Konten dari Pengguna

Attending dan Empati sebagai Fondasi Konseling Berbasis Pawongan

I KADEK MAHA DANENDRA

I KADEK MAHA DANENDRA

mahasiswa aktif Universitas Pendididkan Ganesha

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari I KADEK MAHA DANENDRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: I Kadek Maha Danendra, Bimbingan dan Konseling, Universitas Pendidikan Ganesha

Pernahkah Anda merasa begitu lelah, lalu mencoba bercerita kepada seseorang, tetapi alih-alih didengarkan, Anda malah langsung digurui atau dinasihati? Rasanya menyebalkan, bukan? Kita sering kali terjebak dalam jebakan yang sama saat mendengarkan orang lain. Kita ingin cepat-cepat memberikan solusi, padahal yang paling dibutuhkan seseorang hanyalah merasa didengar dan dipahami secara utuh.

Hal inilah yang sering kali menjadi tantangan di dunia konseling. Calon guru BK atau konselor pemula terkadang terlalu cepat berkata, "Sabar ya, semua pasti ada jalan," atau "Coba kamu begini saja." Padahal, teknik canggih apa pun tidak akan berdampak jika konseli bahkan belum merasa aman secara emosional.

Lalu, bagaimana cara kita mengubah ruang konseling menjadi tempat yang benar-benar hangat dan menyembuhkan? Jawabannya terletak pada perpaduan yang indah antara kearifan lokal, teori humanistik, dan teknik komunikasi yang presisi.

Gambar Koseling.Sumber chat Gpt

Menghadirkan Pawongan: Merobohkan Tembok Hierarki

Bayangkan jika hubungan konselor dan konseli tidak lagi kaku seperti hakim dan pesakitan, melainkan mitra setara. Di sinilah Pawongan bagian dari filosofi Tri Hita Karana berperan.

Pawongan mengajarkan kita tentang keharmonisan antarmanusia melalui prinsip:

Asah: Saling mengedukasi dan mencerdaskan.

Asih: Saling menyayangi dan menerima tanpa syarat (unconditional positive regard ala Carl Rogers).

Asuh: Saling membimbing dan merawat.

Dengan nilai PawonGgan, konselor melepas topeng kemahatahuan. Kita hadir dengan kehangatan tulus, memvalidasi pikiran, dan membantu konseli merestrukturisasi sudut pandang mereka dari beban-beban emosional yang menyesakkan.

Dari Teori ke Ruang Praktik: Sebuah Kisah Rian

Agar tidak abstrak, mari kita bayangkan seorang mahasiswa bernama Rian, usia 20 tahun. Rian datang dengan pundak yang lesu dan hati yang penuh sesak.

"IPK saya turun drastis, Kak. Di sisi lain, saya harus narik ojol tiap hari buat bayar kos dan bantu keluarga. Orang rumah tahu-tahu cuma tanya, 'Kenapa nilaimu jelek?' Rasanya mereka nggak pernah ngerti betapa capeknya saya bagi waktu."

Jika kita mendengarkan keluhan Rian, bagaimana kita meresponnya sebagai seorang konselor yang peka? Di sinilah tiga teknik komunikasi mikro bekerja bagaikan seni merajut benang kusut:

Paraphrasing (Menangkap Inti Kognitif)

Alih-alih menceramahi, kita cerminkan dulu isi pesannya dengan bahasa kita sendiri:

"Jadi, kamu merasa kesulitan mempertahankan prestasi karena harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja, sementara keluargamu menuntut nilai tinggi tanpa melihat beban kerjamu."

Rian pun merasa pesannya tertangkap dengan jelas tanpa ada penghakiman.

Reflection of Feeling (Memantulkan Emosi)

Setelah kognitifnya divalidasi, saatnya menyentuh perasaannya yang paling dalam:

"Kamu merasa sangat kecewa dan lelah karena kerja kerasmu tidak dihargai secara adil oleh keluargamu."

Seketika, emosi Rian tervalidasi. Beban di dadanya terasa sedikit ringan karena ada yang mengakui rasa lelahnya.

Summarizing (Merangkum dan Membuka Jalan Keluar)

Ketika emosi mulai mereda, kita satukan kepingan masalah tersebut:

"Mari kita lihat kembali. Di satu sisi, ada tuntutan akademik dan rasa lelah fisik. Di sisi lain, pekerjaan itu adalah satu-satunya jalan agar kamu bisa bertahan kuliah. Dari sini, kelihatannya kita perlu mencari cara untuk mengomunikasikan kondisi riil ini kepada orang tua sekaligus mengatur strategi belajar yang lebih realistis."

Sekarang, Rian tidak lagi merasa terjebak di dalam gelap. Ia melihat ada peta jalan yang bisa dicoba bersama.

Perjalanan Menjadi Pendengar yang Utuh

Tentu saja, perjalanan ini tidak selalu mulus. Kita sering terbentur oleh bias budaya, rasa cemas terbawa suasana (hanyutan emosional), atau godaan untuk menyimpulkan masalah terlalu cepat. Namun, melalui evaluasi mandiri, latihan yang konsisten, dan jurnal refleksi, kepekaan itu bisa diasah dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, perpaduan kearifan lokal Pawongan, empati presisi, dan teknik mikro verbal mengajarkan kita satu hal penting: menjadi konselor bukan tentang seberapa pintar kita memberikan nasihat, melainkan seberapa aman ruang yang kita sediakan bagi orang lain untuk menemukan kembali diri mereka.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda pernah berada di posisi Rian, atau justru pernah mencoba mendengarkan seseorang menggunakan pendekatan yang penuh empati seperti ini?