Cerita Kisah Masa Lalu

Mahasiswa S1 Teknik Telekomunikasi di Institut Teknologi Telkom Purwokerto
Tulisan dari Caca Surya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awal mula cerita sejak usia 6 tahun memasuki bangku Sekolah Dasar kelas satu, Ibuku selalu mengantarkanku ke sekolah naik sepeda tua. Sebelum berangkat ke Sekolah, Ibuku selalu menyuruhku belajar pada waktu subuh. Mulai dari membaca dan berhitung hingga aku bisa, sebelum bisa ibuku selalu berisik dan marah-marah agar aku bisa. Di saat duduk di bangku SD aku selalu datang paling awal, sehingga suasana kelas terasa sepi dan kosong. Waktu pun berlalu suasana kelas mulai ramai, aku tipe orang yang pendiam kala itu. Teman-teman selalu mengajakku bermain sebelum jam pelajaran dimulai.
Sekolah Dasar biasa berakhir disiang hari, seperti biasa ibuku selalu menjemputku dengan sepeda tuanya. Jarak lumayan agak jauh dari rumah tetap ia lewati. Terkadang kami saling gantian boncengan, jika capek kami beristirahat di tempat jual gorengan. Tempat itu merupakan tempat langganan ibu untuk membeli gorengan. Di saat masih Sekolah Dasar, aku merasakan sekali perjuangan seorang ibu demi anaknya. Padahal ketika ada uang untuk naik transportasi umum, ibuku memilih untuk naik sepeda dengan ucap "Tidak apa-apa naik sepeda akan membuat ibu sehat". Mungkin waktu SD aku kurang begitu mengerti apa itu pengorbanan orang tua, tapi sekarang itu begitu membekas dan tidak bisa terulang kembali.
Pada saat SD, aku selalu belajar dengan giat dan tekun. Apapun tugas yang ibu dan bapak guru berikan aku selalu mengumpulkan nya paling awal. Sehingga membuahkan hasil selalu Juara kelas terus menerus. Mungkin dengan motivasi agar bisa membanggakan ibuku. Tiba waktunya wisuda SD, namaku dipanggil untuk kedepan dengan sebuah penghargaan anak terbaik. Aku sangat bangga begitupun juga dengan ibuku. Hari pendaftaran ke jenjang Sekolah Menengah Tiba, seperti biasanya aku ditemani ibuku untuk daftar ke sebuah sekolah favorit di salah satu kota ku. Banyak berkas persiapan untuk pendaftaran yang telah aku dan ibuku siapkan. Pendaftaran waktu itu dibuka dengan nilai Ujian Nasional berbeda dengan sekarang yang menggunakan sistem zonasi.
Waktu untuk melakukan pendaftaran dibuka selama dua minggu lalu setelah itu diadakan pengumuman. Pada saat menerima hasil aku tidak menyangka bakal tidak diterima di sekolah tersebut. Hari itu benar benar membuatku merasa down sekali, namun itu masih gelombang ke satu. Pada saat gelombang kedua aku mencoba lagi ke beberapa sekolah negeri dikotaku, dan hasilnya masih sama. mungkin karena waktu itu anak dari lulusan swasta sangat berpengaruh dibandingkan dengan negeri. Ibuku mencoba memasukan aku ke pondok, tapi aku masih bersikeras untuk mencoba lagi. Pada saat itu hari terakhir pendaftaran di salah satu sekolah negeri, aku mencoba untuk daftar dengan menerima hasil apa adanya. Tidak disangka di saat pengumuman namaku tertera di papan tulis kelulusan. Terkadang memang sesuatu tidak sesuai yang diharapkan, aku bertekad bersungguh-sungguh untuk belajar di sekolah tersebut.
Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ibuku menyuruhku untuk naik angkutan umum yang waktu itu masih harga seribu rupiah. Dengan ongkos pulang pergi jadinya dua ribu rupiah. Mungkin ibuku ingin aku lebih berani dan mandiri. Waktu SMP aku mengikuti banyak sekali karena penasaran. Berangkat sekolah seperti biasa langit masih gelap, dan setiap pulang selalu larut malam karena jadwal organisasi. Dalam suatu organisasi aku pernah mengikuti perlombaan tingkat kota, dengan persiapan yang begitu maksimal sehingga mendapatkan hasil yang tidak begitu kecewa.
Tiga tahun yang cukup lama untuk lulus di bangku SMP, kini aku mendaftarkan diri ke jenjang berikutnya yaitu ke Sekolah Menengah Kejuruan dengan harapan setelah lulus bisa mendapatkan kemampuan disuatu bidang. Hal kejadian saat pendaftaran terulang kembali semasa waktu SMP, kini hal yang aku inginkan tidak sesuai lagi dengan yang diharapkan. Penuh kekecewaan, mengapa hal yang begitu aku inginkan tidak pernah sesuai dengan kenyataan? Aku berpikir mungkin Tuhan akan memberikan hadiah terbaik dari apa hal yang tidak terjadi.
Jangan pernah salahkan takdir Tuhan, perbaikilah diri untuk terus lebih baik . Jika suatu hal yang tidak diharapkan dengan kenyataan maka senangilah apa pemberian Tuhan sekarang.
