Konten dari Pengguna

Dari Kulit Pisang Jadi Teh Herbal, Mahasiswa Berdayakan Warga Desa Suco

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nova Dwi Rivelia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa PROMAHADESA dan masyarakat desa Suco mengikuti pelatihan pembuatan Sucotea di balai desa Suco, Mumbulsari, Jember.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa PROMAHADESA dan masyarakat desa Suco mengikuti pelatihan pembuatan Sucotea di balai desa Suco, Mumbulsari, Jember.

Jember — Kulit pisang yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Hal tersebut diperkenalkan mahasiswa melalui kegiatan pelatihan pembuatan Sucotea, teh herbal berbahan dasar kulit pisang, kepada masyarakat Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program PROMAHADESA yang mendorong mahasiswa untuk berkolaborasi dengan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal desa. Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diajak untuk melihat bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya sebagai limbah tetapi juga sebagai bahan baku produk olahan.

Dalam kegiatan pelatihan, mahasiswa terlebih dahulu memperkenalkan Sucotea kepada peserta. Penjelasan mencakup latar belakang pengembangan produk, pemanfaatan kulit pisang, serta peluang pengolahan bahan lokal menjadi produk yang lebih bernilai.

Setelah sesi pengenalan, peserta diajak mengikuti proses pembuatan Sucotea secara langsung. Mahasiswa mendampingi masyarakat mulai dari tahap persiapan bahan, pencucian kulit pisang, pemotongan, hingga proses pengeringan. Bahan yang telah melalui proses pengolahan kemudian dipersiapkan sebagai bahan dasar teh herbal.

Praktik secara langsung menjadi salah satu bagian penting dalam pelatihan. Masyarakat tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengolah bahan baku menjadi produk. Pendampingan dilakukan selama proses berlangsung agar setiap tahapan dapat dipahami dan diterapkan kembali oleh peserta.

Kegiatan berlangsung dalam suasana interaktif. Peserta turut berdiskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai proses pengolahan maupun kemungkinan pengembangan Sucotea. Antusiasme tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat terhadap inovasi yang memanfaatkan bahan yang mudah dijumpai di lingkungan desa.

Pengembangan Sucotea juga membawa pesan mengenai pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal. Kulit pisang yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diarahkan menjadi produk olahan melalui proses yang relatif sederhana. Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan pemanfaatan hasil samping pertanian kepada masyarakat.

Selain aspek pengolahan, mahasiswa juga memperkenalkan pentingnya pengemasan produk. Produk olahan berbasis potensi lokal tidak hanya membutuhkan kualitas bahan dan proses produksi, tetapi juga tampilan yang menarik agar memiliki daya saing apabila dikembangkan lebih lanjut.

Bagi masyarakat Desa Suco, pelatihan ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dan keterampilan dalam mengembangkan produk berbasis bahan lokal. Sucotea juga berpotensi menjadi salah satu ide usaha yang dapat dikembangkan apabila didukung dengan peningkatan kualitas, inovasi produk, serta strategi pemasaran yang tepat.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PROMAHADESA untuk membangun kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di lingkungan akademik diimplementasikan melalui kegiatan yang menyentuh kebutuhan dan potensi masyarakat secara langsung.

Melalui inovasi Sucotea, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal sederhana. Pemanfaatan kulit pisang sebagai bahan teh herbal menjadi contoh bahwa potensi yang ada di sekitar desa dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai.

Dengan adanya kegiatan pelatihan ini, diharapkan masyarakat Desa Suco semakin terdorong untuk mengembangkan kreativitas berbasis potensi lokal serta menciptakan berbagai inovasi produk yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat.