Konten dari Pengguna

Penggunaan Bahasa Gaul/Prokem dalam Komunikasi Sehari-hari

Sayyid Muhsin Albaar

Sayyid Muhsin Albaar

Pelajar bernama lengkap Sayyid Muhsin Albaar, Tempat lahir Ternate, 28 Januari 2002, ia adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ia seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Akuntansi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sayyid Muhsin Albaar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.istockphoto.com/photo/national-flag-of-indonesia-against-defocused-city-buildings-gm1289432568-385115236?utm_source=unsplash&utm_medium=affiliate&utm_campaign=srp_photos_top&utm_content=https%3A%2F%2Funsplash.com%2Fs%2Fphotos%2Findonesia-flag&utm_term=indonesia%20flag%3A%3A%3A
zoom-in-whitePerbesar
https://www.istockphoto.com/photo/national-flag-of-indonesia-against-defocused-city-buildings-gm1289432568-385115236?utm_source=unsplash&utm_medium=affiliate&utm_campaign=srp_photos_top&utm_content=https%3A%2F%2Funsplash.com%2Fs%2Fphotos%2Findonesia-flag&utm_term=indonesia%20flag%3A%3A%3A

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Isi poin ketiga Sumpah Pemuda menggambarkan dan menjadikan bahasa Indonesia untuk dipergunakan, dileastarikan dan dijunjung tinggi oleh putra dan putri Indonesia. Adapun adanya peraturan terbaru presiden nomor 24 tahun 2009, juga undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang penggunaan bahsa Indonesia, maka dari itu bahasa Indonesia menjadi simbol negara dan juga simbol hukum yang ada sebagai negara berdaulat dan bermartabat

Di era globalisasi ini, bahasa Indonesia yang baik dan benar semakin jarang dipakai, terutama dikalangan remaja dan generasi milenial, saat ini muncul suatu bahasa baru dikalangan remaja yang disebut dengan bahasa gaul atau prokem. Kata gaul yang perlu diketahui oleh teman-teman bahwa kata gaul adalah bahasa khas remaja/kaum muda, bahasa yang awalnya hidup pada kelompok/komunitas tertentu dengan tujuan untuk merahasiakan isi percakapan dan dimengerti oleh komunitas tersebut, terutama dikalangan remeja dan generasi milenial.

Pesatnya penggunaan bahasa gaul menunjukkan adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena satu bahasa harus menyesuaikan dengan penggunanya agar tetap eksis, akan tetapi dengan itu penggunaan bahasa gaul yang semakin marak akan menjadi ancaman untuk bahasa Indonesia sendiri, karena terkadang anak muda berbicara sengaja maupun tidak sengaja dengan menggunakan bahasa gaul kepada orang yang lebih tua, karena sudah menjadi kebiasaan pada lingkup pergaulannya, bahasa gaul dijadikan bahasa sehari-hari bersama teman-temannya dan keluarga yang seumuran dengannya. Contohnya; memanggil ayah dan ibu dengan sebutan nyokap dan bokap. Hal ini jika dibiarkan, lama-kelamaan rasa sopan santun atau tatakrama pada orang yang lebih tua atau sesama akan hilang dan akan memicu hilangnya karakter dan jati diri anak bangsa. Sering kita temukan anak muda zaman sekarang menggunakan bahasa gaul seperti membulak-balikkan kata-kata, seperti; bisa menjadi sabi, tertawa menjadi ngakak dan cepat menjadi ecep. Kata-kata tersebut menjadi langganan para remaja ketika berbicara kepada orang dewasa ataupun sesama anak muda lainnya.

Maka dari itu dengan kondisi bahasa gaul yang ada, bahasa Indonesia semakin tergeser karena penggunaan bahasa gaul yang dijadikan bahasa sehari-hari di lingkungan remaja dan genearasi milenial. Berbahasa yang baik dan benar harus menggunakan bahasa Indonesia, sesuai dengan konteks bahasa yang selaras dengan nilai sosial yang hidup di kalangan masyarakat. Untuk dari itu meningkatkan minat remaja terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yakni memotivasi diri sendiri dengan menerapkan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam bersosialisasi, mengenal baik ilmu sastra dan bahasa Indonesia serta merasa bangga akan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan dan sebagai cermin budaya juga identitas negara Indonesia