Konten dari Pengguna

Transformasi Pariwisata Nusa Penida Memengaruhi Kesucian Pura Goa Giri Putri

Ni Kadek Fera Arianti

Ni Kadek Fera Arianti

Mahasiswi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ni Kadek Fera Arianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pura Goa Giri Putri tempat pemujaan dewa Siwa berupa manifestasi dewi. Sumber foto: dokumentasi penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Pura Goa Giri Putri tempat pemujaan dewa Siwa berupa manifestasi dewi. Sumber foto: dokumentasi penulis.

Pura Goa Giri Putri adalah sebuah Pura dengan nuansa yang amat sakral yang terletak di pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali. Pura yang terletak di dalam sebuah goa, pura Goa Giri Putri ini adalah tempat untuk pemujaan dewa Siwa berupa manifestasi dewi yang bersifat merawat, melindungi, serta mencintai manusia. Goa ini tidak hanya menjadi tempat sembahyang umat Hindu, tetapi juga sebagai destinasi wisata religi yang menarik bagi wisatawan karena semakin berkembangnya Pariwisata di Nusa penida. Arus globalisasi dan moderasi telah menempatkan masyarakat Bali khususnya Nusa Penida pada titik balik yang kritis, di mana nilai-nilai luhur leluhur mulai terkikis oleh pesatnya zaman. Pura Goa Giri Putri yang penuh dengan makna spiritual kini menjadi objek wisata.Nusa Penida semakin hari kini mengalami transformasi fundamental yang mengikis identitas budaya aslinya, di mana perkembangan teknologi dan pariwisata massif telah menggerus karifan lokal dan kesucian spiritual yang selama ini menjadi karakteristik utama pura.

Kompleksitas perubahan tersebut terlihat dari degradasi ruang-ruang sakral seperti pura Goa Giri Putri yang kian diperlakukan sebagai komoditas wisata, di mana nilai-nilai spiritual tradisional semakin tereduksi oleh kepentingan ekonomi dan konsumerisme global. Teknologi digital dan arus informasi tanpa batas telah mengubah cara pandang masyarakat, melemahkan ikatan komunal dan tradisi leluhur, sementara pariwisata yang semula dimaksudkan untuk memperkenalkan kebudayaan justru berperan dalam proses komodifikasi dan westernisasi yang mengancam orisinalitas budaya Bali. Akibatnya, pura Goa Giri Putri tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang spiritual murni, melainkan telah bermetamorfosis menjadi objek fotografi, dan destinasi wisata yang kehilangan makna sakralnya.

Terjadinya transformasi ini mengkibatkan munculnya berbagai tantangan multikultur terhadap kebudayaan Masyarakat setempat. Pariwisata ini mempertemukan dua interaksi yang berbeda, dari pihak wisatawan asing dan warga lokal. Walaupun mereka disewakan kamen untuk masuk kedalam pura, tetap saja mereka mengenakan baju kaos bahkan ada yang mengenakan baju kaos yang pendek/crop top, sedangkan kita warga lokal saja masuk kepura mengenakan baju kebaya dan kamen, hal ini yang harus dipertimbangkan.

Wisatawan yang berkunjung. Sumber foto: Google Maps.

Sebagai bukti nyata Umat Hindu dari berbagai daerah datang ke Nusa penida untuk nangkil (sembahyang) di pura Goa Giri Putri, namun saat mereka sembahyang ada beberapa wisatawan asing yang berlalu lalang didepan mereka, seharusnya mereka sembahyang dengan tenang dan fokus tanpa adanya gangguan tetapi terganggu karena wisatawan asing tersebut. Transformasi ini membawa dampak yang cukup signifikan terhadap kebudayaan, nuansa spiritual yang ada di pura Goa Giri Putri ataupun lingkungan sekitarnya.

Hal ini harus diperhatikan, agar fungsi dan kesucian pura tidak tergeser akibat adanya kepentingan pariwisata. Kita tidak bisa menyalahkan pengelola pura dan Masyarakat, pada permasalahan ini penting adanya kolaborasi antara pengelola dan Masyarakat untuk menjaga kesucian dan nuansa spiritual pura. Pada dasarnya jika bukan kita yang menjaga milik kita siapa lagi yang akan menjaganya, dengan pengelolaan yang baik tanpa adanya pengorbanan dari aspek manapun adalah sumber untuk kita menjaga keselarasan dan keharmonisan budaya, tradisi dan, peninggalan peninggalan yang diberikan.

Ni Kadek Fera Arianti, Mahasiswi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha.