Medan Utara Harus Mengadopsi Semangat Scouse Liverpool

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP USU 2021 Kader PMKRI
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nicola Cornelius Alemta Simarmata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Semangat Scouse Untuk Solidaritas Pesisir Kota Medan Utara
Bayangkan sebuah pelabuhan di ujung utara Medan yang tak sekadar gerbang ekspor-impor, tapi juga benteng perlawanan kultural dan politik…
Bayangkan mural raksasa di dermaga Belawan: nelayan, truk container, dan kawan-kawan buruh pelabuhan berdiri tegak dengan simbol komunitas yang bangkit menantang kebijakan Pemerintah yang ternyata tidak terlalu mempedulikan mereka….

Tulisan ini tidak radikal dan menuntut gerakan revolusioner bangkit di kawasan Medan Utara, tapi ini bangkit dari keresahan yang berlandaskan kondisi umum Medan Utara saat ini. Tapi tidak hanya itu, andai-andaian di awal tulisan ini juga agak sedikit dicocokkan dengan kisah “Scouse Spirit” di Liverpool.
Penulis langsung membayangkan bahwa “Bagaimana jika Belawan mampu menyalin semangat ‘Scouse Spirit’ Liverpool, mengubah tenggat dermaga menjadi panggung otonomi rakyat?” Pertanyaan retoris ini tepat mengawali pembacaan ulang potensi kawasan pesisir utara Kota Medan. Di daerah pesisir itu, di mana lebih dari 70 % penduduk menggantungkan hidup pada aktivitas informal seperti nelayan kecil, buruh bongkar muat harian, penjaja kaki lima. Terdapat kerentanan struktural yang sama seperti yang dialami Liverpool sebelum lahirnya Scouse Spirit: ketiadaan jaminan sosial, rendahnya akses layanan publik, ketimpangan ekonomi yang membelenggu, serta kebijakan publik yang tidak terlalu memihak mereka.
Medan Utara dalam konteks administratif merujuk pada kecamatan-kecamatan yang berbatasan langsung dengan pesisir utara Kota Medan, yakni Medan Belawan, Medan Marelan, Medan Labuhan, dan Medan Deli. Keempat kecamatan ini secara umum dianggap sebagai inti kawasan utara karena lokasi geografinya dan kesamaan karakteristik sosial-ekonomi.
BPS Kota Medan mencatat bahwa pada tahun 2024 jumlah penduduk miskin di seluruh Kota Medan mencapai 187,04 ribu jiwa atau 7,94 % dari total penduduk, sedikit lebih rendah dibanding angka nasional Sumut sebesar 7,99 %.
Untuk wilayah Medan Utara, Kompilasi Statistik Sektoral Kota Medan 2024 menyebutkan bahwa Kecamatan Medan Labuhan tercatat sebagai penyumbang penduduk miskin terbanyak, yaitu 16.592 jiwa (https://medankota.bps.go.id/id) Meskipun BPS Medan belum memublikasikan data rinci 2024 untuk kecamatan Medan Belawan, Marelan, dan Deli, tren historis menunjukkan bahwa Marelan dan Belawan secara konsisten berada di peringkat atas sebaran kemiskinan kota, sehingga dalam kerangka Medan Utara diperkirakan kawasan ini menyumbang sekitar 8–10 % dari total penduduk miskin Kota Medan. Untuk potensi penduduk miskin tertinggi ada di Kecamatan Medan Belawan dengan total 80.692 jiwa.
Masalah sosial pun masih sangat menonjol, tawuran pelajar dan remaja yang malah seolah-olah menjadi rutinitas dan sulit teratasi, serta peredaran narkoba dan kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum teratasi. Setiap Pilkada, janji memajukan Medan Utara sering digaungkan tetapi sibuk kepentingan politik semata, tanpa strategi konkret menyelesaikan persoalan mendasar di lapangan. Ketika statistik kemiskinan dan pengangguran tidak kunjung menyusut secara merata, kawasan pelabuhan justru terpinggirkan dari dinamika ekonomi kota.
