Mau Dibawa ke Mana Negara Ini? Saat Rakyat Terus Dihadapkan Dengan Krisis

Nama saya Noor awaludin firdaus biasa di panggil Awal, saya berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Saya mahasiswa semester 3 di Universitas Jember
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Noor awaludin firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pertanyaan yang semakin sulit dihindari ketika melihat berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini: "sebenarnya, mau dibawa ke mana negara ini?" Ketika persoalan BBM menjadi kekhawatiran, harga kebutuhan pokok menekan kehidupan masyarakat, kebakaran hutan dan lahan belum sepenuhnya tertangani, koropsi dana bantuan terus menjadi sorotan, hingga program pemerintah banyak menuai kritik, rakyat berhak mempertanyakan arah pembangunan yang sedang dijalankan.
Negara seharusnya menjadi tempat rakyat memperoleh perlindungan, kepastian, dan kesempatan untuk hidup lebih layak. Namun, apa jadinya jika masyarakat justru terus dibebani kecemasan terhadap kebutuhan sehari-hari, sementara pemerintah dituntut mempertanggungjawabkan berbagai kebijakan dan program yang menghabiskan anggaran besar? Persoalannya bukan semata-mata banyaknya masalah, melainkan apakah pemerintah benar-benar memahami persoalan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Jangan sampai negara terlihat sibuk bergerak, tetapi rakyat tidak merasakan kemajuan yang berarti.
Bagi sebagian masyarakat, BBM bukan sekadar komoditas energi. BBM menentukan biaya perjalanan ke tempat kerja, ongkos distribusi barang, biaya produksi usaha kecil, hingga harga makanan yang dibeli setiap hari. Ketika pasokan terganggu atau harga meningkat, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor kehidupan.
Begitu pula dengan harga bahan pokok. Bagi masyarakat berpenghasilan terbatas, kenaikan harga bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi. Kenaikan tersebut berarti semakin banyak penghasilan yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan yang sama. Ruang untuk menabung menyempit, kebutuhan lain terpaksa ditunda, dan beban rumah tangga semakin berat.
Di sinilah pemerintah seharusnya menunjukkan keberpihakan yang nyata. Jangan hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan ambisi pembangunan, tetapi mengabaikan kenyataan bahwa kesejahteraan harus dimulai dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya.
"Apa gunanya pembangunan terlihat megah jika rakyat masih harus berpikir berkali-kali hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?"
Pemerintah perlu memastikan ketersediaan energi, memperkuat pengawasan distribusi, menjaga stabilitas harga, serta memberikan perlindungan kepada kelompok yang paling terdampak. Masyarakat membutuhkan kebijakan yang terasa manfaatnya, bukan sekadar penjelasan yang terdengar meyakinkan.
Persoalan karhutla juga memperlihatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dengan mengesampingkan keselamatan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan dapat merusak ekosistem, mengganggu kesehatan, melumpuhkan aktivitas masyarakat, dan menimbulkan kerugian yang dampaknya melampaui satu musim kebakaran.
Jika persoalan serupa terus berulang, evaluasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana memadamkan api. Pemerintah harus berani memeriksa mengapa pencegahan belum cukup efektif, bagaimana pengawasan lahan dijalankan, dan apakah penegakan hukum benar-benar memberikan efek jera kepada pihak yang terbukti melanggar.
Jangan sampai negara hanya terlihat hadir ketika asap sudah menyebar dan masyarakat mulai mengeluhkan dampaknya. Pencegahan semestinya menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap setelah bencana terjadi.
Lingkungan bukan warisan yang boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat. Ketika hutan terbakar, yang dipertaruhkan bukan hanya pepohonan, melainkan juga kesehatan masyarakat, keberlanjutan ekonomi, dan hak generasi mendatang untuk menikmati lingkungan yang layak.
Lebih menyakitkan lagi ketika anggaran yang seharusnya digunakan untuk membantu masyarakat justru terseret persoalan korupsi. Dana bantuan bukanlah uang tanpa pemilik kepentingan. Di balik setiap anggaran terdapat kebutuhan warga yang harus dipenuhi dan hak masyarakat yang harus dilindungi.
