Konten dari Pengguna

Mengabdi atau Sekadar Terlihat Bekerja? Polisi Hadir, Kemacetan Tak Teratasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Noor awaludin firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by AI
zoom-in-whitePerbesar
Image by AI

Pagi hari seharusnya menjadi waktu ketika aktivitas masyarakat berjalan dengan lancar. Namun, bagi pengguna jalan yang melintasi Perempatan Mastrip, Jember, kondisi tersebut tidak selalu sesuai harapan. Pada jam berangkat kerja dan sekolah, kepadatan kendaraan sering kali membuat arus lalu lintas tersendat. Di tengah situasi itu, keberadaan polisi lalu lintas semestinya menjadi harapan masyarakat untuk membantu mengurai kemacetan dan menjaga ketertiban di jalan raya.

Namun, berdasarkan pengamatan pribadi saya di Perempatan Mastrip pada pagi hari, muncul pertanyaan yang cukup mengganjal: sebenarnya apa fungsi polisi yang bertugas di tengah kemacetan jika keberadaannya belum terlihat efektif dalam mengatur arus kendaraan?

Pertanyaan ini bukan muncul tanpa alasan. Ketika kendaraan dari berbagai arah saling berebut jalan, pengendara membutuhkan arahan yang jelas agar tidak saling menyerobot dan memperparah kemacetan. Dalam kondisi seperti itu, petugas kepolisian seharusnya mampu mengambil peran dengan mengatur giliran kendaraan, mengarahkan arus lalu lintas, serta memastikan persimpangan tidak semakin semrawut. Kehadiran mereka seharusnya memberikan solusi, bukan sekadar menjadi pemandangan yang biasa dilihat masyarakat setiap pagi.

Sayangnya, dari apa yang saya amati, petugas yang berada di lokasi justru terlihat kurang aktif memberikan arahan kepada pengendara. Kendaraan terus menumpuk, pengendara kebingungan mencari celah untuk melintas, sedangkan keberadaan polisi yang seharusnya membantu mengurai kemacetan belum terasa secara optimal. Situasi ini menimbulkan kesan bahwa kehadiran petugas secara fisik belum tentu sejalan dengan efektivitas pelayanan yang diberikan.

Dari sini, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tugas pagi hari hanya dipahami sebagai kewajiban untuk hadir di lokasi? Apakah yang terpenting sekadar datang, mengenakan seragam dan rompi hijau, lalu memastikan diri terlihat sedang bertugas? Jika demikian, apa bedanya kehadiran petugas dengan pelayanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat?

Tentu, saya tidak bermaksud menyamaratakan seluruh anggota kepolisian. Banyak petugas yang menjalankan tugas dengan baik dan membantu masyarakat dalam berbagai situasi. Kemacetan juga tidak selalu disebabkan oleh kurang aktifnya petugas, karena terdapat faktor lain seperti tingginya volume kendaraan, perilaku pengendara, dan kondisi persimpangan. Namun, berbagai faktor tersebut justru memperkuat pentingnya pengaturan lalu lintas yang tepat, terutama pada titik yang kerap mengalami kepadatan. Pengamatan di Perempatan Mastrip menjadi alasan bagi saya untuk mempertanyakan apakah pelaksanaan tugas di lapangan sudah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Ironisnya, dalam kondisi tersebut, terkadang justru pak ogah yang terlihat lebih aktif membantu mengatur kendaraan. Dengan memberikan isyarat kepada pengendara dan membantu membuka ruang bagi kendaraan untuk melintas, mereka tampak berusaha membuat arus lalu lintas tetap bergerak. Pemandangan ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar: mengapa orang yang membantu secara informal terkadang terlihat lebih aktif dibandingkan petugas yang memang memiliki kewenangan resmi dalam pengaturan lalu lintas?

Perbandingan ini bukan berarti pak ogah harus menggantikan tugas kepolisian. Pengaturan lalu lintas tetap membutuhkan kewenangan, koordinasi, dan pertimbangan keselamatan. Bahkan, pengaturan oleh pihak yang tidak berwenang berpotensi menimbulkan persoalan apabila tidak dilakukan secara terkoordinasi. Namun, ketika masyarakat justru lebih merasakan adanya upaya pengaturan dari pihak informal, keadaan tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi aparat terkait. Persoalannya bukan tentang siapa yang lebih pantas berdiri di tengah jalan, melainkan siapa yang mampu menjalankan perannya secara efektif, aman, dan bertanggung jawab.

Dalam perspektif pelayanan publik, kualitas kerja tidak cukup diukur dari kehadiran atau pelaksanaan tugas secara formal. Kinerja juga perlu dilihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat. Petugas yang ditempatkan pada jam-jam sibuk seharusnya mampu memberikan arahan yang tegas, bertindak sigap ketika terjadi penumpukan kendaraan, serta menyesuaikan pola pengaturan dengan kondisi arus lalu lintas. Jika kemacetan terus terjadi tanpa upaya pengaturan yang terlihat efektif, evaluasi terhadap pelaksanaan tugas menjadi sesuatu yang wajar untuk dilakukan.

Karena itu, saya berharap petugas yang ditempatkan di Perempatan Mastrip tidak hanya berdiri sebagai simbol kehadiran aparat, tetapi benar-benar menjalankan fungsi pengaturan lalu lintas secara aktif. Pihak terkait juga perlu mengevaluasi pola penempatan dan pelaksanaan tugas petugas di lapangan agar kehadiran mereka pada jam-jam sibuk memberikan dampak nyata terhadap ketertiban dan kelancaran perjalanan masyarakat. Evaluasi tersebut bukan semata-mata untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memastikan bahwa pelayanan publik berjalan sesuai dengan tujuan yang seharusnya dicapai.

Pada akhirnya, kritik ini bukan bertujuan menjatuhkan institusi kepolisian, melainkan menjadi pengingat bahwa jabatan dan seragam membawa tanggung jawab. Masyarakat tidak sekadar membutuhkan polisi yang hadir, tetapi juga petugas yang bekerja, bertindak, dan memberikan solusi. Pengabdian seharusnya tidak berhenti pada keberadaan fisik di tempat tugas, tetapi diwujudkan melalui tindakan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

Jika masyarakat masih harus mempertanyakan efektivitas kehadiran polisi di tengah kemacetan, berarti ada aspek pelayanan yang perlu diperhatikan dan dievaluasi. Jangan sampai tugas yang seharusnya menjadi bentuk pengabdian justru terkesan seperti formalitas kehadiran. Sebab, yang dibutuhkan masyarakat setiap pagi bukan sekadar sosok polisi di pinggir jalan, melainkan tindakan nyata yang membantu menciptakan perjalanan yang lebih tertib, aman, dan lancar.

Sebab, mengabdi bukan sekadar terlihat bekerja. Mengabdi berarti memastikan bahwa kehadiran kita benar-benar membawa manfaat bagi mereka yang membutuhkan pelayanan.