Konten dari Pengguna

Bukan Lagi Limbah, Mahasiswa HI UMM Ubah Kotoran Sapi Jadi Sarana Edukasi

Naufal Demelzha

Naufal Demelzha

Mahasiswa Hubungan Internasional UMM dan Peneliti Parrhesia Collective Academia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naufal Demelzha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anggota kelompok bersama anak-anak Dusun Dawuhan. Foto: Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Anggota kelompok bersama anak-anak Dusun Dawuhan. Foto: Dokumentasi pribadi.

Gelak tawa dan wajah-wajah penasaran memenuhi rumah Kepala Dusun Dawuhan, Desa Tegalgondo, Kabupaten Malang, pada akhir pekan lalu. Berbeda dari biasanya, kali ini anak-anak dusun tidak sedang bermain kelereng atau layangan. Mereka berkumpul, mengerumuni sekelompok mahasiswa dan dengan antusias belajar "bercocok tanam" menggunakan media yang tak biasa: olahan kotoran sapi.

Kegiatan unik ini merupakan bagian dari program sosialisasi yang digagas oleh delapan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional. Mereka memperkenalkan hasil inovasi dari program lingkungan mereka, yakni sebuah bundling sederhana media tanam siap pakai untuk menanam sawi pakcoy. Media tanam ini sepenuhnya terbuat dari pupuk organik hasil olahan limbah kotoran sapi.

Shafina Aprilia, salah satu anggota kelompok, menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan. "Jika sosialisasi ke peternak kami fokus pada nilai ekonomis dan solusi limbah, untuk anak-anak kami mengemasnya menjadi sebuah pengalaman bermain sambil belajar," tuturnya.

Dari Sungai Keruh Menjadi Media Botani

Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program utama yang telah mereka jalankan di Desa Tawangsari, Pujon. Di sana, mereka berhasil mengajak para peternak untuk berhenti membuang kotoran sapi ke sungai dan mulai mengolahnya menjadi pupuk kompos. Pupuk inilah yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi media tanam praktis.

"Kami ingin menunjukkan siklus penuhnya. Limbah yang tadinya mencemari sungai di Tawangsari, kini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menghasilkan sayuran sehat di tangan anak-anak Tegalgondo," jelas Nizar Hafizh Hanan, koordinator kelompok.

Dalam sosialisasi tersebut, anak-anak diajarkan secara langsung cara menggunakan bundling media tanam. Mulai dari membuka kemasan, memasukkan benih pakcoy, hingga cara menyiramnya. Awalnya, beberapa anak sempat ragu saat mendengar media tanam itu berasal dari kotoran sapi.

"Tadinya aku kira bau, Kak. Ternyata tidak bau sama sekali, seperti tanah biasa," celetuk Raka (9), salah seorang peserta, sambil asyik memasukkan benih ke dalam polibag kecilnya.

Menanam Pakcoy, Memanen Kepedulian

Para mahasiswa berharap, setiap polibag pakcoy yang dibawa pulang oleh anak-anak tidak hanya akan menghasilkan sayuran untuk keluarga. Lebih dari itu, mereka berharap benih kepedulian terhadap lingkungan ikut tertanam dan tumbuh subur.

"Ini bukan sekadar menanam pakcoy. Ini adalah cara kami mengenalkan konsep daur ulang, tanggung jawab, dan cinta lingkungan dengan cara yang paling mudah mereka pahami. Melihat tanaman mereka tumbuh setiap hari akan menjadi pengingat nyata bahwa merawat alam itu seru dan bermanfaat," tutup Nizar.

Keceriaan anak-anak Dusun Dawuhan hari itu menjadi bukti bahwa edukasi lingkungan tidak harus selalu rumit dan menggurui. Terkadang, ia bisa sesederhana satu genggam media tanam dan sebutir benih harapan.