Akulturasi Budaya dan Toleransi di Balik Keunikan Masjid Cheng Ho

saya gemar dalam dunia seni dan budaya
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Herfansyah Putra Al Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akulturasi Budaya sebagai Pondasi Toleransi Antarumat Beragama
Masjid Cheng Ho bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Islam, tapi juga simbol nyata toleransi dan persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Berdiri megah di berbagai kota seperti Surabaya, Palembang, Samarinda, hingga Makassar, masjid ini memadukan arsitektur Tionghoa, Islam, dan budaya lokal. Dari luar, bangunannya mirip kelenteng dengan dominasi warna merah, hijau, dan kuning, lengkap dengan ornamen khas Tiongkok, namun di dalamnya menjadi pusat kegiatan keislaman dan sosial yang terbuka untuk siapa saja. Arsitektur Masjid Cheng Ho perpaduan Tiongkok dan Jawa
Keunikan Masjid Cheng Ho terletak pada semangat akulturasi yang diusung demi terwujudnya toleransi. Masjid ini dibangun sebagai penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim asal Tiongkok yang dikenal membawa misi damai dan persahabatan antar bangsa serta agama. Kehadiran masjid ini menjadi ruang bertemunya berbagai etnis dan agama, di mana masyarakat Tionghoa, pribumi, bahkan non-Muslim merasa diterima dan dihargai. Banyak warga non-Muslim yang ikut merayakan keberadaan masjid ini sebagai simbol Bhineka Tunggal Ika, di mana perbedaan bukan lagi sekat, melainkan jembatan persaudaraan.
Tak hanya menjadi tempat sholat, Masjid Cheng Ho juga sering mengadakan kegiatan sosial, edukasi, hingga forum dialog lintas agama. Hal ini memperkuat peran masjid sebagai perekat masyarakat dan ruang belajar toleransi bagi generasi muda. Bahkan, stigma dan prasangka antar etnis perlahan memudar karena kebiasaan berinteraksi dan beribadah bersama di lingkungan masjid.
Siapa sangka, di balik bangunan masjid yang mirip kelenteng ini, tersimpan kisah toleransi dan persaudaraan antar umat beragama? Masjid Cheng Ho, dengan arsitektur unik dan sejarah panjangnya, menjadi bukti nyata bahwa toleransi bisa tumbuh subur di tengah perbedaan.
Masjid Cheng Ho bukan hanya saksi sejarah, tapi juga inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk terus menjaga toleransi dan persatuan. Melalui akulturasi budaya dan keterbukaan, masjid ini mengajarkan bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan alasan untuk terpecah. Dari Masjid Cheng Ho, kita belajar bahwa hidup berdampingan dalam damai dan toleransi adalah warisan berharga yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lima Cara Menjaga dan Melestarikan Akulturasi Budaya dan Agama
Rutin Mengadakan Dialog Antarumat Beragama. Dengan sering mengadakan pertemuan dan diskusi antaragama, kita bisa saling mengenal lebih baik, menghilangkan prasangka, dan memperkuat rasa saling menghormati.
Memasukkan Pendidikan Multikultural di Sekolah dan Komunitas. Mengajarkan keberagaman budaya dan agama sejak dini di sekolah dan lingkungan sekitar akan menumbuhkan sikap toleransi dan rasa hormat pada perbedaan.
Melestarikan Warisan Budaya dan Tradisi Lokal. Menjaga bangunan bersejarah, seni, dan tradisi yang merupakan hasil perpaduan budaya akan membuat kita lebih menghargai akar dan keberagaman bangsa.
Mengadakan Kegiatan Sosial Bersama Berbagai Komunitas. Melalui kegiatan seperti kerja bakti, festival budaya, atau bakti sosial yang melibatkan banyak kelompok, kita bisa mempererat kebersamaan dan sinergi antarwarga.
Memanfaatkan Media Sosial untuk Menyebarkan Semangat Toleransi. Dengan berbagi cerita inspiratif dan edukasi tentang keberagaman lewat media sosial, kita bisa menjangkau lebih banyak orang dan mengajak mereka ikut menjaga harmoni.
