Karya Tanpa Jiwa: AI dan Kematian Imajinasi dalam Dunia Seni

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kanahaya Aulia Az-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah euforia teknologi, hadirnya AI yang mampu “menggambar” dalam hitungan detik disambut dengan kekaguman. Gambar-gambar beresolusi tinggi, bergaya unik, dan tampak “orisinil” kini bisa dibuat tanpa pensil, kuas, atau bahkan imajinasi. Namun di balik visual yang memanjakan mata, ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: apakah gambar yang diciptakan oleh mesin benar-benar bisa disebut karya seni? Dan lebih jauh lagi, bagaimana nasib para seniman manusia—mereka yang selama ini mencurahkan waktu, rasa, dan jiwa untuk setiap goresan?
Berbeda dengan manusia yang mencipta dari ingatan, emosi, dan pengalaman, AI hanyalah mesin yang mengolah data dalam jumlah besar lalu menghasilkan visual baru berdasarkan pola-pola statistik. Tidak ada proses perenungan, tidak ada kegelisahan, tidak ada makna yang lahir dari kesadaran batin. Apa yang disebut “kreativitas” dalam AI sebenarnya hanyalah imitasi. Ia meniru, menyusun ulang, dan menyajikan hasil akhir yang tampak baru—padahal sejatinya berasal dari potongan-potongan karya yang pernah dibuat manusia sebelumnya.
Tak sedikit seniman yang menyuarakan keresahan ini, terutama di platform X (sebelumnya Twitter). Berikut beberapa cuitan yang mencerminkan kekhawatiran tersebut:
Akun @cacingjempol menulis "Data ai itu hasil mencuri hak cipta banyak artist.. literally pake gambar orang lain buat ngetrainingnya. Itu udah melanggar hak cipta banget. Bahkan developernya pun sadar kalo itu melanggar hak cipta sampe dibikin open source karna mereka gamau bayar hak cipta" (lihat tweet disini)
Sementara itu, akun @ronuraven menyuarakan keresahan yang lebih teknis "Ngonsep, bikin cerita, paneling, bikin komposisi, nentuin ekspresi, gestur, warna, efek buat mendukung mood gambar adalah 'seni' itu sendiri. Dan yg pasti bukan sesuatu yg bisa direplace hanya dgn prompt buat digenerate sama AI" (lihat tweet disini)
Pernyataan-pernyataan ini bukan sekadar keluhan personal, tetapi refleksi dari pergeseran nilai dalam dunia seni. AI memang memudahkan, tapi dalam kemudahan itu, kita kehilangan sesuatu yang esensial: proses yang lambat, penuh pencarian, dan kadang menyakitkan—yang justru melahirkan makna. Seni bukanlah soal hasil akhir semata, tapi tentang bagaimana sesuatu diciptakan. Ketika proses penciptaan itu diambil alih oleh mesin, kita kehilangan cerita yang menyertai setiap karya.
Namun di tengah pergeseran ini, muncul pula gelar baru yang mulai banyak disematkan di media sosial: AI artist atau seniman AI. Istilah ini terdengar mewah, seolah menyetarakan seseorang yang mengetikkan perintah (prompt) ke mesin dengan mereka yang selama ini menggambar berulang kali, mencoba teknik baru, dan menuangkan batin dalam karyanya. Padahal, yang dilakukan oleh para “pengguna AI” bukanlah praktik seni, melainkan proses penyusunan instruksi teknis untuk memicu respons mesin. Mereka bukan pencipta visual, melainkan penyunting instruksi. Seni bukan sekadar soal hasil, tapi tentang hubungan antara pikiran, rasa, dan medium—hubungan yang tak pernah dimiliki oleh AI, apalagi oleh mereka yang hanya mengoperasikannya dari balik layar.
Lebih jauh, konsumsi seni yang kini bergeser ke arah visual instan dari AI membawa dampak nyata. Seniman ilustrator mulai kehilangan pekerjaan karena klien lebih memilih “gambar murah” dari AI. Penikmat seni pun terbiasa dengan gaya visual yang homogen, kehilangan keberagaman gaya. Lama-lama, kita bukan hanya mengganti alat, tapi mengganti cara kita memaknai seni itu sendiri.
Lantas, apakah kita sedang membunuh imajinasi? Ketika kita lebih memilih gambar instan daripada karya yang diciptakan dengan kesadaran dan perasaan—ketika kita memuja hasil tanpa menghargai proses—mungkin jawabannya iya. Dan jika itu benar, maka kita tak hanya kehilangan seniman, tapi juga kehilangan bagian dari kemanusiaan kita sendiri.
Di akhir tulisan ini, saya tidak hendak memusuhi teknologi. Tapi saya mengajak kita semua untuk lebih kritis. Mengingat bahwa di balik kemajuan AI, ada ruang-ruang yang tidak boleh kita hilangkan: ruang untuk berkarya, bermimpi, dan merasa. Karena karya dari mesin mungkin bisa memenuhi layar—tapi hanya karya dari manusia yang bisa menyentuh hati.
