Pelatih PSMS Medan: Stay atau Out?

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Pengamat Sepak Bola Indonesia.
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Hasnan Harrist Fadillah Purba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Putaran pertama Liga 2 2021 sudah berakhir pada hari Kamis, 27 Oktober kemarin. Sekarang nampaknya semua tim kontestan liga 2 2021 sedang menguatkan tim nya masing-masing untuk memperebutkan tiket menuju 8 besar Liga 2 2021 pada putaran kedua nanti tanpa terkecuali Tim asal Sumatera Utara yaitu PSMS Medan.
Saat ini tim berjuluk "Ayam Kinantan" itu bertengger di posisi ketiga Grup A dengan 6 point dibawah PSPS Riau dengan torehan 8 point dan Sriwijaya Fc dengan 13 point. dari 5 pertandingan putaran pertama PSMS hanya bisa meraih satu kemenangan, tiga kali seri, dan satu kali kekalahan. Tentu dengan hanya mendapat 6 point di putaran pertama PSMS harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa mengamankan setidaknya posisi kedua grup A agar bisa masuk ke babak delapan besar Liga 2 2021.
Yang jadi topik permasalahan saya kali ini bukanlah hasil buruk di putaran pertama kemarin, melainkan kesiapan skuad PSMS dan kesiapan Ansyari Lubis untuk tetap menjadi pelatih kepala PSMS musim ini.
Banyak sekali hal yang saya rasa sebagai seorang pengamat bersifat ambigu atau tidak jelas yang dilakukan oleh manajemen PSMS, seperti pemecatan Gusti Sandria dan Risky Sena yang sebenarnya belum pernah dimainkan sama sekali oleh Coach Ansyari Lubis selama putaran pertama kemarin. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya, ada apa dengan PSMS? Mengapa pemain yang bahkan belum pernah bermain satu kali pun dikeluarkan dari skuad? Padahal jika kita melihat ke belakang lebih jauh kedua pemain ini sebenarnya memiliki kontribusi yang cukup bagus untuk PSMS.
Kita sebut saja seperti Risky Sena yang mencetak 9 gol dari 6 pertandingan uji coba PSMS sebelum mengarungi Liga 2 2021 kemarin. Hal ini juga berlaku sama dengan Gusti Sandria. Pemain yang berposisi sebagai bek sayap kiri ini merupakan bagian dari skuad PSMS yang berhasil promosi ke Liga 1 2018 waktu itu setelah mengalahkan PSIS Semarang waktu itu di semifinal Liga 2 2017 dengan skor 2-0. Gusti selalu menjadi andalan Coach Djanur pada saat itu karena dikenal dengan permainannya yang kencang, umpannya yang cantik dan kemampuan bertahannya yang cukup mumpuni sehingga mampu bisa membawa PSMS Medan promosi ke kasta tertinggi Sepak bola Indonesia pada saat itu.
Tak hanya pemecatan pemain yang tidak sesuai, taktikal bermain PSMS di bawah Ansyari Lubis pun patut dipertanyakan. Permainan PSMS cenderung monoton dan terkesan hanya mengandalkan kedua sayap PSMS yaitu Rachmat Hidayat di sisi kanan dan Ghozali Siregar di sisi kiri. Hal ini membuat PSMS terlihat sangat kesulitan mencetak gol karena tidak adanya seorang "Target Man" yang benar-benar dibutuhkan PSMS pada putaran kedua nanti. Hal ini bisa dilihat dari statistik PSMS yang hanya bisa mencetak 5 gol dari 5 pertandingan, ini tentunya bukanlah suatu hal yang positif mengingat Sriwijaya bisa mencetak 8 gol dan Semen Padang bisa mencetak 6 gol dari jumlah pertandingan yang sama.
Selain kesulitan mencetak gol karena permainan yang terlalu monoton, persoalan lainnya adalah peletakan pemain yang kurang tepat menurut saya dari seorang Ansyari Lubis. Bukti nyatanya adalah ditaruhnya seorang Ilham Fathoni menjadi seorang gelandang serang. Hal ini membuat saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri mengenai keputusan seorang Ansyari Lubis mengenai ini. Menurut saya, Ilham Fathoni bermain sangat bagus ketika ia menjadi striker utama/ Target Man. Tentu saya berkata seperti ini dengan alasan yang jelas, ia berhasil mencetak 5 gol dan 2 assist dari 13 pertandingan di Liga 2 2018 lalu. Tetapi, ketika ia diletakkan sebagai seorang gelandang serang, ia bahkan tidak memberikan kontribusi apa pun baik itu gol maupun assist. Hal ini juga yang membuat saya meragukan kapasitas seorang Ansyari Lubis untuk tetap menjadi Pelatih Kepala PSMS Medan di putaran kedua.
Apakah Coach Ansyari harus Out?
Menurut saya, karena putaran Liga 2 2021 yang tak lama lagi, terlalu berisiko juga bagi skuad PSMS Medan untuk mengganti pelatih kepala. Pergantian pelatih tentunya akan mengganti taktikal bermain suatu tim, dan tentu itu membutuhkan waktu agar transisi atau perpindahan itu bisa lancar. Saya rasa Ansyari Lubis masih layak untuk melanjutkan tugasnya sebagai pelatih tetapi dengan beberapa solusi yang saya pikir Coach Ansyari Lubis bisa pertimbangkan.
Solusi yang bisa Coach Ansyari Lubis pertimbangkan
Solusi pertama yang bisa saya berikan kepada Coach Ansyari Lubis adalah untuk meletakkan Ilham Fathoni di posisi sebenarnya yaitu striker utama / Target Man. Saya melihat jika Ilham Fathoni tak bisa berperan banyak sebagai gelandang serang. Saya melihat jika Ilham Fathoni tidak nyaman dengan posisinya tersebut. Lantas, solusi pertama dari saya ini mungkin Coach Ansyari bisa pertimbangkan.
Solusi kedua adalah untuk bisa menyuruh para pemain untuk berani melakukan tendangan-tendangan spekulasi / jarak jauh. Saya melihat jika para Pemain PSMS terlalu banyak mengoper sana-sini ataupun gocek sana gocek sini yang mengakibatkan "momentum" untuk menciptakan gol itu hilang. Saya yakin jika para Pemain PSMS sebenarnya mempunyai "Shoot Power" yang cukup baik untuk menciptakan gol. Kalaupun tendangan-tendangan spekulasi itu tidak menghasilkan gol, paling tidak itu akan menghasilkan bola liar yang nantinya bisa disambar oleh striker ataupun sayap yang akan menghasilkan Gol Rebound (Bola Muntah).
Demikianlah keluh-kesah dan solusi-solusi yang bisa saya tuliskan dalam Tulisan saya kali ini. Tidak ada sedikit pun rasa ingin menggurui Coach Ansyari dalam hati saya karena saya pun ingin melihat PSMS Medan bisa jaya kembali seperti pada masa-masa kejayaannya.
Harapan saya adalah agar tulisan saya ini bisa dibaca langsung oleh Coach Ansyari ataupun bisa dibaca oleh sesama Fans PSMS lainnya mau itu dari Smeck Hooligan, Kampak Fc, ataupun basis-basis supporter PSMS Medan lainnya.
Jaya selalu Kinantanku! Kalahkan semua lawan-lawanmu dan mari kita buat cerita indah itu kembali, Ribak Sude!
