Konten dari Pengguna

Pemerataan MBG dan Persoalan Ketepatan Sasaran: Siapa yang Harus Didahulukan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natalia Tasya Domara Simanjuntak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://share.google/NiF1PhQc3hIRMx3Rp
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://share.google/NiF1PhQc3hIRMx3Rp

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Sasaran utama program ini adalah anak-anak sekolah ,balita,serta ibu hamil dan menyusui. Program ini diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mendukung kesehatan dan proses belajar tetap berjalan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang ditujukan kepada peserta didik secara luas. Namun, jika kita lihat dari kondisi sekolah yang berbeda-beda, mulai dari kondisi ekonomi hingga kesehatan siswa tentunya tidak sama. Ada sekolah yang sebagian besar siswanya berasal dari keluarga yang cukup mampu dan ada juga yang kurang mampu. Bahkan, sampai pada kondisi kesehatan yang sebagian sekolah mempunyai masalah gizi, stunting atau untuk sebatas kenyang ke sekolah saja siswa nya banyak yang membutuhkan. Ada juga sekolah yang terletak jauh dari perkotaan atau daerah pelosok yang mempunyai keterbatasan akses terhadap program tersebut.

Melihat dari kondisi tersebut, bukankah siswa yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, mengalami masalah gizi yang tinggi, atau stunting bahkan sekolah tersebut berada di pelosok yang seharusnya menjadi prioritas pemerintahan dalam pelaksanaan program ini? bukankah mereka yang paling membutuhkan seharusnya menjadi pihak yang didahulukan?

Pemeratan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini memang sangat membutuhkan waktu. Mulai dari di tetapkannya program ini pada januari 2025 sampai sekarang pemerataan belum juga selesai. Hal ini disebabkan oleh jumlah sekolah dan peserta didik yang harus di jangkau sangat besar, jarak antara dapur dan sekolah yang jauh,terutama sekolah yang berada di tempat terpencil.

Oleh karena itu, pemerataan MBG ini tidak hanya dilihat dari seberapa banyak sekolah yang sudah menerima program tetapi bagaimana pemerintah menentukan sekolah mana yang harus didahulukan ketika kemampuan program ini masih terbatas.

Bukan berarti sekolah yang sebagian besar siswanya mampu tidak berhak mendapatkan MBG. karena, pada dasarnya semua siswa memiliki hak untuk mendapatkan makanan bergizi. Namun, ketika pelaksanaan program masih terbatas, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk memprioritaskan sekolah yang siswanya memiliki kebutuhan ekonomi dan gizi yang lebih tinggi.