Memaknai Kegagalan melalui Teori Albert Bandura

Mahasiswa - Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Psikologi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aliya Jahwania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hidup kita sering kali terombang-ambing di antara kegagalan masa lalu dan keberhasilan masa depan. Tidak jarang, kegagalan yang pernah dialami membuat kita terjebak pada perasaan tidak mampu, sehingga menghambat langkah untuk maju. Kita terlalu fokus pada kegagalan hingga lupa bahwa kegagalan juga bagian dari proses. Dalam psikologi, cara kita memaknai kegagalan sangat dipengaruhi oleh keyakinan kita terhadap kemampuan diri, yang dikenal sebagai self-efficacy. Albert Bandura (1982) menjelaskan self-efficacy sebagai rasa percaya diri dan keyakinan akan kemampuan diri dalam menghadapi berbagai masalah hidup. Rasa percaya inilah yang menentukan kita bertahan dan mencoba lagi atau justru menyerah setelah mengalami kegagalan. Individ dengan self-efficacy tinggi percaya bahwa mereka mampu mengatasi kegagalan dalam hidup mereka. Sebaliknya, orang dengan self-efficacy rendah lebih mudah memaknai kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan diri. Lalu, sejauh mana self-efficacy memengaruhi cara kita memaknai kegagalan? Yuk kita bahas hubungan antara self-efficacy terhadap kegagalan! Apa Kaitannya antara Self-Efficacy dengan Kegagalan? Kegagalan tidak hanya dimaknai sebagai hasil yang tidak sesuai harapan, tetapi juga terkait keyakinan kita terhadap diri sendiri. Pengalaman gagal membuat self-efficacy kita menurun. Parahnya, kita menganggap diri ini benar-benar tidak mampu dan enggan mencoba lagi hanya karena "takut gagal." Ketika kita mengalami kegagalan, disinilah self-efficacy memiliki peran untuk menentukan bagaimana kegagalan tersebut dimaknai. Ketika dihadapkan pada situasi sulit, hubungan antara self-efficacy dan kegagalan semakin terlihat. Lianto (2019) menjelaskan bahwa self-efficacy memengaruhi pilihan tindakan kita, besarnya upaya yang dikeluarkan, serta seberapa lama kita mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap individu memaknai kegagalan dengan sudut pandang berbeda, tergantung pada tingkat self-efficacy yang dimilikinya. Dengan demikian, kegagalan memiliki kaitan erat dengan self-efficacy karena pengalaman gagal tidak hanya menantang tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya. Lalu, Mengapa Ada Orang yang Bangkit dan Ada yang Menyerah? Perbedaan respons individu terhadap kegagalan tidak lepas dari tingkat self-efficacy yang dimilikinya. Dalam teori Albert Bandura (1982), individu dengan self-efficacy rendah cenderung merasa tidak berdaya dan putus asa. Mereka memandang bahwa kesempatan untuk memengaruhi situasi yang dihadapi sangat terbatas. Ketika dihadapkan pada masalah, individu dengan self-efficacy rendah cenderung enggan mencoba kembali setelah mengalami kegagalan, karena mereka yakin bahwa upaya tambahan tidak akan membawa perubahan berarti. Keyakinan ini membuat individu merasa memiliki sedikit kendali terhadap situasi yang dihadapinya. Sebaliknya, individu yang memiliki self-efficacy tinggi lebih percaya bahwa mereka mampu menghadapi masalah yang dihadapinya. Dalam pandangan Bandura, keyakinan terhadap kemampuan diri membuat individu lebih berani menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan. Mereka memandang kegagalan sebagai tantangan yang masih dapat diusahakan, bukan sebagai bukti ketidakmampuan diri. Lianto (2019) juga menjelaskan bahwa individu dengan self-efficacy tinggi cenderung memiliki semangat yang lebih besar dan mampu bertahan lebih lama ketika menghadapi situasi sulit. Dengan keyakinan tersebut, kegagalan justru menjadi dorongadorongan individu untuk bangkit dan mencoba kembali. Dengan demikian, self-efficacy yang tinggi berperan penting dalam membantu individu memandang kegagalan secara lebih positif.
