Konten dari Pengguna

Cakrawala Romansa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com

Cakrawala Romansa

Tidak sedikit orang bertanya, "Mengapa ia tetap bertahan?" Pertanyaan itu biasanya muncul ketika seseorang memilih melanjutkan hubungan yang jelas-jelas dipenuhi manipulasi, kebohongan, atau kekerasan psikologis. Dari luar, jawabannya tampak sederhana: ia tahu hubungannya tidak sehat, tetapi memilih mengabaikannya. Namun, benarkah mengetahui selalu berarti sadar?

Dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan sering kali disamakan dengan kesadaran. Padahal, keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Seseorang dapat mengetahui bahwa pasangannya manipulatif, menyadari dirinya sering menangis setelah bertengkar, bahkan memahami bahwa hubungan tersebut perlahan mengikis harga dirinya. Akan tetapi, pengetahuan itu belum tentu cukup untuk mengubah tindakannya. Ia tetap bertahan, tetap memberi kesempatan, atau bahkan mencari alasan untuk membenarkan perilaku pasangannya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kesadaran tidak berhenti pada kemampuan mengenali suatu keadaan. Kesadaran juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memaknai pengalaman yang dialaminya. Dalam perspektif filsafat, pengalaman bukan sekadar kumpulan peristiwa, melainkan bahan yang terus diolah menjadi persepsi, keyakinan, dan cara memandang dunia. Sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russell, apa yang kita sebut sebagai kehidupan mental tidak dapat dipisahkan dari rangkaian pengalaman yang membentuk cara manusia memahami realitas (Russell, 1921).

Di sisi lain, ilmu psikologi menjelaskan bahwa individu sering kali tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan karena adanya ikatan emosional yang kompleks. Hubungan yang bergantian menghadirkan kasih sayang dan perlakuan menyakitkan dapat membentuk keterikatan yang membuat seseorang sulit melepaskan diri, meskipun ia mengetahui bahwa hubungan tersebut tidak sehat (Carnes, 2019).

Oleh karena itu, mengetahui bahwa suatu hubungan bersifat toksik bukanlah akhir dari proses kesadaran. Kesadaran justru dimulai ketika seseorang berani mempertanyakan makna di balik pengetahuannya: mengapa ia masih bertahan, mengapa rasa sakit dianggap sebagai bentuk cinta, dan mengapa kehilangan pasangan terasa lebih menakutkan daripada kehilangan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengubah pengetahuan menjadi refleksi, dan refleksi menjadi langkah awal menuju kesadaran yang lebih utuh.

Pra-Pemahaman

Tidak ada seorang pun yang lahir dengan definisi tentang cinta. Cara seseorang memahami perhatian, kesetiaan, pengorbanan, bahkan luka, perlahan dibentuk oleh pengalaman yang terus bertambah sepanjang hidupnya. Pengalaman tersebut tidak selalu berasal dari hubungan romantis, tetapi juga dari keluarga, pertemanan, lingkungan sosial, hingga berbagai narasi yang dikonsumsi setiap hari.

Sejak kecil, seseorang belajar mengenali cinta melalui apa yang ia lihat dan rasakan. Ada yang tumbuh dalam keluarga yang hangat sehingga menganggap komunikasi sebagai bentuk kasih sayang. Sebaliknya, ada pula yang terbiasa menyaksikan pertengkaran, kemarahan, atau pengabaian sehingga perlahan menganggap perlakuan tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam sebuah hubungan. Proses ini sejalan dengan Social Learning Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura, bahwa manusia belajar melalui proses mengamati, meniru, dan menginternalisasi perilaku yang ada di sekitarnya (Bandura, 1977).

Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi persepsi. Persepsi inilah yang sering kali bekerja secara diam-diam ketika seseorang menjalin hubungan. Misalnya, sikap posesif dimaknai sebagai bentuk perhatian, kecemburuan dianggap bukti cinta, atau permintaan maaf yang berulang dipandang sebagai tanda bahwa pasangan masih ingin mempertahankan hubungan. Padahal, makna-makna tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat universal, melainkan hasil dari proses interpretasi yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup masing-masing.

Lebih jauh, pengalaman seseorang tidak hanya berasal dari apa yang dialaminya sendiri. Cerita teman, film, lagu, novel, hingga media sosial turut membentuk gambaran mengenai seperti apa hubungan yang dianggap ideal. Dalam masyarakat modern, ruang digital bahkan memungkinkan seseorang mengadopsi pengalaman orang lain tanpa pernah mengalaminya secara langsung. Akibatnya, batas antara pengalaman pribadi dan pengalaman sosial menjadi semakin kabur. Apa yang terus-menerus dilihat, didengar, dan dibicarakan dapat perlahan diterima sebagai kenyataan yang dianggap normal.

