Kampung Ulos Huta Raja tempat Wisata yang Menyimpan Warisan Benda Batak Toba

Syahbrina Nasution adalah seorang Mahasiswi Ilmu Sejarah dari Universitas Sumatera Utara.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syahbrina Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Horas!
Pernah ngerasain masuk ke tempat yang langsung bikin kamu “wah, ini beda banget”? Kampung Ulos Hutaraja punya feel itu. Di sini, tradisi nggak cuma jadi pajangan, tapi benar-benar hidup dari rumah adat yang ikonik sampai suara tenun ulos yang terus berdenting. Semua terasa hangat, autentik, dan penuh cerita.
Cerita ini saya bagikan karena pengalaman yang nyata ini sangat menyenangkan.
Kampung Ulos Hutaraja terletak di Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Kampung Ulos Hutaraja merupakan salah satu kawasan wisata budaya yang terletak di Pulau Samosir dan dikenal sebagai pusat pelestarian kain ulos, warisan budaya khas masyarakat Suku Batak Toba. Di dalam kampung ini dapat kita saksikan langsung warisan budaya yang masih mempertahankan warisan leluhur.
Bisa kita lihat terdapat rumah Bolon dengan ciri khasnya, dan di depannya kita menyaksikan perempuan-perempuan yang sedang menenun kain ulos yang menjadi salah satu daya tarik dari kampung ulos Huta Raja. Selain itu, ulos tidak hanya dipandang sebagai produk tekstil, tetapi juga sebagai simbol identitas, serta bagian integral dalam berbagai upacara adat masyarakat Batak, seperti pernikahan, kelahiran, hingga kematian.
Ulos memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan kasih sayang (holong), penghormatan, serta doa dan harapan bagi penerimanya, sehingga keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial dan sistem nilai masyarakat Batak Toba.
Kampung Ulos Hutaraja memiliki peran penting dalam mempertahankan tradisi menenun ulos di tengah perkembangan zaman. Selain itu, ulos tetap digunakan dalam berbagai upacara adat sebagai simbol penghormatan, kasih sayang, dan doa. Namun demikian, perubahan sosial dan modernisasi turut mempengaruhi eksistensi tradisi ini, terutama dalam hal minat generasi muda dan pola produksi yang mulai beradaptasi dengan kebutuhan pasar.
Kain ulos ditenun secara langsung oleh generasi asli yang diwariskan secara turun temurun. Dari opung lalu sampai ke ibu dan diajarkan kepada anak perempuan dengan teknik ciri khas asli. Selain pembuatannya lama dan rumit, teknik asli yang diajarkan juga membuat kain ulos bisa mencapai harga puluhan juta rupiah.
di sini, juga terdapat rumah adat batak atau biasa kita sebut Rumah Bolon. Rumah di kampung ini masih mempertahankan ciri khasnya, dari dalam maupun di luarnya. Ujung atap yang runcing dan lentik yang memiliki makna yang mendalam.
Dalam bahasa Batak Toba, makna atap bisa dijelaskan seperti ini:
“Atap ni Rumah Bolon i marhite na jolo tu ginjang, tanda ni pangarap dohot pangidoan tu Debata, asa dapot pasu-pasu, hagabeon, hamoraon, dohot hasangapon.”
Artinya dalam bahasa Indonesia: Atap Rumah Bolon yang menjulang ke atas melambangkan harapan dan doa kepada Tuhan (Debata), agar memperoleh berkat, keturunan (hagabeon), kekayaan (hamoraon), dan kehormatan (hasangapon).
Rumah adat ini masih bertahan keasliannya dari generasi sebelumnya ke generasi sekarang. Rumah Bolon dipertahankan oleh tuan rumah dengan rasa bangga dan rasa hormat. Setiap detail yang terdapat di rumah tersebut memiliki filosofi mendalam. Mulai dari angka tangga yang ganjil, ukiran gorga yang khas dengan warna merah, hitan dan putih. Juga, tempat tidur asli yang masih asli.
Bentuk atap yang tinggi pada Rumah Bolon melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan (Debata), yang menunjukkan bahwa kehidupan manusia senantiasa terarah kepada Yang Maha Kuasa. Ujung atap yang runcing menggambarkan harapan dan cita-cita yang terus menjulang ke atas, sebagai simbol semangat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
"Bentuk atap yang di depan lebih pendek dibandingkan dengan atap yang dibelakang, memiliki arti kalau orangtua akan berusaha mecari rezeki untuk anaknya mencari ilmu setinggi-tingginya, dan begitu anaknya berhasil, akan menuai hasilnya." Begitu penjelasan dari tuan rumah dari salah satu pemilik rumah bolon tersebut.
Sementara itu, ukiran gorga pada bagian atap memiliki makna sebagai perlindungan dan kekuatan spiritual, yang dipercaya mampu menjaga penghuni rumah dari hal-hal buruk serta memberikan keseimbangan dalam kehidupan.
Di kampung ulos, kita tidak hanya menikmati pemandangan di mana kain ditenun. kita bisa mengamati langsung kain ulos yang sudah jadi di galeri ulos. Terdapat pameran kain ulos dengan berbagai jenis dan motif.
Kain ulos di galeri bisa dibeli sebagai cendramata. Selain kain ulos, kita bisa juga membeli cendramata lain hasil kerajinan tangan di sana.
Dari sana saya belajar bahwa tradisi, warisan benda jika dilestarikan akan menyimpan pengalaman yang berharga ketika warisan budaya dijaga turun-temurun dari generasi ke generasi yang tidak lekang oleh zaman.
Di belakang rumah bolon, terdapat pohon beringin besar dan tinggi. Pohon beringin itu merupakan pohon mistis penjaga tanah, sebelum medekati pohon, mestilah minta izin terlebih dahulu.
Pernah ada kejadian nyata, seorang pengunjung datang ke kampung ini, dia ingin buang air kecil. dan tidak bertanya terlebih dahulu kepada masyarakat yang tinggal di sana. Akhirnya, ia buang air kecil sembarangan. Dekat pohon tersebut. setelah dia pergi dari kampung tersebut, seorang pengunjung tersebut kecelakaan dan meninggal dunia. Kisah ini saya dengar langsung dari pemilik rumah bolon tersebut.
Di tengah rumah bolon terdapat kuburan, turun temurun. Kuburan tersebut ada dua, yang satu mirip rumah bolon kecil yang lebarnya hanya 1 meter setengah, dan satu lagi di bawah, tempat mayat dikubur.
Kuburan di bawah adalah tempat penyimpanan mayat yang baru. Kuburan yang menyerupai rumah bolon adalah tempat penyimpanan tulang-belulang mayat yang sudah lama. Disekitarnya terdapat patung yang menjadi simbol nenek moyang.
Di sana kita juga bisa menikmati minum di cafe dan makanan sambil memandangi view danau toba dengan perasaan tenang dan santai. Tempat yang cocok sebagai tempat liburan wisata alam dan wisata budaya.
Yukk, kita menjaga dan melestarikan warisan budaya benda dan tidak benda di negara kita sendiri. Horas.. horas.. horas!
Syahbrina Nasution, Mahasiswi Ilmu Sejarah USU.
