Dari Rumah Kita Belajar: Mengapa Uang Terasa Begitu Penting?

Nama saya Noor awaludin firdaus biasa di panggil Awal, saya berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Saya mahasiswa semester 3 di Universitas Jember
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Noor awaludin firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hal-hal yang kita pelajari sejak kecil tanpa pernah benar-benar diajarkan. Salah satunya adalah cara memandang uang.
Mungkin kita pernah mendengar orang tua membicarakan tagihan yang belum dibayar, biaya sekolah yang harus segera dilunasi, atau kebutuhan rumah yang semakin banyak. Awalnya, kita mungkin tidak memahami apa yang sedang terjadi. Kita hanya melihat suasana rumah yang berubah, percakapan yang semakin serius, atau orang tua yang terlihat lelah memikirkan banyak hal.
Dari situ, perlahan-lahan kita mulai menghubungkan keadaan ekonomi dengan rasa aman. Kita merasa bahwa ketika kebutuhan terpenuhi, suasana rumah akan lebih tenang. Sebaliknya, ketika penghasilan tidak cukup, hal-hal sederhana pun bisa menjadi sumber kekhawatiran.
Tanpa disadari, pengalaman tersebut dapat membentuk keyakinan yang kita bawa hingga dewasa: suatu hari nanti, kita harus memiliki cukup uang agar tidak mengalami kesulitan yang sama.
Ketika Masa Kecil Memengaruhi Cara Kita Menjalani Hidup
Pengalaman setiap orang tentu berbeda. Ada yang tumbuh menjadi pribadi yang pandai mengatur pengeluaran karena terbiasa melihat orang tuanya berhemat. Ada pula yang menjadi sangat takut menghadapi kekurangan, bahkan ketika keadaan hidupnya sudah jauh lebih baik.
Sebagian orang merasa harus selalu produktif, sulit beristirahat, atau merasa bersalah ketika menggunakan penghasilannya untuk kesenangan pribadi. Bukan karena mereka tidak mampu menikmati hasil kerja sendiri, melainkan karena ada kekhawatiran bahwa uang yang dimiliki sekarang mungkin tidak cukup untuk menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, mereka terus berusaha mencapai kondisi yang dianggap aman. Namun, setelah satu target terpenuhi, muncul target berikutnya. Ketika penghasilan meningkat, mereka mulai memikirkan kebutuhan lain. Ketika tabungan bertambah, mereka kembali khawatir tentang kemungkinan yang belum terjadi.
Tanpa sadar, mereka bukan hanya sedang membangun masa depan, tetapi juga berusaha menghindari ketakutan yang sudah lama melekat.
Tentu, bekerja keras dan merencanakan keuangan merupakan hal yang baik. Namun, kita juga perlu bertanya apakah keputusan yang kita ambil benar-benar didasarkan pada kebutuhan dan tujuan hidup, atau justru karena takut kembali mengalami keadaan yang pernah kita saksikan ketika kecil.
Tidak Semua Masalah Bisa Diselesaikan dengan Materi
Keterbatasan ekonomi memang dapat menimbulkan masalah nyata. Kebutuhan yang tidak terpenuhi bisa memicu pertengkaran, mempersempit pilihan pendidikan, dan membuat keluarga kesulitan mendapatkan layanan kesehatan. Karena itu, memperbaiki keadaan finansial merupakan hal yang penting dan tidak seharusnya diremehkan.
Namun, ada persoalan lain yang tidak selesai hanya dengan membaiknya kondisi ekonomi. Hubungan yang renggang tetap membutuhkan komunikasi. Rasa kecewa membutuhkan pengertian. Sementara itu, kedekatan dalam keluarga memerlukan waktu dan perhatian, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan materi.
Kita mungkin pernah melihat orang tua bekerja keras demi keluarga, tetapi kesibukan membuat waktu bersama semakin sedikit. Ada pula keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi kesulitan membicarakan perasaan satu sama lain.
Hal-hal seperti ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak hanya dibentuk oleh apa yang bisa kita miliki, tetapi juga oleh bagaimana kita memperlakukan orang lain dan menjalani hubungan dengan mereka.
