Konten dari Pengguna

Distraksi Digital: Gangguan Nomor Satu Masyarakat Indonesia di Era Digital

Nicola Cornelius Alemta Simarmata

Nicola Cornelius Alemta Simarmata

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP USU 2021 Kader PMKRI

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nicola Cornelius Alemta Simarmata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Distraksi Digital: Tantangan Besar di Tengah Perkembangan Teknologi dan Informasi

Distraksi Digital Menjadi Petaka ? Distraksi Digital Mengakibatkan Kita Mudah Digiring opininya? Minim Produktivitas? Termakan Post-truth tiap harinya sampai kenyang dan dimuntahkan lagi jadi serpihan hoax kecil di tengah keluarga.

Illustrasi ini dibantu oleh Artificial Intelligence (AI)
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi ini dibantu oleh Artificial Intelligence (AI)

Distraksi Digital menjadi konteks yang harus dibahas dalam mecermati fenomena digital Indonesia saat ini. Setiap hari, masyarakat Indonesia dihadapkan pada gelombang notifikasi, rangkaian video viral dan perdebatan terkait isu politik yang tiada henti. Semua itu kerap kali menyita perhatian hingga mengabaikan urusan penting dalam aktivitas pribadi lekas pribadi. Dalam kehidupan online itu, masyarakat rasa-rasanya bingung mau fokusin apa untuk bahas satu isu.

Setelah main handphone berjam-jam, kita dihadapkan pada posisi burnout. Kita merasa kepala kita kepenuhan informasi atau semua informasi yang diterima tidak mampu dilahap secara keseluruhan, ya sehingga kadang efeknya malah jadi sakit kepala (di samping efek radiasi). Karena ya bisa jadi, kalau sudah ada yang mau ditindaklanjuti nih isunya, kita mulai kritis, eh Timnas Indonesia bertanding maka semuanya terlupakan, atau ada Artis yang terkena skandal, drama perceraian, atau isu-isu lainnya yang lebih mudah dicerna. Sehingga, semuanya menjadi gantung.

Dampaknya bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari, kita bisa terhenti berjam-jam oleh cek-cok tetangga, gosip lingkungan, atau drama selebritas yang bersumber dari medsos masing-masing. Bahkan bisa jadi, entah karena salah ngomong atau terlalu ikut campur, kita malah ikut konflik. Ilustrasi ini hanyalah satu fragmen dari gambaran lebih besar, yaitu ledakan akses informasi global yang mengubah pola perhatian kita. Kondisi ini menunjukkan suatu kondisi masyarakat yang perhatiannya mudah sekali terdistraksi. Linda Stone mengenalkan istilah ini untuk menggambarkan keadaan di era digital: kita terus menerus membagi perhatian agar tak melewatkan apapun, buka banyak tab di layar, cek notifikasi, dan pantau grup chat. Namun dibalik itu, fokus jangka panjang terganggu, produktivitas turun, dan sistem pemrosesan informasi otak melemah.

Tulisan ini akan mengurai secara sistematis dari dimensi struktural hingga psikologis mengapa orang Indonesia menjadi “korban distraksi digital” nomor satu di dunia. Tetapi sebelum masuk ke inti pembahasan, untuk membahas terkait fenomena ini penulis menguraikan korelasi-korelasi yang penulis temukan (semoga benar-benar berkorelasi), yaitu: mekanisme infinite scroll dan notifikasi platform, budaya komunal yang mendorong kepedulian berlebihan, dramatisasi politik 24/7, serta kerentanan kognitif manusia terhadap rangsangan baru. Oke tanpa berlama-lama, kita masuk ke pembahasan!

Infinite Scroll dan Notifikasi Otomatis

Yang pertama, membahas Infinite Scroll dan Notifikasi Platform pasti akan merujuk pada faktor sosial media. Faktor sosial media menjadikan orang Indonesia ingin melahap semua yang ada didalamnya, ya melihat data bisa didukung sih, di dunia saja perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi telah menciptakan banjir konten yang menuntut perhatian. Pada awal 2025, dunia mencatat 5,56 miliar orang telah terhubung ke internet, dengan penetrasi global mencapai 67,9 persen! kenyataan ini mencerminkan ledakan akses dan konsumsi informasi secara massif di segala penjuru (tak ada tempat berlindung kecuali di gua).

Di Indonesia sendiri, jumlah pengguna internet mencapai 212 juta jiwa, atau 74,6 persen penduduk, bahkan data menunjukkan bahwa Indonesia masuk peringkat teratas dunia dalam durasi penggunaan media sosial, dengan rata-rata lebih dari tiga jam per hari. Sehingga ruang bagi distraksi digital semakin terbuka lebar untuk semua lapisan masyarakat. Infinite scroll, fitur notifikasi otomatis, serta “fear of missing out” (FoMO) mendorong setiap individu terus-menerus memeriksa ponsel, sehingga pengguna terus terdorong mengecek ponsel walau tak ada urgensi. Akibatnya, perhatian terbagi-bagi menjadi fragmen-fragmen pendek sehingga produktivitas harian menurun tajam, hingga tugas-tugas sirkuler sehari-hari seperti belanja kebutuhan pokok, belajar, interaksi sosial sering tertunda atau terbengkalai. Data dari American Psychological Association menunjukkan pekerja yang sering terganggu oleh notifikasi digital melaporkan penurunan efisiensi hingga 40 persen. Studi lain menyebutkan bahwa hampir 70 persen pekerja merasa kesulitan mempertahankan fokus selama beberapa menit karena gangguan digital dan dibutuhkan waktu rata-rata 23 menit untuk kembali fokus setelah terdistraksi. Dampaknya bukan hanya pada produktivitas individu, tetapi juga pada kualitas kerja, kepuasan hidup, serta penurunan kemampuan berpikir kritis dan pengolahan informasi. Selain itu, multitasking yang berlebihan juga mempercepat kelelahan mental dan membuat kinerja menurun, bahkan mengganggu proses belajar bagi mahasiswa.

