Konten dari Pengguna

Anak Slow to Warm Up: Bukan Malas, Tapi Butuh Waktu untuk Belajar

Regina Adelia Cindy Elyastuti

Regina Adelia Cindy Elyastuti

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Regina Adelia Cindy Elyastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak belajar, Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar, Foto: Shutterstock

Tahukah kamu bahwa tidak semua anak TK siap mengikuti kegiatan belajar sejak hari pertama sekolah? Sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman, berani mencoba, dan terlibat dalam aktivitas kelas. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai kurangnya motivasi belajar, padahal dapat berkaitan dengan karakteristik temperamen anak.

Mengapa begitu? Anak usia dini sedang berada pada masa perkembangan yang sangat pesat, baik secara fisik maupun mental, sehingga anak sangat peka terhadap berbagai bentuk stimulasi dan pengalaman belajar yang diterimanya. Masa ini sering disebut sebagai periode yang tepat untuk memberikan pendidikan dan rangsangan pembelajaran yang bermakna.

Fenomena tadi menarik untuk dibahas, karena sering disalahartikan sebagai kurangnya kemampuan atau motivasi belajar anak, padahal kondisi tersebut memang kondisi transisi yang dapat berpengaruh pada emosional anak saat pembelajaran dilaksanakan dan dapat berkaitan dengan karakteristik temperamen anak.

Ilustrasi anak-anak, Foto: Shutterstock

Santrock, salah satu tokoh dalam psikologi perkembangan menjelaskan bahwa setiap anak memiliki perbedaan temperamen, di mana sebagian anak termasuk dalam kategori slow to warm up, yaitu anak yang cenderung berhati-hati, membutuhkan waktu untuk merasa aman, dan menunjukkan respons awal yang rendah terhadap situasi baru. Santrock juga merekap bahwa terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa sekitar 15% anak termasuk dalam kategori slow to warm up. Temperamen slow to warm up ditandai oleh adanya inhibition to the unfamiliar, yaitu kecenderungan anak untuk menunjukkan kehati-hatian dan penarikan diri pada awal menghadapi situasi baru, namun secara bertahap mampu beradaptasi seiring waktu.

Ilustrasi anak slow to warm up, Foto: Shutterstock

Dalam konteks pembelajaran, karakteristik ini dapat muncul dalam perilaku enggan mencoba mengerjakan tugas, rasa kurang percaya diri, serta membutuhkan kehadiran dan arahan guru secara lebih intens. Saya sempat menyaksikan kondisi serupa dalam proses praktik dan observasi di TK, terdapat beberapa anak yang enggan dan menangis ditinggal oleh orang tuanya, sehingga kemudian menolak untuk mengikuti aktivitas di kelas, saat diajak komunikasi, anak merasa tidak mampu untuk mengerjakan tugas yang merupakan aktivitas kelas.

Pada beberapa anak dengan kondisi slow to warm up, kondisi ini dapat berkaitan dengan separation anxiety, yaitu respons emosional yang muncul ketika anak berpisah dari figur kelekatan. Separation anxiety pada anak usia dini dapat memengaruhi keterlibatan anak dalam aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan belajar di sekolah. Hal ini menjadi penting, karena anak yang merasa cemas cenderung sulit fokus, menunjukkan perilaku menghindar, dan membutuhkan dukungan orang dewasa agar dapat terlibat dalam pembelajaran.

Meninjau pentingnya masa emas untuk pembelajaran pada anak usia dini, fenomena anak dengan temperamen slow to warm up ini menjadi hal yang perlu disoroti karena dampaknya terhadap proses belajar anak. Kondisi emosional anak yang belum stabil dapat menghambat konsentrasi anak, memunculkan perilaku menghindar, serta potensi ketergantungan anak pada bantuan orang dewasa dalam kegiatan belajar.

Ilustrasi anak, Foto: Shutterstock

Sedangkan dari sudut pandang perkembangan neuropsikologis, adanya potensi paparan stres kronis pada masa kanak-kanak, yang dapat memengaruhi regulasi sistem stres tubuh. Kondisi ini dapat membuat anak berada dalam keadaan waspada berlebihan dan memiliki ambang stres yang lebih rendah. Dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek emosional, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan fungsi eksekutif yang melibatkan memori kerja, kontrol atensi, regulasi emosi, serta kemampuan perencanaan.

