Konten dari Pengguna

Paylater Bukan Musuh, tetapi Cermin Cara Kita Mengelola Keinginan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofi Nabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi paylater. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi paylater. Foto: Shutterstock

Pernahkah kita membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena takut kehilangan promo? Beberapa menit setelah transaksi selesai, muncul rasa puas karena berhasil mendapatkan harga yang dianggap "lebih murah". Namun, beberapa minggu kemudian, tagihan datang ketika euforia itu sudah hilang. Di sinilah persoalannya. bukan semata-mata pada paylater, melainkan pada cara kita memaknai uang dan mengelola keinginan.

Fenomena tersebut semakin mudah ditemui di era digital. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) perusahaan pembiayaan mencapai Rp12,81 triliun pada Februari 2026, tumbuh 55,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. PT Pefindo Biro Kredit juga mencatat outstanding utang paylater mencapai Rp56,3 triliun pada periode yang sama. Angka ini menunjukkan bahwa paylater telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda.

Namun, menyalahkan paylater sebagai penyebab utama perilaku konsumtif juga bukan sikap yang adil. Bagi sebagian orang, layanan ini membantu memenuhi kebutuhan mendesak atau membeli barang produktif, seperti laptop untuk kuliah maupun bekerja. Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada keputusan manusia dalam menggunakannya.

Di sinilah ekonomi Islam menawarkan sudut pandang yang menarik. Islam tidak hanya mengatur halal dan haram suatu transaksi, tetapi juga mengajarkan etika dalam mengelola harta. Dua konsep yang relevan untuk memahami fenomena ini ialah israf dan tabzir.

Israf adalah sikap berlebihan dalam menggunakan sesuatu yang pada dasarnya dibolehkan. Seseorang mungkin membeli pakaian baru setiap kali ada promo, padahal pakaian yang dimilikinya masih layak digunakan. Barang yang dibeli bukanlah sesuatu yang haram, tetapi jumlah dan frekuensi pembeliannya telah melampaui batas kebutuhan. Allah Swt. berfirman, "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan" (QS. Al-A'raf: 31).

Sementara itu, tabzir berarti menghambur-hamburkan harta pada sesuatu yang tidak membawa kemaslahatan. Misalnya, membeli aksesori yang sedang viral hanya karena takut tertinggal tren (fear of missing out atau FOMO), padahal barang tersebut akhirnya tidak pernah digunakan. Dalam kondisi seperti ini, pengeluaran dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan demi mengikuti arus. Allah Swt. mengingatkan, "Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan" (QS. Al-Isra': 27).

Lalu, mengapa paylater sering dikaitkan dengan kedua perilaku tersebut? Salah satu jawabannya terletak pada cara manusia merasakan uang. Ketika pembayaran diubah menjadi cicilan bulanan, harga terasa lebih ringan dibandingkan ketika harus dibayar sekaligus. Promo, potongan harga, gratis ongkos kirim, hingga notifikasi yang terus bermunculan semakin memperkuat dorongan untuk segera bertransaksi. Akibatnya, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.

Karena itu, tantangan terbesar di era digital bukanlah menghindari teknologi, melainkan mengendalikan diri. Sebelum menekan tombol checkout, ada baiknya kita bertanya, apakah barang ini benar-benar saya butuhkan, atau hanya saya inginkan karena sedang viral? Menunda keputusan membeli selama satu hari sering kali cukup untuk meredakan dorongan impulsif.

Pada akhirnya, paylater hanyalah sebuah alat. Ia tidak otomatis membawa seseorang pada israf maupun tabzir. Nilai suatu transaksi tetap ditentukan oleh tujuan, cara, dan tanggung jawab penggunanya. Di tengah derasnya arus konsumsi digital, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan merupakan bentuk literasi keuangan yang sejalan dengan nilai-nilai ekonomi Islam. Mungkin, tantangan terbesar kita hari ini bukan bagaimana memperoleh kemudahan berbelanja, melainkan bagaimana tetap bijak ketika semua kemudahan itu berada di ujung jari.