Konten dari Pengguna

Implikasi Kenaikan BI Rate 100 Bps: Solusi Jangka Pendek, Beban Jangka Panjang?

Farel Saputra

Farel Saputra

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farel Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Trading Economics
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Trading Economics

Sepanjang pertengahan tahun, Bank Indonesia telah agresif melakukan kebijakan moneter kontraktif dengan cara menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 100 basis poin, dari 4,75% menjadi 5,75%. Kenaikan tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, hingga akhirnya rupiah sempat menembus angka Rp18.074 per dolar AS. Langkah agresif tersebut menandai berakhirnya masa penahanan suku bunga selama delapan bulan berturut-turut. Kebijakan tersebut ditempuh untuk meredam gejolak pasar akibat tekanan global dan aksi spekulatif terhadap mata uang rupiah.

Menurut Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sudah sesuai dengan mandat Undang-Undang yang berlaku, yakni menjaga stabilitas mata uang Rupiah. Kebijakan tersebut dinilai efektif dalam menstabilkan sistem keuangan domestik, menarik modal asing, dan menstabilkan inflasi. Bagi otoritas moneter, hal tersebut merupakan sesuatu pencapaian serta bukti komitmen bahwa Bank Indonesia mampu meredam gejolak pasar global dan spekulatif pada mata uang rupiah.

Dibalik keberhasilan dalam menstabilkan rupiah, muncul kekhawatiran yang lebih mendalam. Menurut Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede kenaikan suku bunga akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan perekonomian. Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) yang masif akan berpotensi menaikkan biaya pendanaan (cost of fund) pada industri perbankan, yang akan terefleksi pada perlambatan kredit serta kenaikan pada beban bunga kredit. Tekanan tersebut turut mempengaruhi sektor riil perekonomian, seperti konsumsi rumah tangga yang tertekan, investasi yang terhambat, dan penyaluran pendanaan kredit berisiko melambat. Dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat akibat kenaikan suku bunga seperti meningkatnya cicilan pada utang berbunga dan menggerus daya beli masyarakat.

Pada akhirnya, kenaikan suku bunga 100 basis poin secara masif merupakan contoh dilema kebijakan moneter: hal tersebut efektif meredam gejolak dalam jangka pendek seperti menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, namun berpotensi meninggalkan beban struktural jangka panjang seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi. Kebijakan suku bunga tinggi jika dipertahankan dalam jangka waktu yang lama tanpa diimbangi dengan kebijakan fiskal pada sektor riil akan melemahkan daya beli masyarakat ke depannya dan memicu stagflasi yang berkepanjangan.