Ketika dana publik disalahgunakan, kerugiannya tidak berhenti pada angka yang hilang dari kas negara. Masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh bantuan, pelayanan menjadi tidak optimal, dan kepercayaan terhadap pemerintah semakin tergerus.
Ironisnya, masyarakat diminta patuh terhadap aturan, sementara setiap dugaan penyalahgunaan kekuasaan justru menimbulkan pertanyaan tentang keseriusan negara dalam menegakkan prinsip keadilan. Karena itu, pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada slogan dan seremoni. Pengawasan harus diperkuat, penggunaan anggaran harus transparan, dan setiap pelanggaran harus diproses secara adil berdasarkan bukti serta hukum yang berlaku.
"Jangan sampai rakyat diminta berhemat, sementara uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan mereka justru tidak sampai kepada yang berhak."
Negara tidak cukup hanya mengumumkan besarnya anggaran yang dialokasikan. Negara juga harus membuktikan bahwa anggaran tersebut digunakan secara benar dan menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, berbagai program prioritas pemerintah membawa janji tentang peningkatan kesejahteraan dan penguatan ekonomi nasional. Namun, sebesar apa pun ambisi pembangunan, setiap kebijakan harus tetap tunduk pada satu ukuran utama: apakah kebijakan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan dijalankan secara bertanggung jawab?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, memiliki tujuan penting dalam mendukung pemenuhan gizi. Akan tetapi, tujuan yang baik tidak otomatis menjamin pelaksanaan yang baik. Kasus keracunan yang berkaitan dengan pelaksanaan program, apabila terbukti melalui penyelidikan, harus menjadi peringatan serius bahwa pengawasan keamanan pangan tidak boleh ditawar.
Anak-anak yang menerima makanan bukan objek uji coba kebijakan. Keselamatan mereka harus ditempatkan di atas tuntutan mengejar target pelaksanaan. Pemerintah perlu memastikan kualitas bahan makanan, kebersihan dapur, kelayakan distribusi, kompetensi petugas, serta mekanisme pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Program yang mengatasnamakan kesejahteraan justru akan kehilangan kepercayaan publik apabila keselamatan penerima manfaat tidak dijamin secara memadai. Pemerintah harus berani mengevaluasi pelaksanaan, membuka hasil pemeriksaan secara transparan, dan memperbaiki kelemahan yang ditemukan.
Kritik semacam ini bukan berarti menolak tujuan pemenuhan gizi. Sebaliknya, kritik merupakan tuntutan agar tujuan tersebut tidak berhenti sebagai slogan yang bagus di atas kertas.
Persoalan serupa perlu dilihat dalam pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes). Gagasan memperkuat ekonomi desa melalui koperasi tentu dapat menjadi peluang. Namun, peluang tersebut tidak akan terwujud hanya dengan mendirikan bangunan dan mengejar target pembangunan fisik.
Koperasi bukan sekadar gedung, papan nama, atau simbol keberhasilan program pemerintah. Koperasi merupakan lembaga ekonomi yang membutuhkan anggota aktif, pengelolaan profesional, perencanaan usaha, pasar yang jelas, dan kemampuan menjaga keberlanjutan keuangan.
Karena itu, apabila pembangunan dilakukan tanpa kajian kebutuhan, pemilihan lokasi yang layak, atau kesiapan pengelolaan, pemerintah harus bersedia mengevaluasinya. Jangan sampai lokasi dipilih hanya demi memenuhi target, sementara akses masyarakat sulit, potensi usaha tidak diperhitungkan, atau bangunan tidak didukung rencana operasional yang matang.
Ukuran keberhasilan Kopdes seharusnya bukan berapa banyak bangunan yang berdiri, melainkan berapa banyak koperasi yang benar-benar beroperasi, mampu memenuhi kebutuhan anggotanya, menciptakan kegiatan ekonomi, dan memberikan manfaat bagi desa.
