Hilangnya Kebebasan Ketika Pendidikan Masih Terjebak dalam Angka

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Tahun 2024, Prodi Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Allia Putri Saskia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan merupakan suatu proses penting yang sangat didibutuhkan didalam kehidupan manusia. Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi setiap individu untuk melangsungkan kehidupan mereka. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan proses yang memungkinkan individu berkembang sesuai dengan potensi dan kemampuannya, sehingga dapat hidup mandiri, memiliki karakter, dan berkontribusi kepada masyarakat.
Namun apakah arti pendidikan tersebut sudah sesuai dengan pendidikan saat ini? Apakah pendidikan benar-benar membebaskan? atau hanya menuntut kita untuk berfikus kepada angka saja?
Terjebak dalam Angka
Dalam kenyataannya pendidikan tidak terlalu mementingkan bagaimana proses yang dilalui oleh individu, pendidikan justru lebih menekankan kepada bagiamana hasil akhir yang nantinya akan diperoleh dalam bentuk angka. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, angka seperti nilai dan ranking menjadi tolak ukur utama yang digambarkan untuk keberhasilan dalam sebuah “pendidikan”, akibatnya pendidikan menjadi ajang perlombaan para individu karena sistem pendidikan yang lebih mengedepankan nilai. Padahal jika dilihat dari pengertian pendidikan, pendidikan tidak hanya soal angka melainkan pendidikan juga digunakan untuk memberdayakan individu supaya bisa berpikir secara mandiri, lebih kritis, dan dapat membentuk karakter.
Sistem pendidikan yang seperti ini dapat menciptakan pendidikan yang justru tidak adil, seperti siswa dianggap sebagai orang yang pintar apabila mereka mendapatkan nilai yang bagus, padahal nilai tersebut diperoleh hanya dari penghafalan untuk menjawab soal pilihan ganda bukan dengan cara berfikir kritis, akibatnya siswa yang tidak pintar dalam bidang penghafalan dianggap sebagai individu yang kurang pintar.
Hilangnya kebebasan untuk individu
Sistem pendidikan yang bertumpu pada angka untuk menentukan keberhasilan, membuat kebebasan yang awalnya menjadi inti dari proses belajar yang dilakukan para individu justru dibuat hilang perlahan-lahan. Kebebasan individu untuk berpikir, berekspresi dan berkreasi yang menjadi hak mereka menjadi terbatas karena mereka harus mengikuti tuntutan untuk mencapai nilai yang tinggi sebagai bentuk dalam memenuhi standar dalam sistem pendidikan Indonesia. Ketidakseimbangan antara kuantitas yang mendominasi dan juga kualitas yang terpinggirkan didalam pendidikan dapat mengakibatkan hilangnya aspek-aspek penting. Pendidikan dilakukan hanya untuk memenuhi isi kepala dengan segala hal yang sudah ada, seperti misalnya individu tidak dibiarkan untuk berpikir kritis tentang jawaban pertanyaan yang diberikan oleh guru karena mereka diarahkan untuk harus mengikuti jawaban yang sudah ada pada kunci jawaban. Akibat hal ini banyak individu yang sulit untuk berpikir kritis karena takut jawabannya salah, kreativitas mereka menurun karena tidak diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan menurut apa yang mereka fikirkan karena standar yang ada, dan juga mereka dibatasi dalam menunjukkan kebebasan ekspresi diri mereka akibat tuntutan sistem yang hanya menanggapi jawaban yang sesuai dengan hal yang sudah ada saja. Akibatnya eksplorasi mereka semuanya terbatas, mereka tidak diberikan kebebasan untuk mengaitkan pelajaran dengan apa yang selama ini dirasakan berdasarkan pengalaman mereka sendiri yang membuat arti pendidikan menjadi hilang makna dan hilang arah.
Lalu apakah akibat yang ditimbulkan dari sistem pendidikan yang bertumpu pada angka?
Dampak Pendidikan Berfokus pada Angka
Sistem pendidikan yang hanya berfokus pada angka bukan hanya menjadi tolak ukur keberhasilan, tetapi juga menjadi sumber tekanan untuk individu, baik tekanan psikologis maupun sosial. Banyak siswa yang menjalankan pembelajarannya dalam bayang-bayang tekanan akan nilai yang harus mereka penuhi karena adanya standar keberhasilan, jika mereka tidak memenuhi standar nilai tersebut mereka akan dianggap sebagai individu yang gagal. Akibatnya para siswa mengalami stress, rasa cemas yang berlebih ketika menjelang ujian untuk menentukan hasil nilai mereka dalam pembelajaran yang bisa berujung kepada gangguan serius dalam psikologis mereka, serta mengalami burnout karena lelah akibat belajar terus menerus untuk memenuhi standar nilai tanpa memberi ruang untuk istirahat dan sekedar mencari kebahagiaan untuk menghibur diri mereka.
