Konten dari Pengguna

Ketika Capung Tak Lagi Pulang

Mirnawati Safitri

Mirnawati Safitri

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mirnawati Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi capung di antara rerumputan (Foto: fotoblend/Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi capung di antara rerumputan (Foto: fotoblend/Pixabay)

Setiap sore di kampung halaman saya dulu, langit tidak pernah sepi. Capung-capung kecil beterbangan di antara semak dan ilalang, seolah sedang menari di atas panggung alam. Tapi sekarang, langit itu kosong. Capung tidak lagi datang. Sunyi yang menyelinap itu bukan sekadar soal serangga yang hilang. Ini adalah tanda bahwa lingkungan kita sedang tidak baik-baik saja.

Capung adalah bagian dari masa kecil saya. Setiap kali pulang ke kampung di Padang, Sumatera Barat, saya bisa duduk berjam-jam di halaman rumah nenek hanya untuk menikmati suasana sore yang dipenuhi capung. Gerakan mereka terlihat acak, tetapi sebenarnya indah. Waktu seakan melambat. Tidak ada ponsel, tidak ada notifikasi, hanya alam yang bicara lewat angin dan cahaya jingga.

Capung bukan hanya serangga kecil yang menyenangkan untuk dilihat. Mereka punya peran penting dalam lingkungan. Capung membantu mengendalikan populasi nyamuk dan serangga pengganggu lainnya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kualitas air dan udara di suatu daerah masih baik. Ketika mereka menghilang, itu bisa menjadi pertanda bahwa ekosistem sudah terganggu.

Saya kembali ke kampung saat berusia enam belas tahun. Banyak hal yang berubah. Sawah tempat saya bermain dulu kini telah menjadi deretan rumah. Kebun yang dulunya rimbun diganti dengan bangunan dan tempat wisata. Suasananya perlahan menyerupai Jakarta. Tapi yang paling terasa bukan hanya hilangnya ruang terbuka, melainkan juga hilangnya capung. Mereka seolah menghilang tanpa jejak.

Perubahan itu memang membawa manfaat. Warga desa menjadi lebih mudah beraktivitas. Jalan-jalan diperbaiki. Lapangan berubah menjadi pusat wisata. Namun di balik itu semua, ada alam yang perlahan menghilang. Sesuatu yang tidak bisa dibangun kembali dengan semen dan cat warna-warni.

Menurut laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, alih fungsi lahan di Indonesia terus meningkat setiap tahun, terutama di wilayah yang berkembang menjadi kawasan permukiman dan wisata. Hal ini berdampak pada hilangnya habitat alami bagi serangga dan satwa liar. Kajian LIPI juga menunjukkan bahwa populasi serangga penyerbuk seperti kupu-kupu dan lebah mengalami penurunan signifikan, terutama di daerah yang mengalami urbanisasi dan penggunaan pestisida berlebihan.

Kita sering mengaku mencintai lingkungan, tetapi secara tidak sadar justru merusaknya. Kita menanam bunga plastik karena terlihat rapi dan tidak merepotkan. Kita menyemprot tanaman hidup agar tidak dihinggapi serangga. Padahal, serangga-serangga itu adalah makhluk kecil yang menjaga keseimbangan alam.

Kini anak-anak tidak lagi akrab dengan halaman rumah yang hidup. Mereka lebih mengenal karakter dari aplikasi ponsel ketimbang nama-nama serangga di sekitar rumah. Bahkan sebagian dari mereka takut ketika seekor capung masuk ke dalam rumah. Bukan karena serangga itu berbahaya, melainkan karena mereka tidak pernah diajak dekat dengan alam sejak awal.

Menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari proyek besar. Kita bisa memulainya dari rumah. Kurangi penggunaan pestisida. Biarkan ada sedikit semak tumbuh. Tanam bunga alami yang disukai serangga. Jangan bersih-bersih berlebihan sampai tidak menyisakan ruang hidup bagi makhluk lain. Kadang, rumput liar justru lebih hidup daripada taman yang steril tapi kosong.

Saya tidak sedang menyalahkan pembangunan. Tetapi kemajuan seharusnya tidak mengorbankan keindahan dan keseimbangan. Jika capung saja tidak bisa pulang ke kampungnya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita benar-benar merasa pulang ketika yang kita temui hanya suara mesin dan deretan bangunan?

Jika kita terus mengabaikan alam, maka yang hilang bukan hanya suara capung. Tetapi juga rasa tenang, rasa cukup, dan kedekatan manusia dengan lingkungannya sendiri. Capung memang kecil, tetapi kehilangannya adalah isyarat besar. Kita tidak bisa terus menutup mata. Sebelum semua benar-benar hilang, masih ada waktu untuk memperbaikinya.