Konten dari Pengguna

Sudahkah Anda Mendidik Anak Secara Baik, Atau Masih Dikekang?

Sri Lestari

Sri Lestari

Mahasiswa Institut Teknologi Telkom Purwokerto

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sri Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Canva

“Anak dikekang bisa apa memang? Kan mereka selalu dikekang”. Sering kali mendengar kalimat seperti itu?

Rasanya malu tidak sih, sudah besar masih saja diatur, masih saja dikekang. Apakah kalian pernah berpikir demikian?

Dalam ilmu psikologi, orang tua yang mendidik anaknya dengan ketat diartikan sebagai orang tua yang menetapkan standar dan tuntutan tinggi kepada anak-anak mereka. Memiliki artian bahwa orang tua tersebut adalah tipe orang yang mengikat anaknya mengenai hal-hal yang menurut mereka benar. Mengikat dalam artian harus sesuai dengan keinginan orang tua. Berbagai macam aturan dan perintah yang dirancang untuk sang anak yang mungkin jika dilanggar akan mendapatkan suatu hukuman.

Saya mengamati anak yang dikekang oleh orang tua secara langsung maupun dari internet, bahwa mereka cenderung akan merasa tertekan karena kekangan dari orang tua. Anak hanya bisa mematuhi aturan atau perintah yang orang tuanya berikan. Kebebasan anak menjadi terbatas apalagi saat fase remaja, di mana fase tersebut rasa ingin tahu mereka menjadi lebih tinggi pun terbatasi hanya karena kekangan dari orang tua. Tak jarang, kekangan itulah yang dapat berdampak buruk bagi sang anak.

Adakah orang tua yang tidak menginginkan terbaik untuk anaknya? Sejatinya para orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan berkarakter baik. Memang, setiap orang tua pasti berbeda dalam mendidik dan mengasuh anak-anak mereka. Tumbuh kembang sang anak akan didasari pada ‘bagaimana cara orang tua mendidik anaknya'. Orang tua pastinya tahu harus bersikap seperti apa pada saat mendidik anaknya.

Seringkali pola asuh anak yang dikekang juga diartikan sebagai pola asuh otoriter, yaitu pola asuh orang tua yang mengutamakan membentuk kepribadian anak dengan cara menetapkan standar mutlak dan harus dituruti, biasanya disertai dengan ancaman-ancaman yang mau tak mau harus dituruti oleh sang anak. Orang tua seperti itu tidak mau mendengarkan pendapat dan menghargai perasaan anaknya.

Apa sih dampak dari kekangan orang tua bagi anak? Orang tua sering tidak sadar bahwa hal tersebut memiliki dampak buruk bagi mental anak. Dampak buruk dari kekangan orang tua yang mungkin bisa menyerang psikis atau kesehatan mental anak yaitu;

Pertama, munculnya rasa takut dalam diri anak. Rasa takut yang muncul pada anak sangat beragam terutama ketakutan kepada orang tuanya sendiri. Anak juga bisa merasa takut saat mereka ingin mencoba hal-hal baru, karena selalu diancam ataupun dikekang.

Kedua, selalu merasa cemas. Merasa cemas pada setiap hal yang telah dilakukan. Anak selalu memikirkan apakah perbuatannya akan membuat orang tua marah. Apakah nantinya akan terkena hukuman, atau banyak lagi kecemasan yang anak tersebut pikirkan.

Ketiga, stres dan depresi. Anak tidak akan merasa bahagia jika terlalu dikekang. Komunikasi yang tidak sehat dengan orang tua menyebabkan anak merasa kurang nyaman untuk mengutarakan perasaan dan keinginannya sehingga hanya bisa memendam sehingga bisa menyebabkan stres hingga depresi.

Keempat, tidak bisa beradaptasi dan bersosialisasi. Karena batasan dari orang tua terhadap lingkungan luar membuat anak sulit untuk membaur satu sama lain.

Kelima, anak jadi suka berbohong. Kebanyakan anak dikekang suka berbohong, mereka menutupi kesalahan atau perbuatan yang dilarang oleh orang tua. Misalnya, izin keluar untuk mengerjakan tugas kelompok tapi kenyataannya hanya untuk main ke mall bersama teman.

