Konten dari Pengguna

Ketika Pneumonia Terlambat Didiagnosis: Ancaman Serius bagi Anak

Alya Safira

Alya Safira

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Safira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Seorang tenaga kesehatan sedang melakukan konsultasi dengan orang tua di ruang pemeriksaan sebagai langkah awal diagnosis pneumonia pada anak. Sumber : Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Seorang tenaga kesehatan sedang melakukan konsultasi dengan orang tua di ruang pemeriksaan sebagai langkah awal diagnosis pneumonia pada anak. Sumber : Dokumentasi pribadi

Pneumonia adalah salah satu jenis penyakit pada paru-paru yang terjadi akibat infeksi oleh mikroorganime seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit. Menurut Wati (2020) setiap tahun, ada sekitar 921.000 kanak-kanak di bawah lima tahun yang kehilangan nyawa dan lebih dari 95% dari jumlah kematian ini berlaku di negara-negara yang mempunyai pendapatan rendah dan sederhana. Memahami faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena infeksi pneumonia itu penting, karena setiap kelompok orang bisa mengalami tingkat keparahan yang berbeda beda, mulai dari ringan, berat, hingga kondisi yang dapat mengancam nyawa.

Pada tahun 2019, Unicef Indonesia (2023) mencatat bahwa pneumonia adalah penyebab terbesar kematian di khalangan anak-anak, dengan angka mencapai 36%. Kemenkes RI (2013) mengatakan Pneumonia di Indonesia menunjukkan kecenderungan peningkatan, dengan prevalensi periode untuk semua usia meningkat dari 2,1% pada tahun 2007 menjadi 2,7% pada tahun 2013. Kasus pneumonia yang tinggi paling banyak ditemukan pada anak-anak usia 1-4 tahun, dan kembali menungkat pada kelompok usia 45-54 tahun. Berdasarkan karakteristik, pneumonia pada balita lebih sering dialami oleh anak laki-laki.

Anak-anak lebih gampang terkena pneumonia dikarenakan saluran napas mereka yang berukuran kecil, lebih tebal, dan lebih tegak dibandingkan orang dewasa serta sistem pertahanan saluran pernapasan yang masih berkembang. Risiko yang ada seperti gizi anak dapat mempengaruhi terjadinya pneumonia jika gizinya kurang baik karena nutrisi memiliki peran penting dalam pertumbuhan, pemeliharaan, dan ekspresi sistem kekebalan tubuh. Gejala yang paling umum terjadi adalah takipnea dan retraksi pada dada. Tanda-tanda lainnya mencakup demam, hipoksenia, sianosis pusat, bunyi crackles, serta gejala yang berhubungan dengan kondisi mental (ketidaksadaran, kebingungan, keletihan), ketidakmampuan kepala, mengi, dan muntah yang berkepanjangan.

Rendahnya deteksi dini pneumonia salah satunya disebabkan oleh belum optimalnya program skrining serta terbatasnya akses terhadap teknologi diagnostic yang canggih. Selain itu, kurangnya pengetahuan orang tua dan keterbatasan sumber daya fasilitas kesehatan, serta kurangnya pelatihan tenaga kesehatan dala, melakukan skrining secara efektif juga memperkuat kesenjangan ini. Akibatnya, sebagian besar kasus pneumonia tidak teridentifikasi secara dini dan pengobatannya pun menjadi terlambat, yang berdampak pada peningkatan angka komplikasi dan kematian. Deteksi dini pneumonia di tingkat komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, termasuk mendorong rujukan ke fasilitas kesehatan dan memprcepat penangatan sehingga mengurangnya angka komplikasi dan kematian.

Referensi

Aini, N., Rakasiwi, M. I. D., Riyanto, I., & Huda, M. A. (2024). Pengenalan awal pneumonia komunitas risiko tinggi yang berkembang menjadi sepsis pada pasien geriatri renta: Sebuah laporan kasus. Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, 2(1), 52–63. https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/download/29952/16390. Diakses pada Rabu, 1 April 2026 pukul 19.37 WIB

Aprilia, R., & Faisal, F. (2024). Tinjauan literatur: Faktor risiko dan epidemiologi pneumonia pada balita. Scientific Journal, 3(3), 166-173. https://share.google/JSagSBGeNRFC9SY3K. Diakses pada Rabu, 1 April 2026 pukul 22.05

Az-Zahra Putri Wildani, D., Putri, M., & Risanti, R. (2022). Suplementasi Zinc dalam Penyembuhan Gejala Pneumonia pada Anak. Bandung Conference Series: Medical Science, 2(1), 857-866. https://proceedings.unisba.ac.id/index.php/BCSMS/article/download/1790/696. Diakses pada Rabu, 1 April 2026 pukul 21.37 WIB

Kurniawan, A. A., Baharna, H. D., & Suri, R. M. (2025). Model Deep Learning untuk Deteksi Pneumonia Studi Eksperimen Menggunakan CNN Arsitektur VGG16. Jurnal Informatika Medis (J-INFORMED), 3(2), 6-11. https://www.ejournal.ummuba.ac.id/index.php/JINFORMED/en/article/download/3847/1866. Diakses pada Rabu, 1 April 2026 pukul 21.16 WIB

Safitri, A., Priska Alya, N., Salsabila, S., Fauzi, H., & Ariyanto, J. (2025). Kematian anak akibat pneumonia: Tinjauan literatur tentang peran deteksi dini dan intervensi medis. GALENICAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 4(4). https://ojs.unimal.ac.id/galenical/article/view/22457/9815. Diakses pada Rabu, 1 April 2026 pukul 19.30 WIB