Tumpek Uye: Nuansa Baru di Pura Uluwatu dengan Inovasi Kolaboratif

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Udayana
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Landy Zamahsyarie Alit tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
(12/07/2025)
Oleh : Divisi Sosial Budaya KKN PPM Periode XXXI Tahun 2025 Universitas Udayana
Penulis : Landy Zamahsyarie Alit, Ni Kadek Anggun Pratiwi, I Made Sabda Wiguna
Jalan hidup orang-orang Bali adalah mencari keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidupnya. Desa Pecatu memiliki fauna berupa kera-kera yang masih lestari hingga saat ini. ]i. Selain itu, secara adat, masyarakat Bali mengadakan upacara khusus, Tumpek Uye atau yang dikenal Tumpek Kandang, untuk melestarikan makhluk hidup lain.
Upacara Tumpek Uye adalah bentuk penghormatan kepada hewan karena keberadaannya sebagai bagian dari ekosistem. Secara keagamaan, upacara ini merupakan bentuk pemujaan Sang Hyang Pasupati atau Sang Hyang Rare Angon, yang diyakini sebagai penguasa para binatang (Putra, 2021). Di Pura Uluwatu, Tumpek Uye adalah upaya pemberian pakan kepada Wanara (istilah Sansekerta untuk kera).
Pada 12 Juli 2025, perayaan Rahina Tumpek Uye di Pura Uluwatu terlaksana dengan nuansa berbeda dan inovasi kolaboratif. Jika tahun sebelumnya seserahan hanya berupa gebogan buah, kali ini ditambahkan telur ayam sebagai seserahan tambahan untuk asupan vitamin dan protein bagi Wanara. Acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan tari kolosal dari 330 penari cilik. Perayaan ini melibatkan kolaborasi antara Daerah Tujuan Wisata (DTW) Uluwatu, masyarakat dan Pemerintah Desa Adat Pecatu, Pasraman Widya Astiti Dharma Desa Pecatu, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Udayana dan KKN Universitas Hindu Negeri (UHN) Ida Bagus Sugriwa.
Inovasi dalam Perayaan Tumpek Uye
Kepala Desa Adat Pecatu, I Made Sumerta, S.H., menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini dibuat berbeda untuk menghindari kesan monoton. Beliau berinovasi dengan mementaskan tari kolosal dari anak-anak Pasraman Widya Astiti Dharma sebelum puncak acara Tari Kecak pada sore hari. Sekitar 330 penari anak-anak dari Pasraman Widya Astiti Dharma Desa Pecatu, yang terdiri dari siswa-siswi SD kelas 3 hingga 6, ikut serta dalam memeriahkan acara. Meskipun ada hambatan selama persiapan seperti momentum yang bersamaan dengan ngaben massal, semangat dan komitmen untuk menampilkan inovasi terbaik tidak runtuh. Beliau menambahkan,
“Dengan melibatkan stakeholder bersamaan dengan anak-anak dari generasi kini sampai generasi tua, kita akan lakukan yang terbaik”.
Sarana Upacara yang Unik
Umumnya, seserahan Tumpek Uye meliputi buah-buahan dan sarana ibadah seperti bunga. Namun, kali ini Bapak I Made Sumerta berinisiatif menyertakan telur dari peternakan pribadinya. Beliau menjelaskan,
Untuk makanan, saya kira buah-buahan dan jenis-jenis yang lain juga sering disajikan. Oleh sebab itu, saya punya feeling untuk menyediakan telur karena saya beternak ayam petelur. "
Ide ini dilakukan secara spontanitas karena beliau tahu monyet-monyet membutuhkan media vitamin, sehingga ia memilih telur sebagai asupan makanan.
Hal ini menunjukkan bahwa Bapak I Made Sumerta berhasil menghadirkan ide yang unik dan praktis untuk diterapkan pada upacara adat Tumpek Uye kali ini. Telur-telur ini dibagikan kepada para peserta, wisatawan, mahasiswa KKN dari UHN Ida Bagus Sugriwa dan Universitas Udayana, serta para Dosen Pembimbing Lapangan.
Antusiasme Pengunjung
Bapak I Made Sumerta mengapresiasi keberhasilan proses kegiatan Tumpek Uye dalam menarik minat wisatawan domestik dan internasional. Beliau mengungkapkan,
“Untuk antusias seperti kita lihat tadi, begitu kita turunkan gamelan, tamu-tamu menanyakan, 'ada apa ini?'."
Beliau berharap kegiatan ini dapat menarik para wisatawan sehingga mereka tidak jenuh menunggu matahari terbenam dan pertunjukan seperti Tari Kecak akan membuatnya berbeda.
Kesimpulan dari hasil upacara Tumpek Uye tahun ini adalah efisiensi waktu dalam memanajemen rangkaian kegiatan kesenian tari dan upacara adat. Semangat kolaborasi dari berbagai pihak berhasil menghadirkan inovasi yang luar biasa. Kesukarelaan Bapak I Made Sumerta dalam menyumbangkan telur dari peternakannya menghadirkan ide baru, sementara partisipasi anak-anak dari Pasraman Widya Astiti Dharma menjadi langkah tepat untuk melestarikan budaya lewat pengenalan langsung.
Referensi :
Bali Bercerita. (2025, Juli 14). Tumpek Uye di DTW Uluwatu, Implementasi Tri Hita Karana dan Wana Kertih [YouTube]. Pura Luhur Uluwatu, Bali, Indonesia. https://www.youtube.com/watch?v=pooO_Fk7NC8
Putra, I. W. S. (2021, Desember 30). Etika Hindu dalam Pelaksanaan Upacara Tumpek Uye pada Masyarakat Hindu di Bali. Jurnal Studi Agama, 4(2), 17-28. 10.33363/swjsa.v4i2.725