Dalam konteks pembelajaran PAUD, keterbatasan pada fungsi-fungsi tersebut dapat terlihat dalam bentuk anak yang ragu mengerjakan tugas, mudah terdistraksi, dan merasa tidak mampu menyelesaikan kegiatan belajar secara mandiri. Rendahnya kepercayaan diri anak dalam belajar ini, dapat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang kurang sesuai dengan kebutuhan emosional dan karakteristik anak. Oleh karena itu, penyesuaian strategi pembelajaran berdasarkan kategori temperamen pada masing-masing anak usia dini menjadi penting agar anak merasa aman, mampu, dan bertahap membangun kepercayaan dirinya dalam belajar.

Ilustrasi pembimbingan langsung, Foto: Shutterstock

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pembimbingan langsung (direct instruction) yang disesuaikan dengan konteks PAUD. Direct instruction dipahami sebagai pendekatan pembelajaran terstruktur dengan pengarahan guru yang jelas dan bertahap. Dengan direct instruction, guru mencoba meminimalkan ketegangan emosional akibat hilangnya figur kelekatan dengan kehadiran dan arahannya sebagai pusat. Dalam praktiknya, pembimbingan langsung ini dapat dipadukan dengan strategi pengarahan kembali (positive redirection), guru harus siap mengarahkan kembali anak ketika perhatian mereka teralihkan dengan cara yang suportif dan tidak menghakimi, agar anak tetap mau terlibat dalam aktivitas belajar.

Mengingat perlunya meminimalkan potensi ketergantungan berlanjut anak pada orang dewasa, maka pendekatan scaffolding dalam hal ini juga menjadi strategi penting dalam mendampingi anak slow to warm up. Scaffolding dipahami sebagai penyesuaian tingkat bantuan guru sesuai dengan kemampuan anak, di mana bantuan diberikan secara optimal dan dikurangi secara bertahap seiring meningkatnya kompetensi anak. Pendekatan ini didasari teori Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) dari Vygotsky, yang menekankan perbedaan antara kemampuan anak saat dibantu dan saat mandiri.

Ilustrasi guru dan anak-anak, Foto: Shutterstock

Saya menerapkan metode ini dalam praktik di lapangan, saat terdapat anak yang menangis karena ditinggal orang tuanya, anak sempat menolak mengikuti aktivitas pembelajaran karena merasa tidak mampu mengerjakan, akhirnya perlahan mau memulai untuk mencoba, saya mengurangi intensitas bantuan dari physical guidance menjadi pendampingan tangan tanpa arahan secara fisik dengan instruksi verbal, hal menumbuhkan kepercayaan diri anak sehingga akhirnya anak mampu menyelesaikan tugas tanpa bantuan.

Scaffolding dapat dilakukan melalui penyediaan lingkungan belajar yang mendukung, interaksi langsung berupa penjelasan dan restrukturasi, hingga pengembangan kemampuan berpikir konseptual. Pendekatan bertahap ini membantu anak membangun rasa mampu tanpa merasa ditekan. Sehingga terjadi pengelolaan emosi pada anak, dengan memberi ruang bagi anak untuk merasakan self-efficacy, baik dengan bantuan maupun secara mandiri. Pendekatan scaffolding ini memperkuat relasi anak dengan orang dewasa serta mendukung keterlibatan anak dalam proses belajar.

Ilustrasi refleksi, Foto: Shutterstock

Berdasarkan pengalaman praktik dan penerapan teori psikologi perkembangan pada anak usia dini, saya menyadari bahwa anak yang tampak enggan belajar atau terlalu bergantung pada guru bukan selalu menunjukkan ketidakmampuan, melainkan sering kali sedang berada dalam proses adaptasi emosional. Pembelajaran yang serba menuntut anak untuk menyelesaikan tugas namun hanya dengan pendampingan yang sangat minim, dapat membuat anak merasa tidak aman, sementara bantuan yang berlebihan justru menghambat kemandirian dan membuat anak merasa tidak mampu jika berdiri sendiri.

Melalui penerapan pengarahan kembali dan scaffolding secara bertahap, saya belajar bahwa peran guru maupun orang tua sebagai pendidik pada anak usia dini bukan hanya mengajari anak dengan materi, tetapi juga percaya bahwa setiap anak berhak dipahami, dan tugas kita adalah menyesuaikan temperamen tiap anak, namun tetap fokus pada tujuan, sehingga menciptakan rasa aman, membangun kepercayaan diri anak, dan membantu anak menyadari bahwa ia mampu belajar dengan ritmenya sendiri, hingga kemudian hasil pembelajaran juga dapat optimal.