Konten dari Pengguna

Bisakah Anak Muda Punya Rumah?

Muhammad Raffi Hidayat

Muhammad Raffi Hidayat

Muhammad Raffi Hidayat adalah mahasiswa jurusan hukum di universitas pamulang, universitas terbaik ke 2 se-banten, indonesia. ia lahir di parung panjang, Bogor, pada tanggal 20 september 2005.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Raffi Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/white-and-brown-concrete-bungalow-under-clear-blue-sky-210617/
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/white-and-brown-concrete-bungalow-under-clear-blue-sky-210617/

Anak muda, sebutlah mereka yang terlahir dari generasi Z dan milenial memiliki mimpi yang cenderung tampak sederhana namun menjadi kompleks seiring berjalannya waktu dan kondisi ekonomi. Anak muda menginginkan rumah sebagai tempat tinggal mereka sendiri.

Jika kita melihat rata-rata gaji yang diterima generasi muda, juga dengan asumsi gaji UMR, apakah memungkinkan bagi generasi muda mempunyai properti mereka sendiri?

Kalau begitu, generasi yang lebih tua berarti mendominasi kepemilikan rumah? Mereka adalah generasi yang lebih beruntung. Benar nyatanya generasi milenial pun rupanya masih sedikit yang memiliki rumah, menyudutkan kesempatan generasi Z ke dalam ruang yang lebih kecil lagi.

Generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, dihadapkan pada tantangan besar dalam kepemilikan rumah di masa depan. Beberapa fakta yang perlu dipertimbangkan dalam meninjau masa depan kepemilikan rumah bagi Generasi Z adalah sebagai berikut:

  • Kenaikan Harga Properti: Harga properti terus meningkat, sementara pendapatan relatif stagnan. Menurut data dari Bank Indonesia, harga properti di Indonesia naik rata-rata 3,73% per tahun, sementara kenaikan upah hanya sekitar 2-3% per tahun. Hal ini membuat semakin sulit bagi Generasi Z untuk membeli rumah.

Photo by Monstera Production: https://www.pexels.com/photo/graph-with-increasing-euro-profitable-investment-6289026/
  • Beban Utang: Generasi Z dihadapkan pada beban utang yang tinggi akibat biaya pendidikan yang semakin mahal. Banyak dari mereka lulus dari perguruan tinggi dengan utang yang besar, sehingga sulit untuk memenuhi persyaratan kredit rumah.

Photo by RDNE Stock project: https://www.pexels.com/photo/gray-calculator-and-black-magnifying-glass-on-brown-wooden-surface-7821685/
  • Perubahan Gaya Hidup: Generasi Z cenderung memiliki gaya hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya. Banyak dari mereka lebih memilih untuk tinggal di kota besar dan menikmati fleksibilitas yang ditawarkan oleh sewa rumah atau apartemen, daripada membeli rumah di pinggiran kota.

Photo by Aleksejs Bergmanis: https://www.pexels.com/photo/high-angle-photography-of-high-rise-buildings-near-road-during-golden-hour-681331/
  • Tantangan Ekonomi: Pandemi COVID-19 telah meningkatkan ketidakpastian ekonomi, yang dapat mempengaruhi kemampuan Generasi Z untuk membeli rumah di masa depan.

Photo by cottonbro studio: https://www.pexels.com/photo/woman-holding-sign-3951615/

Dengan mempertimbangkan fakta-fakta di atas, masa depan kepemilikan rumah bagi Generasi Z nampaknya penuh dengan tantangan. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk membantu Generasi Z memiliki rumah di masa depan antara lain adalah meningkatkan literasi keuangan, berinvestasi secara cerdas, dan mempertimbangkan skema kepemilikan rumah yang lebih fleksibel, seperti kemitraan kepemilikan rumah.