Huta Siallagan: Saat Wisata, Budaya, dan Pembelajaran di Satu Tempat

Syahbrina Nasution adalah seorang Mahasiswi Ilmu Sejarah dari Universitas Sumatera Utara.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syahbrina Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Huta Siallagan menjadi salah satu destinasi wisata budaya di Samosir yang masih menjaga warisan budaya Batak Toba hingga saat ini. Kampung adat ini tidak hanya menawarkan keindahan wisata sejarah, tetapi juga menjadi tempat pembelajaran tentang tradisi, rumah adat, dan kehidupan masyarakat Batak Toba.
Horas... horas... horas!
Setiap pengalaman pasti menyimpan cerita di dalamnya. Banyak hal di sekitar kita yang menarik untuk dibahas karena meninggalkan pelajaran dan cara pandang yang berbeda bagi setiap orang. Budaya bukan hanya tentang tradisi yaang diwariskaan secara turun-temurun. Akan tetapi, juga tentang masyarakat yang menjaga identitas dan nilai kehidupan di masyarakat. Semuanya mencermikan kehidupan di depan masyarakat dunia.
Huta Siallagan merupakan destinasi wisata yang bisa kita kunjungi untuk belajar budaya, nilai dan identitas budaya masyarakat Batak Toba. Mulai dari sejarah masa lalu sampai masa kini. Di dalamnya kita akan dipandu oleh tour guade untuk mengenal semuanya. Setiap sudut di kawasan ini menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat Batak Toba, mulai dari sistem adat, bentuk rumah tradisional, hingga peninggalan bersejarah yang masih berdiri kokoh. Melalui penjelasan yang diberikan, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan tempatnya, tetapi juga memahami makna dan filosofi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Huta Siallagan adalah cagar budaya desa adat Batak Toba yang berlokasi di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Tiket masuk ke Huta Siallagan (Kampung Siallagan) di Samosir sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per orang. Tempat wisata sejarah ini beroperasi dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Saya melihat di dalam Huta Siallagan terdapat Rumah Bolon yaitu tempat tinggal masyarakat. Terdapat juga Pohon Beringin, Kursi Meja dari batu/beton, Patung dan Ukiran Gorga, tempat persidangan, Museum dan koleksi Benda Adat.
Selain warisan benda, terdapat juga warisan tak benda. Seni pertunjukan tari, musik dan pertunjukan hukum adat masyarakat di zaman lampau di kerajaan Batak Toba.
Namun, pernahkah kita berpikir mengapa tempat ini masih begitu dijaga hingga sekarang? Apa yang membuat Huta Siallagan bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan ruang yang menyimpan cerita, tradisi, dan jejak kehidupan masyarakat Batak Toba dari generasi ke generasi? Lalu, apa saja cerita yang sebenarnya tersembunyi di balik rumah adat, batu persidangan, dan setiap sudut kampung tradisional ini? Mengapa warisan budaya tersebut masih terus dipertahankan hingga sekarang? Karena itu, Melalui Huta Siallagan, kita tidak hanya diajak melihat peninggalan budaya, tetapi juga belajar menghargai cerita dan nilai kehidupan masyarakat Batak Toba yang diwariskan dari masa ke masa.
Di Huta Siallagan kita dapat melihat ukiran cicak (Boraspati ni Tano) dalam kehidupan selalu menempel. Orang Batak itu diibaratkan seperti cicak yang menempel. Artinya di mana-mana selalu ada orang Batak, juga sebagai simbol penjaga. Lalu ornamen payudara perempuan (adop-adop) merupakan simbol kesuburan. Pepatah Batak mengatakan kalau Sai tubu ma anak muna 17, dohot boru muna 16 yang artinya dalam berumah tangga berharap punya anak laki-lai dan perempuan. Makanya zaman dahulu, mereka cari perempuan yang besar, karena subur.
Rumah adat juga memiliki makna. mulai dari atap, tangga, ukiran gorga dan bawah rumah semua memiliki makna. Atap yang di depan pendek artinya orangtua, atap yang dibelakang artinya anak-anak, jumlah tangga yang ganjil artinya raja, juga di rumah harus duduk di lantai atau ditikar. Tidak boleh di atas. Kalau sudah malam, di bawah rumah adalah tempat pembuangan air besar.
Terlihat kursi meja batu di dekat pohon beringin itu merupakan tempat diskusi raja-raja besama penasehatnya dan penuturannya lalu prajuritnya. Sebelum datangnya agama, masyarakat masih percaya anismisme yaitu sihir. Ketika ada seseorang yang melakukan kejahatan terdapat juga tempat yang untuk memenggal kepala orang, yang dibunuh oleh si dukun.
Nah, disini kita dapat melihat langsung pertunjukan yang di praktikkan oleh tour guade. oh ya, karena kemaren saya ramai-ramai bersama teman-teman kuliah kami memperhatikan secara langsung daan dibantu salah satu dari kami.
Huta Siallagan selalu ramai dikunjungi berbagai kalangan wisatawan. Mulai dari mahasiswa luar negeri yang datang untuk mempelajari budaya Batak Toba, pelajar yang melakukan kunjungan edukasi, hingga wisatawan umum yang ingin menikmati suasana kampung adat dan mendengar cerita sejarah secara langsung. Kehadiran para pengunjung dari berbagai daerah bahkan negara membuat Huta Siallagan menjadi tempat pertemuan budaya dan ruang belajar terbuka tentang sejarah, adat, serta kehidupan masyarakat Batak Toba.
Para mahasiswa biasanya tertarik mempelajari sistem adat, bentuk rumah tradisional, hingga nilai sosial masyarakat Batak Toba. Sementara itu, para pelajar memanfaatkan kunjungan ini sebagai pembelajaran di luar kelas agar lebih memahami sejarah dan budaya secara langsung. Tidak sedikit juga wisatawan umum yang penasaran dengan cerita batu persidangan Raja Siallagan serta filosofi ukiran gorga yang terdapat di rumah adat.
Suasana di Huta Siallagan menjadi semakin hidup ketika tour guide mulai menjelaskan sejarah kampung adat dengan cara yang menarik dan interaktif. Pengunjung dapat bertanya langsung, melihat peninggalan sejarah dari dekat, bahkan menyaksikan pertunjukan budaya tradisional Batak Toba. Hal inilah yang membuat Huta Siallagan bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga pusat edukasi budaya yang terus menarik perhatian banyak orang.
Saat kita mau keluar dari Huta Siallagan kita akan memasuki pasar tradisional yang menjual banyak cendra mata hasil kerajinan tangan. Di sepanjang area pasar, pengunjung dapat menemukan berbagai souvenir khas Batak Toba seperti kain ulos, gelang, kalung, gantungan kunci, ukiran kayu, miniatur rumah adat, hingga aksesoris dengan motif gorga yang unik dan menarik.
Keberadaan pasar tradisional ini juga membantu perekonomian masyarakat sekitar karena hasil karya mereka dapat dikenal oleh wisatawan dari berbagai daerah maupun luar negeri. Dengan membeli cendera mata khas Huta Siallagan, pengunjung tidak hanya membawa pulang kenang-kenangan, tetapi juga ikut mendukung pelestarian budaya dan usaha masyarakat lokal.
Atas pengalaman yang diberikan, Huta Siallagan menjadi destinasi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pembelajaran berharga tentang sejarah dan budaya Batak Toba.
Yuk kita jaga warisan budaya Indonesia. Supaya masih bisa kita wariskan ke generasi-generasi berikutnya.
Horas... horas... horas!
Syahbrina Nasution, Mahasiswa Ilmu Sejarah USU