Illustrasi ini dibantu oleh Artificial Intelligence (AI)

Budaya Komunal dan Memviralkan Konflik

Yang kedua, karakter komunal masyarakat Indonesia yang sangat menekankan kepedulian sosial justru berpotensi menjadi sumber distraksi. Contoh Daily Life nya orang Indonesia, ketika terjadi perselisihan keluarga atau tetangga, norma sosial menuntut warga sekitar untuk memberi perhatian bahkan jika itu sekadar menonton perdebatan secara langsung atau melalui video singkat. Budaya “ikut campur” ini memperkuat ‘viral-viralnya’ konflik lokal karena setiap keributan RT/RW dianggap menarik, seolah menjadi tontonan kolektif. Hal ini pun meramaikan konten media sosial kita.

Dramatisasi Politik 24/7

Yang ketiga. aktor Politik sebagai Mesin Drama. Politik di Indonesia berjalan bagai sinetron nonstop. Lembaga survei merilis hasil polling harian yang langsung menjadi headline (Kepercayaan terhadap Pemerintah, Tingkat Kemiskinan, kalau masuk momen Pemilu ya polling Elektabilitas), sementara partai dan politisi berlomba memproduksi isu untuk tetap relevan. Media arus utama, demi engagement, kerap membumbui pemberitaan politik dengan judul bombastis dan framing sensasional, sehingga setiap polemik mulai dari revisi undang-undang hingga perseteruan internal partai terasa seperti “tayangan wajib.”

Tak kalah berpengaruh adalah talk show di televisi dan konten politik di platform daring yang menghadirkan komentar pakar, debat terbuka, sehingga drama verbal antar host; semuanya diramu sedemikian rupa untuk memastikan audiens terus terpaku pada layar, meski sejatinya kerumitan isu politik sering kali diabaikan dalam rangka mengejar rating. Di sini, saya tidak akan terlalu membahas pada bagaimana Distraksi Digital dari rangkaian Gerakan di Indonesia dalam 1 bulan terakhir, semua harus memiliki pisau analisis masing-masing pada pertanyaan kepada diri masing-masing (Apakah aku terkena Ombak?).

Beban Kognitif dan Reward System Otak

Terakhir, secara psikologis. Ketika rangkaian rangsangan digital terus berdatangan, otak manusia harus memproses informasi tersebut dengan kapasitas yang terbatas; Sebuah konsep yang dijelaskan dalam teori beban kognitif (cognitive load). Semakin banyak ‘jendela’ konten yang terbuka mulai dari chat grup hingga feed berita semakin cepat muncul decision fatigue, yaitu kelelahan mental dalam mengambil keputusan sederhana, sehingga perhatian mudah teralihkan ke hal-hal yang terasa lebih ‘ringan’.

Di sisi lain, mekanisme reward di otak juga memainkan peran penting: setiap notifikasi like atau komentar memicu pelepasan dopamin, menciptakan loop adiktif yang mendorong pengguna terus mengecek ponsel. Ditambah lagi fenomena FoMO yang membuat kita tak rela melewatkan satupun update, meski itu berarti mengorbankan fokus pada tugas yang lebih substansial.

Akhir Kata: Distraksi Kolektif yang Tak Terelakkan

Mari kita jawab pertanyaan penulis di awal. Apakah pembaca sudah bisa memberikan kesepakatan bahwa masyarakat Indonesia memang mudah terdistraksi, gampang digiring opininya, dan kerap termakan Post-truth hingga menjadi serpihan hoaks yang bertebaran di tengah keluarga? Maka penulis duluan yang menjawab, jawabannya adalah: Ya, saya masyarakat Indonesia yang gampang kena distraksi…

Kita harus objektif, fakta berbagai mekanisme digital dan sosial membuktikan bahwa gangguan perhatian ini nyata dan sistemik. Akibatnya, bukan hanya tugas sederhana seperti belanja atau tugas-tugas kecil dirumah yang terbengkalai, tetapi diskursus publik dan kapasitas berpikir kritis kita ikut tergerus. Dengan menyadari skala dan kedalaman fenomena ini, tulisan ini mengajak kita semua untuk menaruh perhatian serius pada kebiasaan digital dan budaya kolektif yang selama ini membiarkan fokus kita terpecah-pecah.

Pengakuan atas kenyataan bahwa distraksi di masyarakat Indonesia adalah langkah awal karena sebelum mencari solusi, kita harus paham dulu seberapa kuat gelombang gangguan ini menyapu setiap lapisan kehidupan kita. Apakah Anda siap menantang gelombang distraksi dan mulai membangun kebiasaan digital yang lebih sehat?