Sekolah Masjid Terminal: Tempat Mengejar Impian yang Sempat

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta yang sedang mencoba mencerna realitas pendidikan di negeri tercinta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Faridah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sebuah bangunan yang mungkin tak banyak orang tahu keberadaannya. Dari tempat se derhana inilah, ratusan anak dari keluarga miskin menemukan kembali arti harapan. Bangunan itu bernama Sekolah Master, singkatan dari Masjid Terminal. Sebuah tempat belajar bagi anak-anak yang sempat putus sekolah, pekerja anak, bahkan tunawisma. Bagi mereka, Sekolah Master bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah kedua yang membuka jalan menuju masa depan.
Pendidikan Kesetaraan: Harapan yang Dihidupkan Kembali
Tidak semua anak beruntung lahir di keluarga yang mampu secara finansial untuk membiayai pendidikannya. Bagi sebagian orang, kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggal sudah menjadi perjuangan tersendiri. Di sinilah konsep pendidikan kesetaraan hadir sebagai penyelamat. Melalui program Paket A, B, dan C yang setara dengan jenjang SD, SMP, dan SMA, anak-anak yang sempat terhenti sekolah bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk belajar. Program ini dijalankan di berbagai lembaga nonformal, salah satunya di Sekolah Master Depok dibawah naungan Yayasan Bina Insan Mandiri. Di sekolah ini, tak ada batasan usia untuk belajar. Anak berusia belasan tahun bisa duduk di bangku yang sama dengan mereka yang sudah dewasa, semuanya memiliki satu tujuan: mengejar mimpi yang sempat tertunda. Sekolah Master menjadi simbol nyata bagaimana pendidikan kesetaraan mampu mengubah hidup seseorang.
Sekolah Master berdiri pada tahun 2000-an atas inisiatif Nurohim, seorang penggiat sosial yang prihatin terhadap banyaknya anak jalanan di kawasan Terminal Depok. Awalnya, kegiatan belajar hanya berlangsung di emperan masjid kecil. Namun, antusiasme anak-anak begitu besar sehingga perlahan tempat ini berkembang menjadi sekolah alternatif. Bangunan Sekolah Master memang jauh dari kata megah. Beberapa ruang kelas berdinding kontainer dan triplek yang ketika siang hari . Namun, semangat yang hidup di dalamnya membuat sekolah ini terasa begitu istimewa.
Kisah dari Jalanan ke Kampus Negeri
Dari Sekolah Master Depok, lahir banyak kisah yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan. Anak-anak yang dulu menghabiskan waktu di jalanan, membantu orang tua bekerja, atau sempat putus sekolah kini mampu melangkah lebih jauh hingga ke perguruan tinggi negeri. Salah satunya adalah seorang siswi lulusan Paket C yang merantau dari kampung halaman untuk bekerja sebagai ART di Depok untuk membantu ekonomi keluarganya. Kondisi ekonomi membuatnya berhenti sekolah setelah lulus SMP meskipun masih memiliki semangat belajar yang tinggi. Kemudian, setelah bergabung di Sekolah Master dan ikut paket kesetaraan C, ia kembali menemukan semangat untuk mengejar mimpinya. Dengan fasilitas sederhana dan jadwal belajar yang fleksibel, ia menuntaskan pendidikannya dan akhirnya diterima di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur SBMPTN di tahun 2022.
Kisah lain datang dari seorang alumni yang kini menempuh studi di Universitas Indonesia. Dulu, ia dikenal sebagai anak dari keluarga miskin yang sering membantu orang tuanya mencari nafkah. Sekolah Master menjadi tempat yang menumbuhkan kepercayaan diri dan tekadnya untuk terus belajar. Berkat dukungan guru dan relawan, ia berhasil menyelesaikan ujian kesetaraan, mengikuti bimbingan belajar tambahan, dan menembus seleksi perguruan tinggi negeri. Sekarang ia telah selesai menempuh pendidikan dan menjadi guru di salah satu sekolah. Selain itu, sejak di masa perkuliahan ia juga sudah aktif menjadi tutor relawan di Sekolah Master.
Kedua kisah itu hanyalah sebagian kecil dari banyak cerita serupa. Setiap tahun, ada siswa Sekolah Master yang berhasil menembus kampus negeri maupun swasta, bahkan beberapa mendapatkan beasiswa penuh. Mereka datang dari latar belakang yang beragam, namun memiliki satu kesamaan: semangat untuk mengubah hidup melalui pendidikan.
Pencapaian para alumni tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan kesetaraan bukanlah pilihan terakhir, melainkan jalan alternatif menuju mimpi. Di tempat yang sederhana dan serba terbatas itu, lahir generasi yang membuktikan bahwa mimpi besar tidak hanya milik mereka yang beruntung, tetapi juga bagi siapa pun yang berani berusaha dan tidak menyerah pada keadaan.
Guru dan Relawan: Pendidikan dari Hati
Di balik keberhasilan Sekolah Master Depok, ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap, para guru dan relawan. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang memiliki satu kesamaan, yaitu keinginan tulus untuk berbagi ilmu. Mereka datang bukan karena imbalan, melainkan karena keyakinan bahwa pendidikan adalah hak semua orang. Sebagian besar dari mereka mengajar tanpa bayaran. Tak ada tunjangan, tak ada gaji tetap. Namun, semangat mereka seolah tak pernah padam. Bagi para relawan, mengajar di Sekolah Master bukan sekadar mengisi waktu, tetapi sebuah panggilan hati. Mereka percaya bahwa pendidikan bisa menjadi jalan keluar bagi anak-anak dari rantai kemiskinan.
Kegiatan belajar di Sekolah Master sering kali berlangsung di ruang seadanya dengan fasilitas sederhana. Tidak ada proyektor canggih, papan tulisnya pun kadang sudah pudar. Meski begitu, suasana belajar tetap hangat. Para guru lebih banyak mengandalkan pendekatan personal dengan mendengarkan cerita murid, memahami latar belakang mereka, lalu perlahan membangkitkan kembali semangat belajar yang sempat padam. Di tempat ini, pelajaran bukan hanya tentang matematika atau bahasa Indonesia, tetapi juga tentang kehidupan: bagaimana menghargai diri sendiri, menumbuhkan rasa percaya diri, dan berani bermimpi. Para guru tahu betul bahwa sebagian besar muridnya datang dari masa lalu yang berat. Maka, sebelum mengajarkan rumus dan teori, mereka lebih dulu menanamkan keyakinan bahwa setiap anak berhak sukses, berapa pun usianya, dan dari mana pun asalnya.
Di Sekolah Master, pendidikan benar-benar tumbuh dari hati. Guru dan murid belajar bersama, bukan sekadar mengejar nilai, tapi menumbuhkan arti. Setiap keberhasilan satu siswa, sekecil apa pun, menjadi kebanggaan bersama. Ketika ada yang berhasil lulus ujian kesetaraan, diterima kuliah, atau bahkan sekadar bisa membaca dengan lancar, semua orang di sekolah itu merasa menang. Dari keikhlasan para guru dan relawan inilah, Sekolah Master bertahan lebih dari dua dekade. Mereka menjadi bukti bahwa pendidikan sejati tidak selalu lahir dari lembaga besar atau fasilitas mewah, melainkan dari hati yang percaya bahwa setiap anak pantas mendapat kesempatan yang sama untuk belajar dan bermimpi.
Pendidikan yang Mengubah Hidup
Meskipun telah banyak melahirkan kisah sukses, perjalanan Sekolah Master tentu tidak mudah. Masalah utama yang dihadapi adalah pendanaan. Sebagian besar biaya operasional berasal dari donasi masyarakat dan kegiatan sosial. Namun keterbatasan justru menjadi bahan bakar semangat bagi warga sekolah. Murid-murid di Sekolah Master belajar dengan penuh tekad karena tahu bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Selain belajar mata pelajaran umum, mereka juga mendapat pelatihan keterampilan seperti menjahit, komputer, hingga wirausaha kecil. Hal ini dilakukan agar siswa bisa mandiri bahkan sebelum mereka lulus.
Dampak Sekolah Master kini tak hanya dirasakan di Depok. Banyak alumninya yang kemudian kembali menjadi relawan, guru, bahkan aktivis sosial. Mereka kembali ke tempat mereka dulu belajar, untuk memberikan hal yang sama: kesempatan kedua. Sekolah ini membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya urusan akademik, tapi soal keberanian untuk bermimpi dan ketulusan untuk membantu sesama. Di tengah dunia yang sering kali menilai keberhasilan dari gelar dan status, Sekolah Master menjadi pengingat bahwa esensi pendidikan adalah memanusiakan manusia.
