Konten dari Pengguna

Pandemi COVID-19: Seperti Apa Wajah Baru Gudang Ilmu Anak Bangsa Ini?

Selvina Dwi Wahyuningrum

Selvina Dwi Wahyuningrum

Staf administrasi yang gemar menulis dan berbagi perspektif tentang kehidupan sehari-hari.

·waktu baca 5 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvina Dwi Wahyuningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumen Pribadi Penerapan Digital Library di Masa Pandemi COVID-19
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumen Pribadi Penerapan Digital Library di Masa Pandemi COVID-19

Apa arti sebutan dari istilah gudang ilmu?

Apakah suatu tempat yang kotor, berdebu, dan kumuh?

Tentu tidak..

Istilah gudang ilmu sering digunakan untuk perpustakaan. Munculnya virus mematikan ini membatasi kegiatan masyarakat sehari-hari. Dampak tersebut juga dirasakan oleh lembaga informasi khususnya pada lembaga perpustakaan. Perpustakaan berbondong-bondong mengubah pelayanannya ke wajah ideal baru berupa perpustakaan digital. Hal itu, sangat menyimpang pergerakan pelayanan perpustakaan yang dulunya beroperasi secara manual sekarang terpaksa beralih operasi menggunakan media online. Perpustakaan digital saat ini menjadi sarana penting guna menyediakan informasi dan wawasan pengetahuan yang luas bagi seluruh masyarakat untuk dapat mengakses, seperti e-books dan e-journals. Pemerintah berharap di masa pandemi COVID-19, masyarakat dapat tetap memanfaatkan pelayanan digital library ini untuk membantu dalam penyediaan segala informasi yang dibutuhkan.

Pasti akan timbul problem di masyarakat, apakah perpustakaan digital menimbulkan permasalahan bagi kelancaran para penggunanya?, Jawabannya tentu iya.

Permasalahan seperti keterbatasan fasilitas dan media akses, serta rendahnya pemahaman masyarakat mengenai teknologi informasi pasti akan muncul di lingkungan masyarakat. Masyarakat akan sering menggerutu mengenai kuota, fasilitas media yang digunakan karena mereka tidak memilikinya, bahkan masyarakat yang awam dan buta terhadap perkembangan teknologi akan merasa kesulitan sehingga malas membaca dan mengakses perpustakaan digital. Hal tersebut, perlu ditanamkan mindset baru kepada masyarakat bahwa di masa pandemi saat ini aktivitas yang mereka lakukan bukan hanya untuk rebahan, yang menimbulkan stigma di masyarakat bahwa pandemi COVID-19 akan melahirkan istilah kaum rebahan, yang sering menghabiskan waktu untuk bermain gadget tanpa tahu fungsi penggunaan yang bermanfaat. Padahal mereka dapat mengasah otak mereka dengan mengakses serta menyalurkan pengetahuan dan wawasan yang mereka punya dengan memanfaatkan teknologi perpustakaan digital.

Lalu, bagaimana upaya untuk permasalahan mengenai keterbatasan fasilitas dan media akses?

Dalam kondisi saat ini agar sistem informasi pada perpustakaan dapat berjalan lancar guna memenuhi kebutuhan dapat melalui upaya menerapkan teknologi untuk perpustakaan digital dengan menyajikan informasi yang up to date dan tentunya tepercaya, sehingga tidak terjadi ketimpangan sosial dalam lingkup globalisasi. Selain itu, pemerintah perlu bergerak dalam menyalurkan fasilitas gadget, tablet, serta komputer. Pemerintah dapat menyalurkan bantuan dari kota besar maupun terpencil, berupa komputer bagi sekolah-sekolah yang kekurangan media elektronik tersebut.

