Konten dari Pengguna

Ketika Semua Jawaban Ada di Internet, Apa yang Hilang dari Pendidikan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Allia Putri Saskia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Haidar Azmi from Pexels: https://www.pexels.com/photo/indonesian-students-in-classroom-exam-setting-31940733/
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Haidar Azmi from Pexels: https://www.pexels.com/photo/indonesian-students-in-classroom-exam-setting-31940733/

Apakah teknologi digital telah membantu peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, atau justru membuat mereka semakin bergantung pada informasi yang dapat diperoleh dengan mudah bahkan dalam hitungan detik?

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Akses terhadap informasi pada masa kini menjadi lebih mudah melalui internet, media sosial, dan berbagai platform pembelajaran daring. Tetapi, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan kemampuan peserta didik untuk memahami, mengkritisi, dan memanfaatkan informasi dari teknologi digital secara bijak. Tidak sedikit peserta didik yang menyalahgunakan teknologi, seperti misalnya banyak terdapat fenomena penyebaran hoaks, literasi digital menjadi lebih rendah karena mudahnya menyalin sebuah informasi tanpa adanya analisis mendalam, serta kesenjangan pada akses pendidikan yang menunjukkan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan kesadaran kritis.

Ketika jawaban dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, hal yang perlu dipertanyakan bukan lagi seberapa banyak pengetahuan yang dapat diakses peserta didik, melainkan sejauh mana mereka mampu memahami, mempertanyakan, dan menilai kebenaran dari informasi yang mereka dapatkan tersebut. Dalam situasi ini, pendidikan dapat berisiko kehilangan perannya sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis peserta didik, apabila pendidikan hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan tanpa mendorong proses berpikir yang mendalam.

Dalam sosiologi, pemikiran Paulo Freire tentang conscientization atau kesadaran kritis menjadi sebuah hal yang sangat relevan untuk menjawab berbagai persoalan di dalam pendidikan. Freire memandang bahwasannya pendidikan itu dijadikan sebagai sarana pembebasan yang dapat membuat individu memahami realitas sosial sekaligus berpartisipasi dalam perubahan di dalam sebuah masyarakat.

Pendidikan dan Tantangan Era Digital

Seperti yang kita tahu, saat ini peserta didik hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Mereka dapat memperoleh berbagai pengetahuan hanya melalui teknologi yang mereka miliki salah satunya adalah handphone. Namun, dengan meluasnya akses informasi tidak selalu menghasilkan pemahaman yang mendalam, justru banyak peserta didik yang hanya menerima informasi secara instan atau menelan informasi begitu saja tanpa menggunakan kemampuan berpikir kritis mereka terhadap sumber, isi, maupun dampak yang dihasilkan dari informasi tersebut.

Situasi ini memiliki kemiripan dengan kritik Freire terhadap konsep banking education, yaitu model pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai "wadah kosong" yang hanya menerima informasi dari guru. Meskipun teknologi telah berkembang, praktik pendidikan yang berorientasi pada hafalan, nilai ujian, dan penyampaian materi satu arah masih sering ditemukan. Akibatnya, peserta didik cenderung hanya menjadi penerima pasif pengetahuan daripada individu yang aktif mempertanyakan dan memahami realitas sosial di sekitarnya.

Conscientization sebagai Kebutuhan Pendidikan Masa Kini

Menurut Freire, pendidikan yang ideal harus mampu membangun conscientization atau kesadaran kritis. Kesadaran kritis tidak hanya berarti memahami suatu permasalahan, tetapi juga mampu melihat hubungan antara masalah individu dengan struktur sosial yang lebih luas. Freire menjelaskan bahwa individu perlu bergerak dari kesadaran magis dan kesadaran naif menuju kesadaran kritis agar mampu memahami akar persoalan yang sebenarnya.

Photo by Solen Feyissa from Pexels: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-a-person-holding-a-smartphone-displaying-chatgpt-20870795/

Dalam kehidupan saat ini banyak sekali berita hoax yang tersebar karena kurangnya kesadaran akan berpikir kritis, penggunaan Artificial Intelligence/AI dalam dunia pendidikan juga sudah sangat memengaruhi kehidupan para peserta didik dalam menjalankan pembelajaran sehari-hari tanpa memverifikasi isi yang mereka dapatkan dari AI tersebut. Dikutip dari artikel MPR RI: Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI, Gen Z Lawan Hoaks Era Digital. Budi Muliawan, S.H., M.H., menyebutkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan berupa hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan AI. Oleh karena itu, peserta didik perlu membiasakan diri untuk memverifikasi sebuah informasi yang mereka dapat dari media digital sebelum mempercayainya. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan masa kini, yang sejalan dengan gagasan conscientization Paulo Freire yang mendorong peserta didik untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga mampu mempertanyakan, menganalisis, dan memahami realitas sosial di balik informasi yang diterimanya.

