Di Balik Perilaku Bullying Siswa SD: Memahami Fenomena Latchkey Children
Tulisan dari Agnia Bukhori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Lah, abangku kalau main sama teman-temannya juga ngomongnya begitu.”
Kalimat itu masih saya ingat hingga sekarang, pada waktu itu ketika saya mendampingi seorang siswa kelas 1 sekolah dasar di sebuah sekolah Islam terpadu saat liburan semester. Ia dikenal aktif, sulit diatur, kerap mengejek, berkata kasar, bahkan tiba-tiba melakukan kontak fisik dengan teman-temannya.
Sebagai pengajar, saya tidak boleh lengah sedikit pun. Ketika perhatian teralihkan, bisa saja ada siswa lain yang menangis karena perilakunya. Keluhan dari beberapa orang tua pun beberapa kali disampaikan kepada sekolah.
Suatu hari, ibunya menitipkan donat melalui petugas keamanan tanpa sempat menemuinya. Anak itu menangis dan marah karena ingin melihat ibunya, sementara sang ibu harus segera pergi. Saya mencoba mendekatinya dan mengajaknya berbicara lebih jauh untuk memahami kesehariannya, bukan sekadar menilai perilakunya di sekolah.
Dari percakapan tersebut, saya mengetahui bahwa ibunya bekerja sejak pagi dan biasanya baru pulang malam. Anak itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama kakaknya yang juga masih duduk di bangku sekolah dasar. Keseharian mereka diisi dengan bermain gim daring dan menggunakan ponsel tanpa pengawasan orang dewasa.
Ia bahkan kerap menahan lapar sambil menunggu ibunya pulang kerja. Ketika saya bertanya tentang kebiasaannya berbicara kasar, ia menjawab bahwa kakaknya juga berbicara seperti itu saat bermain dengannya dan teman-temannya.
Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa ada bagian dari kehidupan anak yang tidak selalu terlihat oleh guru di sekolah. Saya teringat pada fenomena latchkey children, yaitu anak-anak yang menghabiskan sebagian waktunya tanpa pengawasan langsung orang dewasa, misalnya ketika orang tua masih bekerja. Istilah ini menggambarkan situasi pengasuhan, bukan label bagi anak nakal.
Sorotan Studi 'Home Alone'
Fenomena ini juga dibahas oleh Shreyasi Bhattacharya dalam penelitian berjudul 'Home Alone': Plight of Children in Indian Dual-Career Families yang diterbitkan pada 2024. Penelitian tersebut mengamati aktivitas anak usia sekolah di India ketika orang tua mereka bekerja dan anak menghabiskan waktu sepulang sekolah tanpa pengawasan langsung.
Penelitian itu menyoroti bagaimana waktu luang yang kurang terarah dapat membuka peluang bagi anak untuk terlibat dalam aktivitas berisiko. Meski demikian, penelitian tersebut tidak secara khusus membuktikan bahwa situasi latchkey children menyebabkan bullying.
Dalam pengalaman yang saya temui, anak tersebut banyak menghabiskan waktu bersama kakaknya. Ketika kata-kata kasar menjadi hal yang biasa didengar dalam pergaulan, anak dapat menirunya tanpa sepenuhnya memahami dampaknya.
Namun, saya tidak bisa menyimpulkan bahwa kesibukan ibunya merupakan penyebab perilaku tersebut. Lingkungan pertemanan, kebiasaan sehari-hari, dan pengalaman anak juga perlu diperhatikan.
Penanganan yang Konsisten
Bullying perlu ditangani dengan tegas, bukan dianggap sebagai candaan biasa. Anak perlu belajar bahwa mengejek, berkata kasar, dan menyakiti teman dapat menimbulkan rasa takut serta membuat orang lain merasa tidak aman. Guru perlu menghentikan perilaku tersebut, melindungi siswa yang menjadi sasaran, dan membimbing pelaku agar memahami akibat tindakannya.
Penanganan tidak cukup hanya dengan teguran, tetapi juga membutuhkan pendampingan yang konsisten. Ketika mendampingi anak tersebut belajar membaca, saya melihat bahwa ia tetap mau mengikuti kegiatan saat didekati dengan sabar. Padahal, menurut guru yang lebih lama mengenalnya, ia sering sulit diajak belajar membaca.
Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa anak yang sulit diatur bukan berarti tidak bisa dibimbing. Ia tetap membutuhkan batasan yang jelas, perhatian, dan kesempatan untuk memperbaiki perilakunya.
Keluarga dan sekolah perlu bekerja sama. Orang tua dapat membangun kedekatan melalui percakapan sederhana, memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi, serta memberi arahan tentang cara memperlakukan orang lain. Jika orang tua harus bekerja hingga malam, pendampingan dari orang dewasa tepercaya dapat membantu anak merasa lebih aman.
Sekolah juga perlu menanamkan empati, tanggung jawab, dan sikap menghargai sesama. Nilai-nilai ini sejalan dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), yang tidak cukup dihafalkan, tetapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena latchkey children mengajak kita melihat kehidupan anak secara lebih utuh. Memahami latar belakangnya bukan berarti membenarkan bullying ataupun mengabaikan perasaan korban. Anak tetap perlu bertanggung jawab atas tindakannya, sementara keluarga dan sekolah perlu memastikan bahwa ia mendapat pendampingan yang sehat.
Sebab, menghentikan bullying bukan hanya tentang menegur anak yang menyakiti, tetapi juga membimbingnya agar belajar menghargai orang lain.