Bagi wilayah terpencil, dapat disalurkan melalui lingkungan pedesaan dengan menyediakan fasilitas computer dan tablet agar anak-anak yang tidak memiliki dapat memanfaatkan yang telah disediakan. Dalam mengakses perpustakaan digital serta untuk men-download e-books dan e-journals tentu memerlukan jaringan internet berupa kuota yang cukup besar. Ketersediaan kuota yang besar akan mempermudah dalam pengaksesan peminjaman buku online. Masyarakat juga harus mengantisipasi apabila ada gangguan sinyal saat mengaksesnya.

Untuk itu, masyarakat dalam membuka situs perpustakaan digital membutuhkan bantuan kuota gratis dari pemerintah. Kuota tersebut hanya dapat digunakan untuk mengakses peminjaman e-books dan e-journals saja, sehingga masyarakat tidak mengalihfungsikan kegunaan kuota gratis yang telah diberikan pemerintah untuk bermain game online, mengakses konten-konten yang negatif, dan lain sebagainya.

Dan, bagaimana solusi mengenai permasalahan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap teknologi informasi?

Mengenai hal tersebut, perlunya sosialisasi mengenai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan penyebaran yang merata di seluruh Indonesia. Pemerintah mungkin dapat memberikan tayangan edukasi melalui media elektronik, seperti televisi untuk menyediakan materi pembelajaran interaktif mengenai pengunaan TIK serta manfaatnya. Pemerintah juga perlu menyalurkan dana untuk memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi tersebut.

Pemerintah seharusnya dapat mengayomi masyarakat dalam memberikan pengajaran mulai dari cara mengoperasikan teknologi informasi, agar masyarakat Indonesia dapat terus mengikuti perkembangan zaman dan tidak tertinggal oleh negara-negara maju lainnya. Sebab Indonesia dapat dikatakan sebagai negara maju jika pemikiran masyarakatnya sendiri mengalami kemajuan dan perkembangan.

Kita juga dapat memberikan motivasi dan support agar seluruh masyarakat mau untuk belajar dan terus belajar, karena pengetahuan perlu digali dan dikembangkan sebagaimana mestinya. Serta masyarakat Indonesia harus dipaksa untuk mau melek (tidak tidur) dan mau menelan perkembangan teknologi informasi yang ada, agar Negara Indonesia tidak dijuluki sebagai negara kuno dan ketinggalan zaman.

COVID-19 mewajibkan serta menguras tenaga dan pikiran masyarakat mengenai penggunaan sistem serba digital, sehingga memaksa jiwa kita untuk harus mengakses perpustakaan digital sebagai sarana penunjang pengetahuan masyarakat. Hambatan dan permasalahan akan muncul karena wajah baru pelayanan perpustakaan yang memiliki keterbatasan dalam hal pengaksesan. Gangguan pada sinyal akan sering menghantui masyarakat dikarenakan pandemi ini menyebabkan WFH (Work From Home), sehingga berjuta-juta orang akan beramai-ramai menggunakan internet, sehingga keberhasilan layanan perpustakaan digital tidak dapat berjalan dengan baik.

Pihak pemerintah dan lembaga informasi harus mampu berinovasi dan bekerjasama untuk menyediakan materi edukasi dan informasi yang aktual kepada masyarakat dengan cara digital pula. Jangan jadikan perubahan sosial ini sebagai alasan untuk berpangku tangan dalam hal belajar, karena lembaga pelayanan informasi pasti akan memberikan informasi yang terkini dan populer yang nantinya bermanfaat dan berguna bagi masyarakat khususnya masyarakat bangsa Indonesia.

Tanamkan semangat membaca sejak dini pada diri sendiri, karena sejatinya perpustakaan adalah gudang ilmu bagi anak-anak bangsa.

Apakah mindset masyarakat bisa diubah?

Tentu...

"Gunakan otak kita untuk berpikir. Jangan jadikan otak kita seperti halnya daun berguguran yang tertiup angin kencang".

Oleh:

Selvina Dwi Wahyuningrum

Mahasiswa D-III Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya