Konten dari Pengguna

AI di Kelas: Bantu Siswa Berprestasi atau Jadi Generasi Instan?

Nelli Putri Widiyati

Nelli Putri Widiyati

Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nelli Putri Widiyati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI yang biasa digunakan di sekolah (sumber:https://guruinovatif.id/artikel/10-aplikasi-kecerdasan-buatan-ai-gratis-yang-mempermudah-guru-dalam-membuat-media-pembelajaran).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI yang biasa digunakan di sekolah (sumber:https://guruinovatif.id/artikel/10-aplikasi-kecerdasan-buatan-ai-gratis-yang-mempermudah-guru-dalam-membuat-media-pembelajaran).

Di era digital yang semakin berkembang, kecerdasan buatan (AI) semakin populer di dunia pendidikan. Di Indonesia, AI mulai masuk ke dalam sistem pendidikan. Kebijakan ini diharapkan akan mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan era teknologi tinggi yang berkembang pesat karena tahun ajaran 2025/2026 akan menjadi tonggak penting dalam kurikulum SD, SMP, dan SMA.

Di Indonesia, AI mulai masuk ke ruang kelas, mulai dari membantu siswa menjawab soal matematika hingga merangkum bacaan panjang dalam hitungan detik. Secara umum, kecerdasan buatan terlihat seperti "guru privat digital" yang selalu tersedia. Tapi pertanyaan besarnya: apakah teknologi ini benar-benar meningkatkan kecerdasan siswa atau justru menciptakan generasi yang malas?

Revolusi Pembelajaran atau Hanya Jalan Pintas?

Penggunaan AI untuk mendukung pembelajaran telah menarik perhatian banyak pendidik dan institusi pendidikan. Alasannya sederhana: teknologi ini cepat, interaktif, dan dapat menyesuaikan materi dengan tiap siswa. Bayangkan siswa yang mengalami kesulitan memahami pecahan dapat langsung meminta penjelasan tambahan tanpa harus menunggu guru selesai mengajar di kelas.

Namun, kenyataan bisnis tidak sesederhana itu. Sekarang, banyak siswa menggunakan AI sebagai cara pintas. Tes esai? Tinggal tanya ChatGPT. Soal rumit? Anda hanya perlu copy-paste ke dalam aplikasi. Justru, guru menjadi bergantung pada mesin, daripada melatih otak mereka.

Saat ini, AI di sekolah telah menjadi paradoks. Di satu sisi, ia membantu siswa karena tugas dapat diselesaikan dengan cepat dan jawaban tersedia. Namun, di sisi lain, ia dapat menjadi racun yang secara bertahap menghancurkan daya kritis.

Belajar adalah proses: berpikir, salah, dan memperbaiki. AI dapat melakukan apa pun secara instan. Siswa mungkin "pintar di atas kertas", tetapi mereka mungkin tidak tahu apa-apa. Nilai baik, tapi logikanya lemah.

Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

AI juga dapat menimbulkan risiko baru: mereka yang memiliki akses akan melesat, sementara mereka yang tidak memilikinya akan semakin tertinggal. AI dapat memperlebar ketidakadilan daripada meratakan pendidikan.

Kita harus tegas bahwa kecerdasan buatan hanyalah alat, bukan otak tambahan. Ia tidak berguna jika hanya digunakan untuk menyalin. Ia memiliki potensi untuk menghasilkan generasi kreatif jika dipekerjakan sebagai mitra berpikir. Pertanyaannya: apakah kita ingin menggunakan AI untuk membantu atau untuk menjerumuskan?

Guru Dalam Era AI

Guru sekarang menghadapi tantangan baru ketika kecerdasan buatan (AI) hadir di sekolah. Teknologi ini sebanding dengan teman dan musuh, mampu menulis esai, menjawab soal, dan menjelaskan teori kompleks dalam hitungan detik. Guru harus berusaha untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya menjadi penyalin instan, tetapi juga belajar berpikir kritis.

Ironisnya, banyak sekolah di Indonesia belum memiliki peraturan yang jelas. Apakah mungkin bagi siswa untuk menggunakan kecerdasan buatan saat mengerjakan tugas? Apakah ada batasan? Setiap orang masih berada di zona abu-abu.

AI di Sekolah Memperdalam Jurang Sosial

Di kelas, kecerdasan buatan bukan hanya masalah teknologi; itu juga tentang siapa yang mendapat manfaat dan siapa yang tertinggal. Siswa di kota besar dapat menggunakan AI untuk belajar secara instan, tetapi siswa di daerah rural menghadapi masalah jaringan yang tidak konsisten. Teori konflik Karl Marx mengatakan bahwa jurang sosial dapat melebar karena orang yang memiliki akses menjadi lebih pintar dan orang yang tidak memiliki akses menjadi lebih tersisih.

Relasi antara guru dan murid juga berubah. Guru sekarang berperan sebagai fasilitator daripada "sumber tunggal pengetahuan". Seperti yang dikatakan oleh Berger dan Luckmann, AI dan murid saat ini berkontribusi pada pembentukan pengetahuan. Otoritas guru yang lemah dan tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi mudah untuk dibuang.

Selain itu, tujuan pendidikan untuk membangun karakter dan keterampilan berada dalam bahaya. Meskipun AI memiliki potensi untuk meningkatkan kreativitas dan literasi, ketika disalahgunakan, ia akan menghasilkan budaya instan dan kemalasan untuk berpikir.

Singkatnya, kecerdasan buatan adalah representasi sosial, lebih dari sekadar alat pintar. Jika kita tidak berhati-hati, kita akan menghasilkan generasi yang cerdas sekaligus memperburuk ketidakadilan yang sudah ada.

Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek

Masa Depan Pendidikan: Versi Baru dari Kecerdasan

AI di sekolah bukan hanya masalah teknologi; itu adalah cermin dari kelemahan sistem pendidikan kita. AI akan menjadi "mesin contekan besar" jika sekolah sibuk mengejar skor ujian. Anak-anak memiliki kemampuan untuk menyalin jawaban, tetapi otak mereka tidak terisi dengan kreativitas dan analisis mendalam.

Namun, AI dapat menjadi senjata ampuh bagi sekolah jika mereka berani mengubah pendekatan mereka dengan mengajarkan kreativitas, literasi informasi, dan etika digital. Bukan untuk menyontek, tetapi untuk menciptakan generasi yang mampu berpikir kritis dan inovatif.

Masa depan pendidikan tidak tergantung pada siapa yang paling cepat menghafal atau menyalin jawaban; itu tergantung pada siapa yang dapat menggunakan teknologi untuk membuka pikiran mereka, bukan untuk membatasi mereka. AI hanya alat. Cara kita mendidik anak-anak saat ini akan menentukan masa depan mereka. Pilih untuk mencetak "versi pintar baru" atau menjadikan versi lama mereka pintar.