Tergerusnya Kearifan Lokal Bali Kehilangan Jati Dirinya

Mahasiswi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ni Kadek Fera Arianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bali, pulau yang dulunya dikenal sebagai miniatur peradaban adiluhung dengan ribuan pura dan kekayaan tradisi, kini berada pada titik balik sejarah yang kritis. Proses globalisasi dan modernisasi telah menghadapkan masyarakat Bali pada transformasi fundamental yang secara sistematis mengikis identitas kultural yang telah diwariskan turun-temurun.
Pariwisata, meskipun berkontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi, telah menjadi instrumen utama degradasi kearifan lokal. Konsep filosofis "tri hita karana" - yang menekankan keseimbanganharmonis antara manusia, alam, dan ranah spiritual - kini telah terdegradasi menjagai komoditas ekspresif belaka. Upacara sakral yang semula memiliki kedalaman mistis filosofis kini telah ditransformasi menjadi pertunjukan komersial yang dirancang untuk mengonstruksi daya tarik wisata.
Fenomena marginalisasi budaya tampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali kontemporer. Generasi muda mengalami diskontinuitas kultural yang signifikan, ditandai dengan memudarnya penguasaan bahasa daerah, melemahnya sistem gotong royong tradisional, dan memudarnya solidaritas sosial komunal. Lanskap geografis pun mengalami metamorfosis radikal; kawasan persawahan produktif yang pernah menjadi simbol kosmologi pertanian telah digantikan oleh infrastruktur pariwisata - hotel, pusat perbelanjaan, dan fasilitas hiburan. Sistem sosial adat yang selama berabad-abad menjadi fondasi struktural masyarakat Bali, seperti institusi "banjar" dan "subak", kini hanya tinggal arsip historis. Upacara sakral sekarang dialihfungsikan menjadi pertunjukan, ritual suci kehilangan dimensi transendental, spiritual dijual sebagai produk wisata. Mekanisme pengambilan keputusan kolektif yang berbasis musyawarah kekeluargaan secara perlahan terdesak oleh individualisme dan kepentingan modal. Permasalahan ini tidak hanya sekadar isu ekonomi atau pariwisata, melainkan krisis eksistensial peradaban. Bali menghadapi tantangan fundamental: mempertahankan integritas kultural dalam pusaran globalisasi yang tidak peduli.
Meskipun demikian, optimisme tetap tersimpan dalam semangat sebagian elemen masyarakat Bali yang konsisten melakukan resistensi kultural. Gerakan pemuda yang fokus pada pelestarian bahasa, seni, dan tradisi mulai bermunculan, menghadirkan secercah harapan di tengah arus deras homogenisasi global. Upaya sistematis dan komprehensif mutlak diperlukan. Pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu segera merancang intervensi strategis, mencakup:
1. Rekonstruksi pendidikan yang berbasis kearifan lokal
2. Perlindungan konkret terhadap ruang-ruang tradisional
3. Penguatan kembali struktur sosial dan nilai-nilai budaya asli
4. Pengembangan model pariwisata berkelanjutan yang menghormati identitas kultural
Bali bukanlah sekadar destinasi wisata global, melainkan miniatur peradaban yang menyimpan kompleksitas filosofis dan kearifan mendalam. Dengan adanya keadaan ini kita tidak bisa menyalahkan satu dengan yang lainnya, kita sebagai masyarakat Bali harus bekerja sama untuk menemui sebuah solusi dan melewati tantangan yang ada. Tantangannya adalah membangun jembatan dialogis antara tradisi dan modernitas tanpa kehilangan substansi kultural. Proses preservasi identitas memerlukan kesadaran kolektif, komitmen lintas generasi, dan pendekatan integratif yang menempatkan warisan budaya sebagai aset peradaban, bukan sekadar komoditas pariwisata.
Ni Kadek Fera Arianti, Mahasiswi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha
