Konten dari Pengguna

Jebakan Ramalan di Ambang Gerbang Perguruan Tinggi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratna Sarianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kampus. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kampus. Foto: Shutterstock

Sains dan mitos sering kali bertabrakan bukan di laboratorium atau ruang seminar, melainkan di ambang pintu rumah kita sendiri. Di Manggarai, melangkah ke perguruan tinggi yang mana merupakan sebuah institusi tertinggi untuk penyemaian rasionalitas sering kali diawali oleh ritual adat teing hang (Memberi sesajen kepada leluhur). Ritual ini pada hakikatnya adalah wujud rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan permohonan doa restu untuk keselamatan sang anak. Namun, ada satu bagian dari rangkaian prosesi tersebut yang kerap menyisakan teka-teki pemikiran: toto urat, yaitu tradisi membaca tanda-tanda pada jeroan atau usus ayam untuk memprediksi masa depan.

Ironi dimulai dari selembar organ dalam tersebut. Ketika tetua yang melaksanakan toto urat menemukan penafsiran yang dianggap "janggal", sebuah beban psikologis tak kasat mata langsung dibebankan ke pundak si calon mahasiswa. Tanpa disadari, sebuah benih sugesti negatif telah ditanamkan sebelum si anak sempat menginjakan kaki di ruang kuliah.

Jebakan Self-Fulfilling Prophecy dan Bias Konfirmasi

Perkuliahan adalah dinamika yang penuh tantangan. Di tengah jalan, mahasiswa sangat wajar menghadapi rintangan, mulai dari kesulitan finansial, penurunan nilai akademis, masalah kesehatan mental, hingga konflik relasi. Dalam kacamata rasional, masalah-masalah ini membutuhkan solusi konkret: manajemen keuangan, strategi belajar, konsultasi medis, atau bimbingan akademik.

Namun, ketika rintangan itu datang, ingatan keluarga kerap terbang kembali pada peristiwa toto urat berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang lalu. “Hitu to, ai bom toe poli ita duku toto urat nepisa” (Nah kan, benar tanda-tanda pada usus ayam waktu teing hang tempo hari). demikian kesimpulan yang diambil. Di sinilah fenomena psikologis yang disebut self-fulfilling prophecy (ramalan yang terwujud karena disugestikan) dan confirmation bias (kecenderungan hanya mengingat hal yang cocok dengan keyakinan awal) bekerja sempurna. Kegagalan atau hambatan tidak lagi dianalisis sebab-akibatnya secara ilmiah, melainkan dimaklumi dan dikonfirmasi sebagai "takdir yang sudah diramalkan".

Di luar ritual awal perkuliahan tersebut, pola pikir serupa juga kerap dipelihara melalui kebiasaan sehari-hari seperti toto kopi (Menganalisa ampas kopi dalam gelas kaca). Kebiasaan menganalisa ampas kopi sebelum atau di tengah menjalani aktivitas sering kali dijadikan instrumen instan untuk meraba masa depan, kecocokan langkah, atau potensi kesialan. Ketika suatu hari urusan kuliah atau pekerjaan melenceng dari harapan, kebiasaan melihat tanda-tanda di dasar gelas kaca itu langsung ditarik sebagai penjelasan atas kegagalan yang terjadi.

Lebih tragis lagi, ketika rintangan itu makin menekan, orang tua memilih menggunakan jasa ata mbeko (orang pintar/dukun) untuk "membersihkan" atau mengatasi hambatan tersebut. Sebuah tindakan irasional diambil untuk menyelesaikan persoalan di lembaga yang justru menuntut rasionalitas.

Kegagalan Pendidikan Formal

Yang paling memprihatinkan dari siklus ini bukan hanya sikap orang tua, melainkan respons sang anak. Sebagai seseorang yang dididik di bangku perkuliahan tempat dia belajar metode ilmiah, logika formal, dan analisis data, sang anak justru ikut terlarut dan percaya pada pola penyelesaian irasional tersebut.

Mengapa ini terjadi? Karena pendidikan formal kita sering kali hanya menyentuh permukaan tekstual. Kampus berhasil mentransfer teori dan sains di atas kertas, tetapi gagal menanamkan daya nalar kritis dalam kehidupan nyata. Ketika berhadapan dengan kecemasan, ketakutan akan kegagalan, dan tekanan sosial, nalar ilmiah yang dipelajari di kelas runtuh seketika, mengalah pada cara berpikir intuitif-magis yang sudah mengakar sejak kecil.

Jika seorang sarjana atau mahasiswa tidak mampu membebaskan dirinya sendiri dari cengkeraman sugesti irasional, maka siklus ini akan terus berlanjut. Ia akan mewariskan pola pikir yang sama kepada anak-cucunya di masa depan, meskipun mereka hidup di era serba digital dan bergelar akademis mentereng.

Menjaga Nilai Budaya Tanpa Mematikan Akal Sehat

Gagasan ini sama sekali tidak bertujuan untuk mendiskreditkan atau menghapus budaya teing hang. Budaya tersebut adalah warisan leluhur Manggarai yang sangat baik dan bersifat sebagai sebuah medium perekat kekeluargaan, nilai kesantunan, dan penghormatan spiritual. Yang perlu dirawat adalah nilainya, sementara yang harus dikritisi adalah penafsiran fatalistis yang merenggut daya kritis manusia.

Untuk mengurai benang kusut ini tanpa merusak tatanan adat, upaya transformasi harus dimulai dari cara generasi terdidik mendudukkan kembali teing hang pada fungsi utamanya sebagai simbol doa, silaturahmi, dan permohonan restu spiritual-sosial, sehingga jika ditemukan tafsir toto urat yang buruk, hal itu hanya dimaknai sebagai pengingat untuk berhati-hati, bukan vonis kegagalan. Sejalan dengan itu, lembaga pendidikan di daerah perlu mendesain pembelajaran yang membiasakan siswa menguji asumsi serta menganalisis hubungan sebab-akibat berbasis fakta empiris, bukannya memasrahkan masalah pada ramalan. Pada saat yang sama, masyarakat dan keluarga membutuhkan literasi manajemen krisis serta kesehatan mental untuk memahami bahwa rintangan kuliah adalah bagian normal dari proses pendewasaan yang membutuhkan dialog terbuka, pendampingan, atau solusi finansial terukur, alih-alih pelarian ke jalur mistis.

Pendidikan sejati seharusnya berfungsi memerdekakan pikiran manusia dari belenggu kecemasan dan mitos irasional. Menghormati leluhur dan menjaga tradisi Manggarai adalah kewajiban kultural, namun mengasah akal sehat untuk memecahkan masalah kehidupan adalah tuntutan zaman. Sudah saatnya kita membawa sains masuk ke dalam rumah, tanpa harus mengusir adat dari dalamnya.