Konten dari Pengguna

Kawan-Kawan di Ruang Tunggu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com

Ruang Tunggu

Alam tidak mengenal baik dan buruk. Seekor singa yang menerkam anak kambing bukanlah tindakan jahat melainkan mekanisme bertahan hidup yang sudah berjalan jutaan tahun dalam rantai makanan. Baik dan buruk adalah kategori yang lahir belakangan sebagai hasil konstruksi manusia untuk memberi makna pada kehidupan yang, secara biologis netral nilai. Namun justru karena manusia adalah makhluk pencari nilai (meaning-seeking creature), konsep benar dan salah menjadi sesuatu yang kita pegang erat dan diperdebatkan atau bahkan diperjuangkan... kadang dengan cara yang tidak konsisten dengan fakta yang ada di depan mata.

Fenomena inilah yang menjelaskan sebuah paradoks yang sangat umum ditemui: seseorang tahu persis bahwa temannya bersalah meskipun disuguhi bukti yang cukup dan bahkan mengakui dalam hati bahwa perbuatan itu keliru. Tetapi, tetap membelanya di depan umum, bahkan mengorbankan pihak lain yang sebenarnya berada di posisi benar. Untuk itu, tulisan ini mencoba menguraikan mengapa hal ini terjadi... bukan dari sudut pandang moralistik semata melainkan bertumpu pada tiga badan riset psikologi dan biologi evolusioner yang bisa ditelusuri sumbernya, tepatnya mengenai teori dua sistem berpikir, hipotesis otak sosial soal batas ukuran kelompok, dan teori penalaran termotivasi (motivated reasoning)

Dua Sistem dalam Kepala Kita

Psikologi kognitif membedakan dua jenis proses pengambilan keputusan dalam diri manusia, contohnya melalui kerangka yang paling dikenal luas lewat kerja psikolog pemenang Nobel Daniel Kahneman yakni Sistem 1 dan Sistem 2. Istilah Sistem 1 dan Sistem 2 sendiri sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Keith Stanovich dan Richard West sekitar tahun 2000 sebelum dipopulerkan Kahneman lewat bukunya Thinking Fast and Slow (2011). Sistem 1 adalah moda berpikir yang cepat, otomatis, intuitif, dan berjalan hampir tanpa usaha sadar. Contohnya, ia mengenali pola wajah, merespons emosi, dan mengambil sebagian besar keputusan kita tanpa kita sadari. Sebaliknya, Sistem 2 beroperasi secara lambat, disengaja, dan analitis. Contohnya, dipakai saat kita menghitung pajak, menimbang argumen, atau membuat keputusan rumit.

Poin penting untuk digarisbawahi perihal kedua sistem ini bukan dua belahan otak yang terpisah secara anatomis melainkan metafora untuk dua pola pemrosesan informasi yang oleh para neurosaintis lebih sering disebut kognisi implisit versus eksplisit. Kahneman sendiri mencatat bahwa Sistem 2 cenderung "malas" ia hanya diaktifkan bila benar-benar diperlukan dan defaultnya adalah membiarkan Sistem 1 mengambil alih. Hubungan antar keduanya dijelaskan lewat apa yang disebut model default-interventionist... Sistem 1 terus-menerus menghasilkan respons intuitif dan Sistem 2 baru turun tangan untuk memeriksa atau membatalkannya, itu pun kalau usaha itu dianggap sepadan.

Di sinilah persoalan loyalitas yang keliru bermula. Sistem 2 mungkin sudah menyimpulkan "temanku bersalah, dia harus bertanggung jawab." Tapi Sistem 1 menyimpan memori ikatan, rasa nyaman, dan rasa aman karena kedekatan sosial yang bekerja lebih cepat dan lebih murah secara kognitif sehingga kesimpulan rasional itu kerap kalah start sebelum sempat memengaruhi tindakan.