Orang tua bahwasanya mencintai anak mereka dan ingin sang anak menjadi orang yang tumbuh dengan sukses. Kekhawatiran orang tua lah yang terkadang membuat mereka harus bersikap tegas kepada anak-anaknya. Banyak sekali pergaulan bebas remaja milenial dan kasus-kasus lain yang marak tentang pemuda-pemudi saat ini, dan orang tua tentu saja tidak ingin anak-anak mereka terjerumus ke dalam hal negatif tersebut.

Lantas? Apakah salah orang tua membatasi pergaulan anak mereka? salahkah orang tua bersikap tegas?

Tentu saja semua hal pasti ada plus minus nya. Anak harus di didik agar terhindar dari hal-hal buruk. Orang tua sangat dianjurkan untuk bersikap tegas dan menggiring anak kearah yang positif, serta memberikan alasan kenapa orang tua melarang anaknya berbuat hal tersebut.

Tetapi jika orang tua melarang berbuat ini itu, terlalu mengekang, membatasi pergaulan tanpa suatu alasan yang jelas, bukankah hal tersebut malah membuat dampak buruk bagi anak seperti yang sudah saya jelaskan di atas?

Orang tua saya juga termasuk tipe orang yang tidak ingin anaknya terlalu bebas. Keluar malam harus disertai dengan alasan yang jelas, tidak boleh bepergian terlalu jauh kecuali untuk hal yang penting, dan juga selalu bertanya siapa saja teman yang sedang bersama saya.

Terkadang saya merasa kesal, kenapa sih tidak diperbolehkan terlalu bebas. Padahal kan sudah besar, sudah bisa menjaga diri. Apa karena saya anak perempuan? “Mungkin kalau aku laki-laki akan terbebas dari kekangan ortu.” hem tidak juga sih. Tetapi menurut saya, itu adalah hal yang wajar. Orang tua mana sih yang tidak kepikiran kalau anaknya keluar malam apalagi seorang gadis. Mereka juga memberikan alasan yang jelas kenapa orang tua saya melakukan hal tersebut. Itu tandanya orang tua saya masih peduli.

Disisi lain, ada juga manfaat dari pola asuh yang ketat. Anak jadi lebih teratur dan disiplin dari keterbiasaan mereka dirumah. Terhindar dari pengaruh luar yang buruk. Memiliki keterampilan yang menonjol karena perintah dari orang tua untuk les privat. Permintaan sang anak yang mungkin selalu dituruti tetapi masih di bawah awasan orang tua.

Sudut pandang setiap anak berbeda-beda. Mereka yang selalu mengira bahwa orang tua hanya bisa memerintah, mengekang, tidak memikirkan apa yang anaknya inginkan. Tapi kenyataannya orang tua bersikap demikian hanya ingin anaknya disiplin, terarah, tegas, dan dapat berdiri sendiri. Mungkin dari sisi orang tua sendiri itu adalah hal yang lumrah, tapi mereka tidak tahu bahwa sang anak tidak nyaman dengan didikan yang terlalu dikekang tersebut.

Jadi, kita jadi tahu bahwa didikan yang terlalu dikekang dapat memengaruhi pertumbuhan anak, baik psikis maupun mental. Jika orang tua lebih berperan sebagai teman atau sahabat bagi sang anak, mendidik dengan bijak, dan tahu apa yang anak inginkan. Mungkin bisa membuat anak merasa bahwa mereka lebih diperhatikan dan terbuka untuk berbagi cerita dengan orang tua.

Anak juga harus memahami jika orang tua melarang suatu hal, karena ini demi kebaikan sang anak dan jangan selalu berpikir negatif. Orang tua pastinya dewasa dan memaklumi jika anak seringkali susah diatur atau mungkin sampai membangkang. Itu yang harus diperhatikan oleh para orang tua agar lebih berhati-hati dalam mendidik. Tak lupa untuk tetap bersyukur mempunyai orang tua yang masih peduli dan bisa memilah mana yang baik dan buruk untuk anak-anaknya.