pada 2018. Kedekatannya dengan Karanganyar terasa dalam novel ini. Suasana pedesaan dan penggunaan bahasa Jawa membuat cerita terasa akrab, terutama bagi pembaca yang pernah bersinggungan dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Barangkali itu juga yang membuat cerita ini tidak terasa seperti cerita sepak bola yang hanya berlangsung di lapangan. Di balik pertandingan dan rivalitas dua desa, ada persoalan-persoalan lama yang belum benar-benar selesai.

Masa lalu yang ternyata belum selesai

Sejak bagian awal, pembaca sudah diajak untuk melihat bahwa masa lalu memiliki tempat yang cukup besar dalam kehidupan para tokohnya. Bies, misalnya, membuka cerita dengan gerutuan ketika sedang menunggu seseorang.

“Tidak berubah. Masih saja suka terlambat dari dulu sampai sekarang.”

Kalimat sederhana tersebut sebenarnya sudah memberikan sedikit gambaran bahwa orang yang sedang ditunggu Bies bukanlah seseorang yang benar-benar baru baginya. Ada sesuatu dari masa lalu yang masih terbawa sampai sekarang.

Hal semacam inilah yang kemudian membuat cerita Tidak Ada Kartu Merah menjadi lebih kompleks. Afat dan Bies tidak mengetahui seluruh masa lalu yang terjadi di antara keluarga mereka. Pertemuan dan hubungan keduanya justru perlahan membuka kembali luka yang sebelumnya tersimpan.

Ada pula Kasim yang seperti menjadi jembatan di antara berbagai persoalan tersebut. Lik To dan Har masih membawa bekas masa lalu masing-masing, sementara kehadiran Nayeli menambah kebimbangan, rasa bersalah, sekaligus harapan.

Pada akhirnya, semua persoalan itu bertemu dalam rivalitas dua desa melalui pertandingan sepak bola. Lapangan seakan menjadi tempat bertemunya berbagai hal yang selama ini tersimpan: konflik, hubungan, masa lalu, sekaligus harapan.

Dan di sinilah menurut saya menariknya novel ini. Pertandingan sepak bola tidak hanya digunakan untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Ia menjadi gambaran kecil tentang kehidupan para tokohnya.

Potongan kisah: Pembaca menyusun masa lalu

Ruly tidak memberikan semua informasi secara langsung. Novel ini hanya terbagi dalam tiga bagian besar, sehingga pada awalnya cerita terasa cukup sederhana. Seolah-olah persoalan yang dibahas hanya itu-itu saja.

Namun, kesan tersebut perlahan berubah ketika cerita mulai bergerak maju-mundur.

Informasi mengenai masa lalu tidak diberikan sekaligus. Pembaca justru harus menyusun sendiri potongan-potongan peristiwa yang diberikan secara bertahap. Siapa yang memiliki hubungan dengan siapa, apa yang sebenarnya pernah terjadi, dan mengapa masa lalu tersebut masih memengaruhi kehidupan mereka sekarang, semuanya perlahan terbuka.

Bagi saya, cara seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup karena pembaca tidak hanya menerima cerita, tetapi juga ikut menerka-nerka. Kita seperti diajak membuka satu per satu bagian masa lalu yang sengaja disimpan oleh penulis.

Meski begitu, cara tersebut juga memiliki konsekuensi. Ketika terlalu banyak informasi yang ditahan, beberapa bagian justru dapat membuat pembaca bingung. Apalagi Ruly juga cukup detail dalam menggambarkan suasana pedesaan.

Deskripsi tersebut sebenarnya menjadi salah satu hal menarik dalam novel. Pembaca dapat membayangkan suasana tempat, lingkungan, dan kehidupan masyarakat yang menjadi latar cerita. Penggunaan bahasa Jawa, istilah lokal, serta nama-nama tokoh yang khas juga membuat suasana pedesaan terasa semakin kuat.

Tetapi, untuk pembaca yang lebih menyukai cerita yang ringkas dan langsung bergerak menuju konflik, deskripsi yang begitu detail mungkin terasa cukup panjang. Ada bagian-bagian yang membuat cerita seperti berjalan lebih lambat daripada yang diharapkan.

