Sepotong Martabak Manis untuk Mengguncang Pahitnya Kecemasan Eksistensi

Fandi Achmad Fahrezi
Fandi Achmad Fahrezi FKIP Pendidikan Sejarah Universitas Jember
Konten dari Pengguna
25 Maret 2024 8:58 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kilas Sejarah
Martabak Manis merupakan salah satu makanan favorit warga Indonesia yang tak lekang di lahap oleh zaman. Dibalik ketenaranya itu terdapat segudang cerita.
ADVERTISEMENT
Dimulai dari peperangan antar dinasti di cina yang menyebabkan beberapa suku Tionghoa menerima ajakan VOC melalui izin dari Sultan Mahmud Bacharuddin untuk di pekerjakan sebagai kuli dengan gaji yang rendah di Bangka. Salah dua suku yang dibawa oleh VOC adalah suku Hok Lo dan Hakka (khek). Kedua suku tersebut datang dengan membawa kebiasaan hidup mereka seperti berjudi dan minum-minuman keras. Ketika minimnya gaji bertemu dengan kebiasaan hidup yang tinggi maka melaratlah kehidupan suku khek.
Suku khek boleh saja kekurangan uang tapi tidak dengan akal, dengan bermodal sisa gandum, kacang merah dan biji wijen yang ada mereka menciptakan martabak di atas loyang Kuningan. Kecedasan suku khek tak sampai disitu, karena strata suku mereka terbilang rendah dibandingkan dengan Suku Hok Lo maka martabak itu mereka namakan Hok Lo Pan (Makanan Suku Hok Lo) dengan tujuan untuk mempermudah pemasaran.
ADVERTISEMENT
Martabak manis yang berasal dari Bangka kini telah menjajah seluruh daerah di Indonesia dengan rasa manisnya yang begitu memanjakan lidah. Selain rasa manisnya, ketenaran martabak manis juga disebabkan oleh mudahnya masakan ini beradaptasi. Di bandung ia dikenal dengan sebutan Martabak Bandung sedangkan di Jawa ia di kenal dengan Terang Bulan sebab ia dimasak hanya saat bulan sedang terang benderang atau karena bentuknya bulat serta warnanya coklat dan rasa manisnya yang menggambarkan bulan Purnama.
Kecemasan Eksistensi
pixabay.com
Sepotong Martabak Manis harusnya dapat mengentaskan kecemasan eksistensi bagi orang yang mempelajarinya. Krisis Eksistensi pada umumnya diawali dengan gejala kecemasan dan juga perasaan tidak nyaman tentang makna, pilihan, dan kebebasan dalam hidup. Kondisi ini membuat seseorang kehilangan suka cita sehingga menganggap hidup ini tidaklah berarti dan berujung dengan tindakan bunuh diri.
ADVERTISEMENT
Pada periode Januari-Juni 2023, POLRI melaporkan bahwa terdapat 663 kasus bunuh diri di Indonesia. Angka tersebut meningkat sebesar 36,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021 (486 kasus). Provinsi tertinggi angka bunuh diri adalah Jawa Tengah (253), Jawa Timur (128), Bali (61), dan Jawa Barat (39). Kasus bunuh diri kecenderungannya dipicu oleh gangguan kesehatan mental dengan beragam persoalan seperti kekerasan berbasis gender, perundungan, kekerasan siber dengan berbagai modus, penyakit sulit disembuhkan, tekanan ekonomi dan lain sebagainya.
Martabak Manis lahir di dalam bilik kepahitan hidup yang akhirnya memutuskan keluar dari kepahitan hidup dengan beradaptasi dan kembali merasakan manisnya hidup.
Martabak Manis tak ragu untuk beradaptasi di beberapa daerah dengan nama yang berbeda namun tetap dengan cita rasa yang sama.
ADVERTISEMENT
Martabak Manis juga tak ragu berinovasi dengan beberapa toping tertentu untuk menciptakan cita rasa penggoda indra pengecap yang membuatnya semakin di minati.
Ada Baiknya jika kita juga melahap nilai-nilai yang terkandung dalam martabak manis supaya terlepas dari pahitnya Kecemasan Eksistensi.
Sumber:
Brenda, Dewi Ayu (2021). Inovasi Kuliner Khas Bangka Belitung: Kulit Martabak Manis dari Tepung Kacang Merah, Jurnal sains terapan pariwisata.
jbptunikompp-gdl-mohammadso-37245-7-unikom_m-i.
https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/krisis-eksistensi/#google_vignette
https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-tentang-hari-kesehatan-jiwa-sedunia-2023