Konten dari Pengguna

Ketika Selat Hormuz Terancam Ditutup: Refleksi dari Pelaku Ekspor Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Sintawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Visualisai didapatkan hasil modifikasi Penulis menggunakan Canva AI
zoom-in-whitePerbesar
Visualisai didapatkan hasil modifikasi Penulis menggunakan Canva AI

Selat Hormuz, Beberapa hari terakhir, pemberitaan tentang potensi penutupan Selat Hormuz kembali mencuat. Parlemen Iran menyetujui langkah politik yang memungkinkan penutupan selat strategis itu, meskipun keputusan final masih berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar isu luar negeri yang tak menyentuh keseharian. Tapi bagi saya, seorang pelaku ekspor dari Indonesia hal ini adalah sinyal langsung yang perlu direspon secara strategis.

Sebagai jalur laut yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia, Selat Hormuz bukan sekadar jalur kapal. Ia adalah urat nadi rantai pasok global. Ketika laut ini terganggu, dunia akan merasakannya mulai dari premi asuransi kapal yang naik tajam, waktu pengiriman yang makin lama, hingga harga komoditas yang naik tanpa bisa dikendalikan.

Dan ya, Indonesia bukan negara di sekitar Teluk. Tapi ketika saya mengelola penawaran, kalkulasi harga, dan perencanaan pengiriman ekspor, gejolak ini bisa menjalar sampai ke invoice dan costing lokal. Premi asuransi pengangkutan bisa meningkat, buyer jadi lebih waspada, dan beberapa pembeli dari Timur Tengah atau Afrika justru menunda keputusan karena ketidakpastian pengiriman. Semua karena satu jalur laut ribuan kilometer dari sini.

Logistik Bukan Lagi Urusan Lokal

Dalam bayangan banyak orang, ekspor hanya soal produksi dan kirim barang. Tapi ketika jalur pengiriman terganggu di satu titik dunia, resiko itu ikut saya bawa dalam negosiasi harga. Saya tidak bisa bilang, “itu jauh dari kami,” karena buyer global menilai kita berdasarkan kesiapan.

Ketika perusahaan logistik mulai menaikkan harga, atau memperpanjang waktu estimasi pengiriman, dampaknya sangat konkret. Margin menipis. Kepercayaan buyer diuji. Dan sering kali, eksportir kecil seperti saya harus jadi penengah antara realitas pasar dan ekspektasi klien.

Perspektif Hubungan Internasional: Dari Jalur Laut ke Diplomasi Ekspor

Sebagai lulusan Hubungan Internasional, saya belajar bahwa keamanan jalur laut seperti Hormuz bukan hanya soal militer atau geopolitik elit. Tapi juga tentang ekonomi global yang sedang rapuh, dan bagaimana negara-negara Global South, termasuk Indonesia, harus cermat membaca gejolak global agar tidak hanya jadi korban turbulensi.

Kita terlalu sering menganggap isu-isu besar itu urusan negara-negara besar. Padahal, kita terhubung langsung lewat supply chain. Di sinilah diplomasi harus bekerja dua arah bukan hanya G2G, tapi juga informasi ke pelaku usaha. Ketika potensi krisis logistik terjadi, eksportir butuh panduan cepat dari pemerintah: skema alternatif, jalur pelabuhan pengganti, atau setidaknya notifikasi risiko yang konkret.

Rerouting, Resiliensi, dan Realita

Hari ini saya mulai berpikir ulang soal rute pengiriman saya. Bila buyer ada di kawasan Afrika atau Eropa, dan logistik sebelumnya mengandalkan rute yang bersinggungan dengan Selat Hormuz atau Laut Merah, maka saya harus punya Plan B. Bukan cuma demi efisiensi, tapi juga demi menjaga kredibilitas dan kontinuitas hubungan dagang.

Saya percaya, ini bukan hanya tugas eksportir. Peran pemerintah, asosiasi, dan BUMN logistik juga krusial. Kita butuh sistem peringatan dini, bukan hanya saat krisis terjadi, tapi justru saat potensi konflik mulai menguat.

Saya ingin mengajak teman-teman pelaku ekspor lainnya berdiskusi:

  • Apakah kita sudah cukup memperhitungkan geopolitik sebagai bagian dari strategi ekspor kita?

  • Di tengah dunia yang makin tidak pasti, bagaimana caranya pelaku ekspor Indonesia bisa tetap adaptif tanpa harus selalu menunggu intervensi negara?

Saya tidak punya semua jawabannya. Tapi saya tahu satu hal, ekspor hari ini bukan hanya soal produk tapi soal pemahaman akan dunia yang kita hadapi.