Dari “sampah” menjadi sesuatu yang bermakna

Salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik justru datang dari dialog Lik To. Ia digambarkan sebagai sosok yang bijaksana, tetapi bukan berarti sempurna. Kebijaksanaannya terasa melalui cara ia menyampaikan nasihat.

“Artinya kubilang kata-kataku hanya sampah adalah kata-kata itu masih di luar dirimu. Kamu yang memutuskan hidupmu, bukan kata-kataku. Tetapi hendaknya sampah sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya lagi. Kamu harus tahu, ada kalanya dari sampah justru menjadi sesuatu yang penting.”

Bagi saya, perkataan Lik To bukan berarti nasihat dari orang lain tidak berguna. Justru sebaliknya. Kata-kata orang lain mungkin saja menjadi sesuatu yang berarti, tetapi pada akhirnya kita sendiri yang menentukan bagaimana kata-kata tersebut digunakan dalam kehidupan.

Perumpamaan tentang sampah juga terasa menarik. Sesuatu yang dianggap sudah tidak berguna ternyata belum tentu benar-benar kehilangan nilai. Bisa saja dari sesuatu yang dianggap tidak berarti justru muncul sesuatu yang penting.

Cara Lik To berbicara seperti ini membuat karakternya terasa berbeda. Ia tidak sekadar memberikan nasihat dengan mengatakan apa yang harus dilakukan seseorang. Ia justru seperti mengembalikan keputusan tersebut kepada orang yang sedang dinasihatinya.

Mungkin karena itu pula perkataannya terasa cukup membekas.

Bies dan Afat: berbeda, tetapi justru dekat

Hubungan Bies dan Afat juga menjadi bagian yang menarik untuk diperhatikan. Keduanya memiliki karakter yang hampir bertolak belakang. Bies lebih pendiam, sementara Afat digambarkan aktif, cerewet, dan banyak tingkah.

Anehnya, justru perbedaan itu yang membuat keduanya dekat hingga bersahabat ketika dewasa.

Namun, persahabatan tersebut ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Ada masa lalu yang kemudian menjadi ujian ketika keduanya kembali bertemu.

Di titik ini, saya merasa bahwa Ruly kembali menunjukkan bagaimana hubungan manusia tidak pernah benar-benar berdiri hanya berdasarkan apa yang terlihat di masa sekarang. Ada pengalaman, ingatan, luka, dan keputusan masa lalu yang ikut membentuk hubungan tersebut.

Dan mungkin itu pula yang ingin dibicarakan novel ini sejak awal.

Tak ada pertandingan yang benar-benar hanya tentang pertandingan

Pada akhirnya, sepak bola dalam Tidak Ada Kartu Merah bukan sekadar latar cerita. Pertandingan dan rivalitas dua desa menjadi semacam gambaran kecil dari kehidupan para tokohnya.

Ada kemenangan, kekalahan, konflik, konsekuensi, dan harapan yang tetap muncul meskipun sebelumnya pernah ada luka.

Judul Tidak Ada Kartu Merah pun terasa semakin menarik ketika cerita dibaca lebih jauh. Jika dalam sepak bola kartu merah berarti seseorang harus keluar dari pertandingan, kehidupan tidak selalu bekerja sesederhana itu. Kesalahan, konflik, dan masa lalu tidak selalu bisa membuat seseorang benar-benar dikeluarkan dari kehidupan orang lain.

Ada hal-hal yang tetap terbawa.

Ada hubungan yang harus dihadapi kembali.

Ada penyesalan yang belum selesai.

Dan ada harapan yang, meskipun sempat dimatikan, masih mungkin untuk dinyalakan kembali.

Mungkin karena itu Tidak Ada Kartu Merah bukan hanya cerita tentang sepak bola. Ruly Riantiarno menggunakan dunia sepak bola untuk memperlihatkan sisi lain dari kehidupan manusia: bagaimana seseorang berhadapan dengan masa lalunya, bagaimana hubungan dapat berubah karena sesuatu yang pernah terjadi, dan bagaimana manusia tetap mencari harapan di tengah konflik yang belum selesai.

Jadi, kalau sejak awal kita mengira buku ini hanya akan membawa kita ke lapangan sepak bola, mungkin kita perlu membacanya sedikit lebih jauh.

Sebab ternyata, tidak semua pertandingan dalam hidup berlangsung di lapangan.

Hafizhah Az Zahra, mahasiswa Sarjana Ilmu Komunikasi UNS.