Karena itu, pengalaman masa kecil sebaiknya tidak hanya menjadi alasan untuk bekerja lebih keras. Pengalaman tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk memahami hal-hal yang ingin kita pertahankan dan hal-hal yang ingin kita ubah ketika membangun kehidupan sendiri.
"Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Kejar?"
Kita hidup di tengah lingkungan yang sering menjadikan penghasilan, pekerjaan, dan kepemilikan sebagai ukuran keberhasilan. Tidak mengherankan jika banyak orang merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Kita membandingkan pekerjaan, tempat tinggal, barang yang dimiliki, bahkan kemampuan seseorang memenuhi keinginannya.
Padahal, belum tentu kehidupan yang terlihat berhasil dari luar memberikan ketenangan yang kita bayangkan. Setiap orang memiliki kebutuhan, tanggung jawab, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Lalu, apakah kita tetap perlu mengejar kesuksesan? Tentu saja. Kita berhak mendapatkan pendidikan yang baik, pekerjaan yang layak, kehidupan yang lebih nyaman, dan kesempatan untuk membantu keluarga. Namun, kita juga perlu menentukan apa arti kesuksesan bagi diri sendiri.
Bagi seseorang, keberhasilan mungkin berarti mampu membiayai pendidikan adiknya. Bagi orang lain, keberhasilan berarti memiliki pekerjaan yang stabil dan waktu untuk bersama keluarga. Ada pula yang ingin mengembangkan ilmu, membangun usaha, atau memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Tidak semua tujuan harus terlihat besar di mata orang lain agar layak diperjuangkan. Kehidupan yang baik bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling berhasil, melainkan perjalanan untuk membangun sesuatu yang benar-benar bermakna bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Kita perlu mengejar ilmu, mengembangkan kemampuan, menjaga kesehatan, dan merawat hubungan yang penting dalam hidup. Kita juga perlu belajar menikmati hasil usaha tanpa terus-menerus merasa bahwa pencapaian kita belum cukup.
Kita Tidak Harus Mengulang Cara Pandang yang Sama
Mendengar orang tua membicarakan persoalan keuangan bukanlah sesuatu yang salah. Dari pengalaman itu, kita bisa belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan pentingnya mempersiapkan masa depan. Namun, kita tidak harus membawa semua ketakutan yang sama sepanjang hidup.
Jika dahulu kita melihat perbedaan pendapat tentang pengeluaran berujung pada pertengkaran, kita bisa belajar membicarakan persoalan dengan lebih terbuka. Jika dahulu kita terbiasa merasa cemas ketika kebutuhan belum terpenuhi, kita bisa belajar menyusun rencana agar tidak terus-menerus dikuasai kekhawatiran.
Kita juga perlu memahami bahwa anak tidak seharusnya merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan keuangan orang dewasa. Mereka boleh belajar memahami kondisi keluarga sesuai usianya, tetapi tidak seharusnya tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus segera berhasil demi menyelamatkan semua orang.
Pada akhirnya, kita tidak bisa memilih seluruh pengalaman yang membentuk masa kecil. Namun, kita tetap memiliki kesempatan untuk memeriksa kembali keyakinan yang selama ini kita bawa dan menentukan kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun.
Kita boleh memiliki cita-cita besar, bekerja keras, dan menginginkan masa depan yang lebih baik. Namun, jangan sampai kita baru menganggap diri berhasil setelah mencapai semua target yang telah ditetapkan. Sebab, target dapat terus berubah, sementara waktu yang kita miliki tetap berjalan.
Mungkin, hidup yang kita inginkan sebenarnya bukan kehidupan tanpa masalah, melainkan kehidupan yang memberi ruang untuk merasa aman, bertumbuh, mencintai, dan menikmati waktu bersama orang-orang terdekat.
Kita boleh bekerja keras untuk membangun masa depan, tetapi jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk mengejar masa depan itu sendiri. Pada akhirnya, yang perlu kita bangun bukan sekadar kehidupan yang terlihat berhasil, melainkan kehidupan yang benar-benar ingin kita jalani.