Warisan Evolusi yang Tidak Selalu Rasional

Manusia adalah makhluk yang secara alami membentuk kelompok dengan batas kapasitas kognitif tertentu. Argumen paling terkenal soal ini datang dari antropolog Robin Dunbar yang pada 1992 menemukan korelasi antara ukuran neokorteks relatif dan ukuran kelompok sosial pada primata. Lalu mengekstrapolasikannya ke manusia dan mendapati angka sekitar 148 yang kemudian dibulatkan menjadi 150 dan dikenal sebagai Dunbar's number. Dunbar juga mengusulkan struktur berlapis di dalam angka itu, sekitar 5 orang di lingkaran sahabat terdekat, 15 di lingkaran sahabat dekat, 50 di lingkaran pertemanan yang lebih longgar, dan 150 di lingkaran komunitas bermakna secara keseluruhan.

Perlu dicatat secara jujur bahwa angka ini tidak sepenuhnya tanpa perdebatan. Sekelompok peneliti dari Universitas Stockholm dalam publikasi di jurnal Biology Letters (2021), mengulang analisis statistik Dunbar dengan metode dan data primata yang lebih mutakhir dan mendapati interval kepercayaan yang sangat lebar... mulai dari 4 hingga 520 orang tergantung metode yang dipakai sehingga mereka menyimpulkan tidak ada satu angka pasti yang bisa diklaim sebagai batas kognitif manusia secara ketat. Dunbar sendiri membalas kritik ini dengan menyatakan bahwa studi Stockholm menggunakan metode regresi yang secara statistik kurang tepat untuk jenis data tersebut. Terlepas dari perdebatan angka presisinya, poin yang bertahan dari kedua belah pihak adalah prinsip umumnya terkait kapasitas manusia untuk menjaga hubungan sosial yang benar-benar erat dan personal memang terbatas dan di luar circle itu ikatan dijaga bukan oleh kedekatan fisik atau kognisi individual melainkan oleh narasi bersama seperti bahasa, identitas kelompok, dan cerita kolektif tentang siapa "kita" dan siapa "mereka".

Prinsip yang sama berlaku dalam skala kecil, pertemanan, tim kerja, organisasi, bahkan keluarga. Psikolog moral Jonathan Haidt, lewat Moral Foundations Theory yang dikembangkan bersama Jesse Graham dan Craig Joseph, memasukkan Loyalitas/Pengkhianatan sebagai salah satu fondasi moral bawaan manusia yang merupakan satu dari enam sumber intuisi moral yang oleh Haidt dijelaskan berakar dari sejarah panjang manusia sebagai makhluk yang hidup dalam koalisi berbasis kelompok. Fondasi ini mengikat individu pada kelompoknya, mendorong solidaritas dan pengorbanan diri sekaligus membuat orang waspada atau bahkan represif terhadap sinyal pengkhianatan dari dalam kelompok itu sendiri. Riset Haidt dan koleganya juga menunjukkan bahwa penekanan pada fondasi loyalitas kelompok ini bervariasi antarindividu dan budaya... tapi keberadaannya sebagai salah satu lidah moral manusia relatif konsisten ditemukan lintas budaya.

Titik krusialnya: ketika seseorang merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu bersama seorang teman... batas antara membela orang dan membela kebenaran menjadi kabur. Sebab, yang dibela bukan lagi fakta yang di nalar melainkan keanggotaan kelompok itu sendiri.

Niat Baik yang Menghasilkan Ketidakadilan

Ada satu pola yang berulang dalam sejarah manusia, banyak kerusakan besar justru lahir dari niat yang dari sudut pandang pelakunya terasa baik. Seseorang membela temannya bukan karena ingin berbuat curang melainkan karena dalam kepalanya hal itu terasa seperti bentuk kesetiaan atau keberanian moral untuk "tidak meninggalkan kawan di saat sulit." Perasaan itu subjektif terasa mulia tapi nilai yang terasa mulia bagi satu pihak bisa menjadi sumber ketidakadilan bagi pihak lain.