Dalam pendidikan masa kini, kesadaran kritis dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berdiskusi, menganalisis isu sosial, melakukan penelitian sederhana, dan menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Misalnya, ketika membahas kemiskinan, peserta didik tidak hanya mempelajari definisinya, tetapi juga menganalisis faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan apa yang dapat menyebabkan ketimpangan tersebut. Selain itu, kesadaran kritis juga sangat penting dalam era masa kini untuk menghadapi segala informasi yang ada di media sosial. Peserta didik perlu banyak pemahaman yang nantinya akan mendorong mereka untuk dapat berpikir kritis supaya dapat lebih dulu memverifikasi informasi, memahami bias pada media, serta meninjau terlebih dahulu segala sesuatu yang mereka dapat sebelum mengambil keputusan atau menyebarkan informasi kepada orang lain maupun untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran sehari-hari.

Kelas Sosial dan Ketimpangan Pendidikan

Pemikiran Freire tentang hubungan pendidikan dan kelas sosial juga masih relevan hingga sekarang. Meskipun pendidikan dianggap sebagai hak seluruh warga negara, kenyataannya dalam pendidikan masih terdapat kesenjangan dalam memperoleh akses pendidikan yang berkualitas. Salah satu faktor nya yaitu perbedaan kondisi ekonomi keluarga yang seringkali memengaruhi ketersediaan fasilitas belajar, akses internet, maupun kesempatan mengikuti pendidikan lanjutan. Menurut Kesenjangan Pendidikan dalam Tiga Dimensi: Kota-Desa, Jawa-Luar Jawa, dan Kelas Ekonomi, Indonesia masih menghadapi kesenjangan pendidikan yang terlihat dari perbedaan akses dan juga kualitas pendidikan antara kota dan desa, serta antarkelompok ekonomi masyarakat. Fenomena tersebut menguatkan pandangan Freire bahwa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial dan ekonomi yang memengaruhi kesempatan individu dalam memperoleh pendidikan yang layak.

Freire berpendapat bahwa pendidikan tidak boleh menjadi alat untuk memperkuat ketimpangan sosial. Maka karena itu, sekolah perlu memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa harus memandang latar belakang ekonomi, sosial, maupun budaya mereka karena pendidikan seharusnya mampu membantu peserta didik dalam memahami posisinya dalam masyarakat serta mendorong mereka untuk dapat berpartisipasi dalam menciptakan perubahan sosial yang lebih adil.

Relevansi Pemikiran Paulo Freire bagi Pendidikan Indonesia

Photo by Nasirun Khan from Pexels: https://www.pexels.com/photo/classroom-learning-with-engaged-students-studying-32094079/

Berdasarkan pemikiran Paulo Freire, pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran kritis terhadap realitas sosial yang dihadapi. Melalui konsep pendidikan dialogis, Freire menekankan bahwa pentingnya hubungan yang setara antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Peserta didik tidak lagi dianggap sebagai objek yang pasif dalam menerima informasi, melainkan sebagai subjek yang aktif dalam mengembangkan pengetahuan, mengemukakan pendapat, serta merefleksikan pengalaman yang dimilikinya. Dalam pendidikan Indonesia, gagasan Freire memiliki relevansi yang cukup kuat mengingat masih adanya berbagai tantangan pendidikan, seperti kesenjangan akses pendidikan, rendahnya tingkat literasi, serta derasnya arus informasi di era digital yang menuntut kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, penerapan pendidikan kritis dapat menjadi salah satu upaya yang cukup relevan untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan analisis dan kesadaran sosial. Dengan demikian, pemikiran Paulo Freire dapat menjadi landasan penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih demokratis, humanis, serta mampu mendorong peserta didik untuk berperan aktif dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial di masyarakat terutama dalam kehidupan pada era digital.