Konten dari Pengguna

Lunturnya Bahasa Jawa Sebagai Bahasa Sehari-hari

Attiyyatu sadiyah

Attiyyatu sadiyah

Mahasiswi Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Attiyyatu sadiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi budaya jawa. foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi budaya jawa. foto: pixabay

"Orang jawa kok tidak bisa bahasa Jawa” ucapan itu yang sering saya dengar ketika saya diminta untuk berbicara bahasa Jawa, khususnya bahasa Jawa Krama.

Banyak dari generasi muda sekarang seperti saya juga, ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua itu lebih suka menggunakan bahasa Indonesia. Karena menurut saya kalau tidak bisa bahasa Jawa yang baik ya lebih baik menggunakan bahasa Indonesia karena terkesan lebih sopan saja. Faktor yang membelakangi itu semua juga adalah karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bahasa Jawa itu sendiri.

Saya sering mendapati anak kecil zaman sekarang khususnya di Jawa Timur, kalau berbicara kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia, tidak lagi berbahasa Jawa. Kenapa hal itu bisa terjadi? Saya rasa kembali lagi kepada cara pengajaran masing-masing orang tua ketika mengajarkan bahasa pada anak-anaknya.

Bukan berarti saya tidak setuju dengan penggunaan bahasa Indonesia sejak dini, tetapi seharusnya selain mengajarkan bahasa Indonesia, orang tua juga harus mengajarkan bahasa Jawa atau bahasa daerah lain kepada anak-anaknya, agar bahasa daerah itu tetap ada dan tidak hilang.

Sebenarnya di dalam bahasa Jawa itu sendiri memiliki etika dalam pengajaran dan penggunaannya. Sehingga orang yang menggunakan bahasa Jawa akan terbentuk sikap dan perilakunya dengan baik. Maka menurut saya ketika bahasa Jawa itu luntur dari kehidupan sehari-hari masyarakat, etika bersikap pun juga ikut luntur.

Oleh karena itu generasi muda memiliki tugas untuk melestarikan budaya bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita lestarikan budaya bahasa daerah, tidak hanya bahasa Jawa saja tetapi bahasa daerah yang lain juga harus kita lestarikan, agar generasi selanjutnya dapat menikmati dan dapat melihat budaya nenek moyang kita. Hingga mereka akan berpikir untuk melestarikannya juga. Siapa lagi yang akan melestarikannya kalau bukan kita. Jangan sampai menunggu budaya kita hilang atau di nyatakan oleh negara lain baru kita mau peduli.

Oleh: Attiyyatu Sa'diyah_Jurusan Akuntansi_Universitas

Muhammadiyah Malang.