Konten dari Pengguna

Bagaimana Jika Luka itu Hanya Topeng Saja

Fandi Achmad Fahrezi

Fandi Achmad Fahrezi

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pinterest.com
zoom-in-whitePerbesar
pinterest.com

Topeng

Dibalik sebuah topeng tentunya tersimpan rupa nyata. Lalu, untuk mengetahuinya kita perlu untuk dapat membedakan mana yang topeng dan mana yang rupa nyata. Berdasarkan pengamatan saya pribadi di lingkungan pertemanan ataupun perkuliahan, tak banyak yang  bisa melakukanya dalam konteks introvert vs ekstrovert dan yang paling membuat bising telinga adalah mental health.

‎Entah dari mana asalnya, introvert bisa menjadi seolah-olah luka yang perlu diobati. Padahal, Jung sendiri menjelaskan Sikap Introvert menurutk Jung berarti energi berputar dalam pusaran subjektivitas. Dunia batin, mimpi, renungan, dan imajinasi menjadi sumber kekuatan. Lalu, sikap ekstrovert bagi Jung hanya Energi psikis mengalir deras keluar, menyatu dengan dunia objektif. Jiwa-jiwa ekstrovert menyala ketika terhubung dengan orang lain, benda, atau aktivitas eksternal. Mereka adalah penjelajah realitas konkret yang menemukan vitalitas dalam interaksi sosial  seperti Jung muda yang bersemangat mengejar karir akademik. Kemudian, tak ada manusia yang sepenuhnya ekstrovert atau introvert murni karena orang yang sepenuhnya ekstrovert atau introvert akan berakhir di rumah sakit jiwa sebab kesehatan psikis terletak pada kemampuan menari di antara dua kutub: ekstrovert belajar menyelami kedalaman batin, introvert menemukan kebijaksanaan dalam keterlibatan duniawi. Parahnya, dalam streotip khalayak umum teori Jung begitu disederhanakan dengan introvert dianggap pematung keheningan, ekstrovert diukir sebagai orator tak berhenti. Padahal, jantung konsep ini berdetak pada arah arus energi jiwa bukan riak permukaan perilaku. Lihatlah diplomat introvert yang memukau podium internasional dengan kata-kata berkilau, namun setelahnya ia menyepi seperti burung merak yang meliputi sayapnya. Atau sang pelukis ekstrovert yang berjam-jam bertarung dengan kanvas dalam kesunyian, hanya untuk kemudian menceburkan diri dalam pesta warna keramaian bagai ikan kembali ke laut.

Luka

‎Hal serupa juga terjadi dalam isu kesehatan mental (mental health), yang secara sederhana dapat dipahami sebagai kondisi kesejahteraan psikologis dan emosional seseorang. Dalam kondisi ini, individu memiliki kemampuan untuk mengelola pikirannya secara sehat, mengatur emosi dengan bijaksana, serta bertindak secara adaptif terhadap tantangan hidup. Kesehatan mental mencakup berbagai aspek: bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku, serta bagaimana mereka mengelola stres, membangun relasi sosial, dan mengambil keputusan yang tepat. Ketika seseorang berada dalam kondisi mental yang sehat, mereka mampu menjalani kehidupan sehari-hari secara produktif baik dalam konteks pekerjaan, hubungan interpersonal, maupun keterlibatan dalam masyarakat luas. Namun, definisi yang sederhana ini seringkali berbenturan dengan pemahaman mengenai penyakit mental (mental illness). Istilah ini merujuk pada berbagai gangguan kesehatan mental yang secara klinis memengaruhi suasana hati, pola pikir, hingga perilaku individu. Gangguan tersebut bukan hanya membuat seseorang merasa tidak nyaman secara emosional, tetapi juga mengganggu fungsi sosial dan profesional mereka. Contoh gangguan ini meliputi depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan makan, hingga perilaku adiktif seperti kecanduan zat tertentu. Setiap gangguan memiliki spektrum gejala yang berbeda-beda dan membutuhkan pendekatan penanganan yang tepat dari tenaga profesional.

‎Sayangnya, dalam realitas sehari-hari, masyarakat masih banyak yang salah kaprah dalam membedakan antara kesehatan mental dan penyakit mental. Persepsi yang keliru ini telah berkembang menjadi semacam stigma sosial, bahkan seringkali menjadi senjata tajam yang merugikan individu yang sedang berjuang dengan kondisi mentalnya. Banyak orang dengan gejala ringan atau kondisi sementara langsung menyimpulkan bahwa mereka mengalami gangguan mental berat hanya karena membaca artikel populer di internet atau menyimak unggahan di media sosial tanpa pendampingan dari ahli. Hal ini diperburuk oleh maraknya self-diagnosis melalui situs atau aplikasi daring, yang sering kali tidak didasarkan pada parameter medis yang sahih.

‎Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, informasi yang seharusnya memberdayakan justru dapat menyesatkan jika tidak disertai dengan literasi yang memadai. Kesehatan mental dan penyakit mental bukanlah dua istilah yang dapat dipertukarkan secara bebas, sebab keduanya memiliki makna, cakupan, dan implikasi yang sangat berbeda. Ketidaktahuan terhadap perbedaan tersebut tidak hanya berpotensi menimbulkan kepanikan dan ketidaknyamanan, tetapi juga bisa menyebabkan pelabelan negatif terhadap diri sendiri atau orang lain, serta menghambat individu untuk mencari pertolongan yang tepat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kesehatan mental bukan berarti ketiadaan penyakit mental, dan sebaliknya, mengalami masalah kesehatan mental bukan berarti langsung mengidap gangguan jiwa berat. Kesehatan mental adalah spektrum, dan setiap individu berada di titik yang berbeda dalam spektrum tersebut sepanjang hidupnya. Pemahaman yang tepat, ditambah dengan edukasi yang benar dan konsultasi kepada profesional, akan menjadi langkah penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, empatik, dan berpikiran terbuka terhadap isu kesehatan mental.