Jika suatu proyek belum sesuai kebutuhan, evaluasi bukanlah tanda kegagalan pemerintah. Justru, mempertahankan proyek yang bermasalah hanya demi menjaga citra merupakan pilihan yang jauh lebih merugikan masyarakat.
Uang publik tidak boleh diperlakukan sebagai biaya untuk sekadar memperlihatkan bahwa program telah berjalan. Setiap pembangunan harus memiliki alasan yang kuat, perencanaan yang masuk akal, dan hasil yang dapat diuji.
"Negara Tidak Boleh Kehilangan Arah"
Persoalan BBM, kenaikan harga kebutuhan pokok, karhutla, dugaan korupsi, pelaksanaan program prioritas, dan pembangunan koperasi desa memang memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, semuanya mempertemukan kita pada pertanyaan yang sama: apakah kebijakan pemerintah telah disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat, kemampuan pelaksanaan, dan manfaat yang terukur?
Pemerintah tentu tidak dapat menyelesaikan semua persoalan sekaligus. Namun, keterbatasan tersebut justru membuat penentuan prioritas semakin penting. Kebutuhan dasar harus dilindungi, bencana harus ditangani secara serius, anggaran harus dijaga dari penyalahgunaan, dan program pembangunan harus dievaluasi secara terbuka.
Jangan sampai keberhasilan pemerintahan hanya diukur melalui jumlah program yang diumumkan, besarnya anggaran yang diserap, atau banyaknya bangunan yang selesai. Semua itu hanyalah instrumen. Tujuan akhirnya tetap kesejahteraan masyarakat.
Rakyat membutuhkan jawaban yang dapat diuji: bagaimana harga kebutuhan pokok dijaga agar tetap terjangkau, bagaimana pasokan energi dipastikan, bagaimana karhutla dicegah, bagaimana uang publik dilindungi, serta bagaimana program prioritas memberikan manfaat tanpa mengorbankan keselamatan dan kepentingan warga.
Tanpa evaluasi yang jujur, program sebesar apa pun berisiko menjadi beban anggaran yang tidak sebanding dengan hasilnya. Sebaliknya, kebijakan yang dirancang berdasarkan kebutuhan, dilaksanakan dengan disiplin, dan diawasi secara transparan memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan perubahan nyata.
Rakyat Bukan Hanya Sebatas Penonton Pembangunan
Negara ini bukan milik pemerintah semata. Negara ini milik seluruh rakyat, yang hak dan kepentingannya harus menjadi dasar dalam setiap keputusan publik. Karena itu, masyarakat berhak mengkritik, mempertanyakan, dan meminta pertanggungjawaban atas kebijakan yang dijalankan atas nama kepentingan bersama.
Presiden dan seluruh jajaran pemerintahan perlu memahami bahwa kepercayaan publik tidak dibangun melalui retorika, melainkan melalui konsistensi antara janji dan tindakan. Kepemimpinan tidak hanya diuji ketika program berhasil mendapat pujian, tetapi juga ketika kebijakan menghadapi masalah dan pemerintah harus memilih antara mengakui kekurangan atau mempertahankan citra.
Negara ini tidak kekurangan slogan pembangunan. Yang harus dibuktikan adalah apakah pembangunan benar-benar membuat kehidupan masyarakat lebih baik. Jangan sampai ambisi pemerintah bergerak cepat, sementara persoalan rakyat berjalan di tempat.
"Mau dibawa ke mana negara ini?" Jawabannya seharusnya tidak sulit: menuju negara yang mampu melindungi rakyatnya, mengelola anggaran secara bertanggung jawab, menjaga lingkungan, menegakkan hukum, dan memastikan bahwa setiap kebijakan memiliki manfaat yang nyata.
Jika rakyat masih terus dibebani persoalan mendasar sementara program pemerintah terus bertambah, maka yang perlu diperiksa bukan hanya pelaksanaan program, melainkan juga cara pemerintah menentukan prioritas.
"negara yang kuat bukanlah negara yang paling banyak membangun program kerja, melainkan negara yang paling serius menyelesaikan persoalan rakyatnya."
