Kampung Ramah Anak di Tasikmalaya

Mahasiswa S1 Teknik Telekomunikasi di Institut Teknologi Telkom Purwokerto
Tulisan dari Caca Surya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Populasi penduduk di wilayah Kota Tasikmalaya hingga tahun 2019 tercatat sudah mencapai 4.100 jiwa dengan 1/3 bagian, setara dengan 240 jiwa merupakan anak-anak. Selaras dengan misi nasional, yakni menciptakan negara ramah anak di tahun 2030, di Desa Kalangsari, Rukun Warga 03, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, sudah diwujudkan sebuah perkampungan yang ramah bagi anak.
Kampung ramah anak di Tasikmalaya sudah dikembangkan sejak 2 November 2018 lalu. Namun, baru diresmikan oleh Budi Budiman selaku Wali Kota pada Jum'at, 28 Juni 2019. Kampung ramah anak mempunyai makna sebagai perkampungan yang menciptakan lingkungan positif bagi anak-anak supaya memiliki budaya inovatif dan inspiratif, terlebih sekarang ini anak-anak rentan terpengaruhi oleh gawai.
Ketua Kampung ramah anak, Iwan Herdian selaku sekretaris Rukun Warga 03 memaparkan, bahwa pada mulanya, Kampung ramah anak merupakan lembaga yang dikelola oleh masyarakat yang merasa khawatir dengan lingkungan tak terawat. Masyarakat Rukun Warga 03 yang terdiri atas 6 Rukun Tetangga sepakat untuk gotong royong dalam menciptakan perkampungan yang asri. Alhasil, dengan adanya tanah seluas 300 bata atau 4.200 meter, pihak keluarga dari Nono Darsono beserta kakaknya, Uu Ruhiyat dan Maman Rukman mendirikan perkampungan ramah anak yang dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat Rukun Warga 03 dengan tujuan menjauhkan anak-anak dari pengaruh negatif gawai serta melestarikan 'kaulinan Sunda'.
Berlokasi pada gang di Desa Kalangsari, terdapat dinding-dinding dan jalan setapak yang dipercantik dengan mural hasil buatan warga setempat, salah satunya berisi tentang sepuluh hak anak yang terdiri dari hak bermain, hak mendapatkan pendidikan, hingga hak mendapatkan perlindungan. Di sepanjang gang tersebut, pekarangan warga ditanami dengan tanaman yang memberikan nuansa asri, serta diramaikan oleh pernak-pernik payung dan topi caping.
Dalam pemberdayaannya, Kampung ramah anak terdiri atas 49 anak dan pembimbing, yakni Wini Sofia Dewi yang merupakan guru honorer di Madrasah Diniyah, serta Nono yang mengajarkan 'kaulinan Sunda'. Dimulai dari melestarikan permainan tradisional Sunda, mengenalkan tarian daerah dan cara memainkan kecapi, hingga mengajarkan lagu-lagu terdahulu yang sering dinyanyikan oleh orang tua-tua dulu.
Fasilitas di Kampung ramah anak meliputi taman bermain, arena permainan alam (outbound), dapur sederhana, saung-saung sebagai sarana belajar sekaligus tempat bermain anak, hingga perpustakaan anak yang berada di samping posyandu. Terdapat pula lokasi swafoto seperti jembatan yang dibangun dengan kayu bercat warna pelangi.
Dikutip dalam surat harian TribunJabar.id, Kampung ramah anak diharapkan dapat menjadi pionir dalam menciptakan suasana ramah belajar dan bermain bagi anak serta mampu meminimalisir pengaruh negatif terhadap kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Upaya ini juga dianggap sebagai nilai jual dalam memperkenalkan Desa Kalangsari yang tersohor sebagai pengelola limbah kain. Sehingga, Kampung ramah anak dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata di Tasikmalaya.
