Konten dari Pengguna

Harga Buku Mahal, Salah Siapa kalau Minat Baca Rendah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Balqis Al Syifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilusteasrasi harga buku mahal. sumber : pixabay
zoom-in-whitePerbesar
ilusteasrasi harga buku mahal. sumber : pixabay

Pernahkah kamu berdiri di depan rak toko buku, memegang satu judul yang sangat ingin dibaca, lalu menaruhnya kembali karena harganya? Bagi sebagian orang, itu kekecewaan sesaat. Bagi yang lain, itu pilihan nyata antara pengetahuan dan kebutuhan pokok. Di titik inilah harga buku mahal berhenti menjadi urusan dagang dan berubah menjadi persoalan pendidikan. Kita sering mendengar keluhan bahwa minat baca masyarakat rendah. Tetapi sebelum menunjuk siapa yang salah, ada pertanyaan yang lebih jujur: seberapa mudah dan terjangkau sebenarnya akses pada buku?

Harga Buku Mahal Bukan Hukum Alam

Kita kerap menganggap buku mahal sebagai hal yang wajar: kertas, pajak, ongkos kirim, dan margin penerbit. Semua itu memang berperan, tetapi justru karena itu harga buku bukan hukum alam. Ia dibentuk oleh kebijakan dan struktur industri, termasuk distribusi yang menumpuk di Pulau Jawa serta terbatasnya dukungan bagi perpustakaan dan penerbitan buku terjangkau. Dampaknya terasa sehari-hari. Orang tua harus menimbang antara membelikan anak buku bacaan atau membayar kebutuhan pokok. Koleksi perpustakaan di banyak sekolah terbatas dan jarang diperbarui. Akibatnya, membaca di luar buku pelajaran menjadi kemewahan, lalu rendahnya minat baca sering dibebankan kepada anak, padahal akses yang timpang ikut menjadi penyebabnya. Jadi, pertanyaannya bukan mencari siapa yang salah, melainkan bagaimana akses pada buku bisa dibuat lebih adil, karena minat baca sulit tumbuh jika bukunya sendiri sulit dijangkau.

Jika pendidikan benar-benar prioritas, buku semestinya diperlakukan seperti infrastruktur dasar. Jalan dibangun agar orang bisa bergerak. Buku dimurahkan agar orang bisa berpikir

Pendidikan Gaya Bank ala Freire

Paulo Freire, pendidik asal Brasil, menulis Pedagogy of the Oppressed setelah bertahun-tahun mengajar orang dewasa miskin yang belum melek huruf. Ia mengkritik pendidikan gaya bank: guru "menabung" pengetahuan ke kepala murid, sementara murid hanya menampung, menghafal, dan mengulang. Sebagai gantinya, Freire menawarkan pendidikan untuk menghadapi masalah, yaitu belajar lewat dialog untuk membaca realitas secara kritis. Baginya, membaca kata tidak bisa dipisahkan dari membaca dunia. Tumbuhnya kesadaran kritis itu ia sebut konsientisasi. Tentu, buku yang terjangkau baru bermakna jika dibaca sambil dipertanyakan dan didiskusikan, bukan sekadar dihafal.

Ketika Harga Menjadi Penghalang

Lewat kacamata Freire, mahalnya buku membawa tiga konsekuensi yang saling berkaitan. Buku mahal menyuburkan pendidikan gaya bank. Bila bacaan langka, banyak anak hanya mengandalkan guru dan satu buku paket. Tanpa bahan pembanding, mereka sulit menguji dan membantah, sehingga yang tersisa hanya menghafal.

Buku mahal juga menjadikan sebagian orang penonton. Freire menyebut kaum tertindas sebagai mereka yang tidak diberi ruang untuk menamai dunianya sendiri. Ketika akses pada beragam bacaan terkonsentrasi pada yang mampu membeli, gagasan pun berputar di lingkaran yang sama. Pada akhirnya, buku mahal mengajarkan bahwa pengetahuan adalah hak istimewa. Anak yang tumbuh tanpa buku bisa menyimpulkan bahwa membaca luas bukan untuk orang seperti dirinya. Tidak perlu pelarangan, cukup dibuat sulit dijangkau. Dalam kerangka ini, orang yang jarang membaca belum tentu malas. Bisa jadi ia tidak cukup mampu untuk membeli buku dengan harga yang mahal itu.

Apa yang Bisa Dilakukan

Dari sisi kebijakan, hambatan harga perlu diturunkan lewat insentif pajak bagi penulis dan penerbit, subsidi distribusi ke daerah terpencil, dan penguatan perpustakaan yang hidup. Dari sisi masyarakat, kita bisa menumbuhkan ekosistem baca lewat taman bacaan, bursa buku bekas, dan komunitas diskusi. Mulai dari hal kecil pun berarti: mendonasikan buku, meminjamkannya, atau mendukung penerbit independen. Freire menekankan bahwa pendidikan tidak pernah netral: ia bisa menjinakkan, atau membebaskan. Menurunkan harga buku mahal adalah langkah awal agar minat baca tumbuh dan pendidikan benar-benar membebaskan. Bangsa yang ingin warganya berpikir merdeka tidak semestinya membiarkan buku hanya menjadi milik mereka yang mampu membelinya.