Pendidikan yang berfokus pada angka juga menjadi ajang untuk kompetisi bukan lagi untuk pembelajaran. Angka ini menjadi tumpuan mereka untuk meraih kemenangan sebagai identitas, karena ketika mereka mendapatkan nilai yang bagus mereka akan dianggap sebagai siswa yang pintar sebaliknya ketika nilai mereka tidak bagus akan dianggap sebagai siswa yang kurang pintar. Maka dari itu, pendidikan menjadi ajang untuk saling bersaing. Mereka tidak lagi mementingkan tentang seberapa paham mereka akan pelajaran tersebut karena sistem ini membuat mereka lebih fokus untuk mendapatkan nilai dalam bentuk angka yang tinggi sebagai bentuk keberhasilan mereka dalam pendidikan tanpa perduli bahwa sebenarnya pendidikan adalah sumber ilmu yang harus mereka pahami secara mendalam. Bahkan banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam pendidikan karena ingin mencapai nilai yang tinggi.
Sistem pendidikan ini juga dianggap tidak inklusif karena penilaian pada sistem yang berfokus pada angka lebih sering mengabaikan latar belakang seperti ekonomi, sosial dan budaya. Akibatnya, siswa dari wilayah terpencil atau dari keluarga dengan keterbatasan finansial tidak memiliki akses yang memadai terhadap fasilitas seperti bimbingan belajar, teknologi, atau lingkungan belajar yang kondusif yang dapat menganggu fokus mereka akan pembelajaran. Ketika mereka mendapat nilai yang rendah, hal itu bukan terjadi karena kurangnya kemampuan yang dimiliki, melainkan dari minimnya kesempatan mereka dalam segala aspek yang tidak mereka dapatkan, seperti bimbel yang tidak bisa mereka dpaatkan karena tidak memiliki cukup biaya yang menjadikan mereka kurang akan pengetahuan lebih yang bisa didapatkan oleh individu dengan latar belakang yang lebih baik. Contoh lain, ketika seleksi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya atau pemberian beasiswa yang hanya mengandalkan nilai berupa angka, perjuangan dan potensi yang mereka lakukan menjadi terabaikan. Maka dari itu, sistem pendidikan seperti ini dapat memperkuat jurang ketimpangan. Mereka yang sudah tertinggal semakin sulit mengejar, sementara mereka yang memiliki latar belakang lebih baik semakin diuntungkan.
Pendidikan sebagi proses humanistik menuju pembebasan
Pendidikan bukan hanya soal mengejar nilai dalam bentuk angka, proses humanistik membantu individu untuk lebih membentuk pribadi yang utuh sesuai dengan arti dari pendidikan itu sendiri. Pribadi yang utuh dalam konteks ini menekankan kepada individu yang memiliki krestivitas, karakter, empati dan peduli akan kesadaran sosial. Sejatinya pendidikan memang diharuskan untuk melihat para siswa sebagai individu yang kompleks dengan berbagai aspek-aspek kebutuhan seperti emosional, sosial, intelektual. Hal ini bukan hanya bertujuan untuk menciptakan siswa yang pintar dalam akademik saja, tetapi juga menjadikan mereka sebagai individu yang kreatif, berkarakter, inovatif dan juga memiliki moral serta empati yang baik.
Salah satu model pendidikan dengan proses humanistik yang telah berhasil diterapkan adalah Project-Based Learning atau biasa disebut dengan Pendidikan Berbasis Proyek. Dalam project ini, siswa dapat belajar dengan pengalaman nyata, yaitu pembelajaran yang relevan dengan kehidupan mereka. Mereka diberi kebebasan untuk mengeksplorasi, dan dibiarkan untuk memilih apa yang ingin mereka kaji. Proyek ini dilakukan bukan hanya untuk sekedar memperoleh nilai berupa angka, tetapi juga dilihat juga bagaimana proses yang mereka lakukan untuk mencapai hasil yang mereka dapatkan, serta dapat mendorong siswa untuk lebih kreatif, berkomunikasi, memecahkan masalah dan membuat suasana belajar mereka menjadi lebih menyenangkan yang membuat mereka tidak memiliki tekanan akan angka yang menjadi beban pikiran mereka dalam kesuksesan.
Jadi, pendidikan bukan hanya soal angka tetapi pendidikan juga harus mengedepankan esensi utamanya yaitu sebagai proses untuk membentuk individu, seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, "Tujuan pendidikan itu untuk memerdekakan manusia". Artinya pendidikan dilaksanakan supaya individu dapat hidup bahagia dan selamat dalam mencapai kehidupan yang setinggi-tingginya tanpa adanya tekanan serta paksaan terhadap penilaian keberhasilan yang didasarkan oleh kuantitas yang mendominasi.