Mekanisme psikologis di balik pola ini punya nama dan sejarah riset yang cukup panjang, yakni motivated reasoning. Istilah yang dirumuskan secara sistematis oleh psikolog sosial Ziva Kunda dalam makalahnya The Case for Motivated Reasoning (1990) yang hingga kini telah dikutip lebih dari 9.000 kali menurut Google Scholar. Kunda mengajukan model yang disebut biased accessing and construction... ia berargumen bahwa motivasi tidak membuat orang berbohong secara sadar melainkan memengaruhi strategi kognitif mana yang dipakai orang untuk mengakses, menyusun, dan mengevaluasi keyakinannya. Ketika motivasinya adalah keakuratan (misalnya karena tahu akan dievaluasi orang lain) orang cenderung memakai strategi yang lebih hati-hati dan seksama. Tapi ketika motivasinya bersifat direksional atau ingin sampai pada kesimpulan tertentu, seperti temanku tidak bersalah... orang secara selektif mengakses bukti, ingatan, dan aturan penalaran yang paling mungkin membawanya ke kesimpulan yang diinginkan itu sambil tetap merasa dirinya objektif.

Poin penting dari teori Kunda adalah orang yang melakukan motivated reasoning umumnya tidak menyadari bahwa penalarannya bias. Mereka tetap merasa telah menimbang bukti secara adil karena secara subjektif, itulah yang terjadi di kepala mereka. Riset lanjutan oleh peneliti lain seperti konsep identity-protective cognition dari Dan Kahan dan koleganya, turut memperluas gagasan ini: ketika sebuah keyakinan terkait erat dengan identitas kelompok seseorang, menerima koreksi terhadap keyakinan itu terasa bukan sekadar memperbarui fakta melainkan tindakan pengkhianatan sosial yang berisiko membuatnya dikucilkan kelompoknya.

Di sinilah studi kasus yang diajukan menjadi relevan mengenai seorang teman yang benar-benar bersalah tetap dibela bukan karena kebenarannya diragukan melainkan karena keberadaan teman itu memberi manfaat bagi tujuan pribadi si pembela, entah itu keuntungan sosial, keuntungan finansial atau sekadar rasa aman karena tidak kehilangan sekutu. Dalam situasi ini, pembelaan bukan lagi soal keyakinan terhadap kebenaran melainkan kalkulasi kepentingan yang dibungkus bahasa moral.

Bernalar sebelum Bertindak

Membela sesuatu yang salah demi menjaga hubungan sosial bisa terasa nyaman dalam jangka pendek. Tapi, ia mengorbankan pihak ketiga demi mempertahankan ikatan emosional dengan satu pihak. Semakin sering pola ini diulang, semakin terbiasa pula seseorang menekan sinyal rasional demi kenyamanan sosial. Ini konsisten dengan temuan bahwa Sistem 2 memang cenderung pasif secara default dan hanya aktif bila ada dorongan kuat untuk memeriksa ulang penilaian cepat dari Sistem 1 sehingga tanpa latihan sadar untuk mempertanyakan diri sendiri, pola membela yang salah bisa menjadi kebiasaan yang makin sulit dipatahkan.

Membela merupakan konsekuensi dari arsitektur kognitif yang dijelaskan dengan cukup baik oleh riset psikologi selama beberapa dekade terakhir, seperti kecenderungan berpikir cepat dan intuitif (Kahneman; Stanovich & West), kecenderungan mengikat diri pada kelompok dan menjaga loyalitas terhadapnya (Dunbar; Haidt), serta kecenderungan menalar demi kesimpulan yang sudah diinginkan lebih dulu (Kunda). Memahami mekanisme ini membuka jalan untuk lebih sadar sebelum membela seseorang, penting untuk bertanya apakah yang sedang dipertahankan itu benar-benar kebenaran, atau sekadar kenyamanan emosional dan kepentingan pribadi yang dibungkus dengan kata kesetiaan.