Konten dari Pengguna

Masjid Pathok Negoro Plosokuning: Warisan Islam Mataram yang Masih Berdiri Kokoh

Ahsana Matsway Benta Khot

Ahsana Matsway Benta Khot

Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahsana Matsway Benta Khot tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masjid Pathok Negoro Plosokuning terletak di Minomartani, Sleman, Yogyakarta. Masjid ini merupakan salah satu dari lima Masjid Pathok Negoro di Yogyakarta yang berdiri sejak zaman kerajaan Mataram Islam.

Bangunan Masjid Pathok Negoro Plosokuning tidak jauh berbeda dengan masjid yang lain. Terdapat nuansa Jawa kuno dalam arsitektur masjid ini. Contohnya seperti struktur atap, kolam di sisi kanan dan kiri masjid, dan ubin masjid yang bernuansa vintage.

Bagian depan masjid. Kredit foto: Ahsana Matsway Benta Khot
zoom-in-whitePerbesar
Bagian depan masjid. Kredit foto: Ahsana Matsway Benta Khot

Ketika kita masuk melalui gapura samping masjid yang ada di dekat jalan, kita disuguhi dengan gapura yang bernuansa vintage ala bangunan Jawa-Belanda pada tahun 1800an, berwarna putih, dan plang keterangan nama masjid di depan pagar.

Pintu masuk (bagian samping) area masjid. Kredit foto: Ahsana Matsway Benta Khot

Setelah kita masuk, terdapat plang kedua yang menjelaskan mengenai status masjid ini sebagai cagar budaya yang dilindungi di Indonesia.

Plang masjid sebagai cagar budaya. Kredit foto: Ahsana Matsway Benta Khot

Di halaman masjid, kita bisa melihat kolam di sisi kanan dan kiri dengan bagian tengahnya adalah koridor menuju masjid. Koridor ini menuju ke selasar masjid yang disana terdapat rak untuk Al-Qur'an dan kitab-kitab lain.

Tampak samping masjid. Kredit foto: Ahsana Matsway Benta Khot

Masuk lebih ke dalam lagi, kita akan sampai pada bagian utama masjid yakni tempat shalat utama dan mimbar masjid. Arsitektur bangunan yang ada didalam sana masih bernuansa kuno dengan cat warna putih, tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu besar untuk ukuran masjid Jami’.

Mimbar masjid. Kredit foto: Ahsana Matsway Benta Khot

Salah satu yang menarik perhatian kami ketika melakukan kunjungan adalah bahwa bagian samping dari masjid ini adalah Taman Kanak-kanak. Akibatnya, suasana sekitar masjid juga ramai oleh lalu-lalang anak-anak dan orang tua wali yang menunggu di Selasar masjid.

Kemudian, jika kita beralih ke gapura depan kita akan menemukan pemukiman warga. Pada saat itu, kami berhasil bertemu dengan warga sekitar yang menyiapkan makanan untuk makan bersama selepas Shalat Jumat.

Terakhir, kunjungan kami ke Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning bukan sekadar melihat bangunan tua, tapi menyentuh langsung napas sejarah yang masih hidup di tengah masyarakat. Masjid ini tidak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai saksi bisu peradaban Islam Jawa yang terus dijaga hingga kini.

Kami belajar bahwa keberadaan masjid ini menyimpan banyak pesan: pentingnya merawat peninggalan budaya, memperkuat identitas spiritual, dan menumbuhkan rasa kebersamaan lintas generasi. Melihat anak-anak berlarian di sekitar masjid, warga yang bergotong-royong menyiapkan makanan, dan suasana damai yang menyatu dengan nilai keislaman, memberi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

Dari kunjungan ini, kami pulang dengan semangat baru—bahwa masjid bukan sekadar tempat salat, tetapi juga ruang untuk belajar menghargai, bersilaturahmi, dan mengenang akar sejarah kita.