Selisik Hati-Hati

Pengalaman memang membentuk cara seseorang memandang cinta, tetapi pengalaman tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran kebenaran. Sebab, pengalaman selalu terbatas pada apa yang pernah dilihat, dirasakan, atau didengar oleh seseorang. Di titik inilah kesadaran memperoleh maknanya, bukan sekadar mengingat pengalaman, melainkan menempatkan pengalaman tersebut di hadapan nilai-nilai yang lebih luas.

Dalam kehidupan sehari-hari, proses ini sering terjadi ketika seseorang mulai bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah perlakuan yang selama ini dianggap sebagai bentuk kasih sayang benar-benar mencerminkan cinta yang sehat? Apakah rasa takut kehilangan dapat membenarkan penghinaan, manipulasi, atau kekerasan emosional? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari pengalaman, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menilai kembali pengalaman yang dimilikinya.

Kemampuan tersebut sejalan dengan gagasan Hans-Georg Gadamer bahwa pemahaman manusia selalu berlangsung melalui proses dialog antara pengalaman baru dengan pra-pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya. Tradisi, bahasa, pendidikan, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat tidak sekadar diwariskan, tetapi terus diuji melalui pengalaman yang dialami seseorang (Gadamer, 1975). Dengan demikian, pengalaman bukanlah akhir dari pemahaman, melainkan awal dari proses interpretasi.

Dalam konteks hubungan romantis, refleksi tersebut dapat bersumber dari berbagai kerangka nilai. Bagi sebagian orang, nilai agama menjadi dasar untuk memahami bahwa relasi yang sehat semestinya menghadirkan penghormatan terhadap martabat manusia. Bagi yang lain, hukum dan norma sosial menjadi acuan untuk mengenali batas antara konflik yang wajar dan kekerasan dalam hubungan. Ada pula yang menjadikan prinsip-prinsip psikologi sebagai pijakan untuk memahami pentingnya rasa aman, saling menghargai, dan komunikasi yang sehat. Meskipun berasal dari sumber yang berbeda, seluruh kerangka tersebut memiliki fungsi yang sama, yaitu membantu seseorang mengevaluasi kembali makna pengalaman yang selama ini dianggap normal.

Oleh karena itu, kesadaran tidak lahir ketika seseorang menghafal nilai-nilai moral atau sekadar mengetahui bahwa hubungannya bersifat toksik. Kesadaran lahir ketika ia berani mempertemukan pengalaman pribadinya dengan nilai-nilai yang diyakininya, lalu bertanya secara jujur apakah keduanya masih berjalan searah. Jika jawabannya tidak, maka yang perlu diubah bukan nilai tersebut, melainkan cara seseorang memaknai pengalaman yang selama ini membentuk dirinya.

Pasca-Paham

Meninggalkan hubungan yang toksik sering dipandang sebagai bukti bahwa seseorang telah sadar. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak selalu benar. Ada orang yang mengakhiri hubungan karena lelah, ada yang karena tekanan lingkungan, dan ada pula yang karena menemukan pasangan baru. Sebaliknya, tidak sedikit yang masih bertahan, tetapi mulai mempertanyakan alasan di balik setiap keputusan yang diambil. Barangkali, kesadaran tidak selalu ditandai oleh seberapa cepat seseorang pergi, melainkan oleh keberaniannya untuk meninjau ulang apa yang selama ini diyakini.

Dalam filsafat pendidikan, John Dewey menjelaskan bahwa berpikir reflektif merupakan proses mempertimbangkan secara sungguh-sungguh suatu keyakinan berdasarkan alasan dan konsekuensi yang mungkin ditimbulkannya (Dewey, 1933). Refleksi demikian tidak berhenti pada menerima atau menolak suatu pandangan, tetapi mengajak seseorang mempertanyakan mengapa ia mempercayainya sejak awal. Di sinilah kesadaran melampaui sekadar mengetahui. Kesadaran menjadi kemampuan untuk mempertanggungjawabkan keyakinan yang membimbing tindakan.

Dalam hubungan romantis, pertanyaan-pertanyaan sederhana sering kali menjadi awal dari proses tersebut. Mengapa aku menganggap sikap posesif sebagai perhatian? Mengapa permintaan maaf yang berulang selalu cukup untuk menghapus luka yang sama? Mengapa aku lebih takut kehilangan pasangan daripada kehilangan diriku sendiri? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi ia membuka ruang bagi seseorang untuk melihat hubungannya dengan cara yang berbeda.

Pada akhirnya, kesadaran bukanlah keadaan yang datang sekali lalu selesai. Ia adalah proses yang terus bergerak seiring bertambahnya pengalaman, perjumpaan dengan nilai-nilai baru, dan keberanian untuk mengoreksi diri. Sebab, hubungan yang sehat tidak hanya membutuhkan perasaan untuk mencintai, tetapi juga kesadaran untuk memahami mengapa seseorang memilih mencintai dengan cara tertentu. Ketika keberanian untuk merefleksikan pengalaman mulai tumbuh, saat itulah seseorang tidak lagi sekadar menjalani hubungan, melainkan mulai mengenali dirinya sendiri.