Inspirasi datang dari Liverpool, kalau fans sepakbola mungkin tidak asing dengan Liverpool FC, klub sepakbola yang berasal dari Kota Liverpool itu kaya akan sejarah dan sudah meraih banyak gelar. Tetapi sorotan kali ini merujuk pada Kota Klub Liverpool itu berasal, sebuah kota Pelabuhan di Inggris yang terombang ambing oleh blitz Perang Dunia II, deindustrialisasi 1970 an, dan Toxteth Riots 1981, kerusuhan yang lahir dari pengangguran massal, pemotongan belanja publik, dan diskriminasi struktural. Dari sana lahir Scouse Spirit, sebuah semangat bagi para Scousers (julukan untuk warga lokal Liverpool) yang bermuatan solidaritas tanpa pamrih dan perlawanan budaya yang memupuk identitas kolektif. Istilah Scouse sendiri berasal dari kata "lobscouse," yaitu sejenis semur yang populer di kalangan pelaut Eropa Utara, ini menjadi comfort food bagi para Pelaut dan warga sekitar Kota Liverpool.
Liverpool membuktikan bahwa identitas lokal dan kearifan kebersamaan bisa menjadi senjata menentang penindasan struktural: pelabuhan yang dulu kumuh kini diubah menjadi ikon wisata budaya (misalnya Albert Dock yang sekarang berstatus warisan kota), dan solidaritas warga mengisi celah kebijakan pemerintah. Scouse Spirit mengajarkan bahwa dari kekerasan dan kemiskinan, lahir kreativitas perlawanan budaya bukan dengan senjata, melainkan dengan identitas komunitas yang kuat.
Stuart Hall (1973) menegaskan bahwa “cultural resistance” muncul ketika identitas lokal menjadi senjata menentang struktur penindasan. Identitas kelautan Belawan, jaringan nelayan tradisional, ikatan pekerja pelabuhan, dan kekerabatan pesisir adalah modal sosial yang bisa diasah. Semangat kebersamaan ini bukan radikal dan tidak menuntut revolusi paksa, melainkan memanfaatkan “kearifan lokal sebagai senjata melawan penindasan”. Alih-alih menunggu janji calon pemimpin, rakyat Belawan sendiri bisa memecah kebisuan melalui aksi bersama. Misalnya, perpustakaan komunitas yang disulut kerusuhan di Liverpool dibangun kembali dengan dukungan warga.
Belawan dapat meniru gerakan bottom-up ini: menyalurkan ketidakpuasan melalui gotong royong, kampanye pendidikan politik, dan aksi damai menuntut perbaikan. Dari Liverpool ke Belawan, yang diambil bukan sekadar istilah “Scouse”, tetapi esensinya: Rasa memiliki (ownership) atas kota pelabuhan sendiri. Jika warga Medan Utara mulai merasa bangga menjadi bagian dari identitas pesisir (mirip Scousers Liverpool), maka kekuatan tawar mereka terhadap struktur pemerintahan meningkat. Seni mural, kesenian pantai, solidaritas nelayan, bahkan sepakbola lokal dapat menjadi sarana mengokohkan jiwa kolektif. Penting dicatat bahwa Liverpool selalu mengidentifikasi diri sebagai Scouse, bukan sekadar warga Inggris, menunjukkan kekuatan merasa unik
Sebagai contoh, solidaritas “Scouse” baru-baru ini menjadikan Liverpool kota paling dermawan UK dalam penggalangan dana per kapita. Jika semangat kebersamaan seperti ini muncul di Medan Utara, maka tawaran perubahan struktur sosial menjadi mungkin. Ini menjadi panggilan untuk memupuk kesadaran kolektif, menghidupkan budaya lokal, dan menuntut keadilan yang selama ini terpinggirkan. Apabila akar budaya dan komunitas Medan Utara diasah, persoalan kemiskinan, tawuran, maupun ketimpangan pendidikan bisa mulai dipecahkan dari bawah layaknya “pelabuhan penantang” yang mengubah dermaga menjadi panggung otonomi rakyat.
Kita membawa cerita tentang mural raksasa yang bisa menghidupkan semangat, koperasi nelayan yang bisa menjamin keadilan ekonomi, dan festival pesisir yang merayakan kearifan laut. Seperti Scousers yang menjadikan lobscouse semur para pelaut sebagai simbol kebersamaan, warga Belawan bisa menjadikan setiap tangkapan ikan, setiap bongkar muat kargo, dan setiap langkah di pesisir sebagai sahabat dalam perjuangan Kalau Liverpool pernah membuktikan bahwa dari keping-keping reruntuhan lahir kekuatan kolektif, maka Belawan juga bisa menyalakan obor perubahan dari setiap jalan setapak di pesisir utara Medan. Inilah saatnya kita mengubah dermaga itu menjadi panggung otonomi rakyat karena kebangkitan sejati tak dimulai dari atas, melainkan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.
