Mengapa Kita Lupa Pelajaran Sekolah 12 Tahun? Jawaban John Dewey dan Seekor Ulat

Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Haichal Faresh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemikiran John Dewey terhadap pendidikan berfokus pada pragmatisme, di mana pendidikan harus mempunyai kegunaan ataupun fungsi dalam kehidupan nyata seseorang. Melalui bukunya, Democracy and Education (1916) dan Experience and Education (1938), terdapat suatu konsep yang menjadi benang merah inti pemikirannya, yaitu “learning by doing” seseorang baru benar-benar “belajar” jika sudah pernah mengalami dan melakukan aktivitas yang nyata.
Sebuah Eksperimen yang Bertahan Semasa Hidup
Lebih dalam soal “learning by doing”, saya pernah merenung sebenarnya apa yang saya dapatkan selama 12 tahun menempuh pendidikan wajib? Saya bahkan sulit mengingat materi pelajaran IPA, mungkin sudah lupa, begitu pula dengan rumus-rumus matematika yang dahulu pernah saya hafal.
Namun, pada 2016, sepuluh tahun yang lalu, saya pernah melakukan eksperimen metamorfosis pada mata pelajaran IPA. Saya menangkap ulat, menaruhnya di wadah, lalu mengamati perubahannya dari ulat menjadi kepompong hingga menjadi kupu-kupu. Saya masih ingat setiap detailnya.
Di sinilah pengalaman tersebut memvalidasi konsep “learning by doing”. Konsep ini menjawab pertanyaan di benak saya tentang apa yang sebenarnya saya pelajari selama 12 tahun pendidikan membentuk diri saya yang sekarang, mulai dari cara berpikir, cara berpakaian, tata krama, hingga cara memandang dunia.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Dewey lainnya yang memandang sekolah sebagai laboratorium sosial. Sekolah tidak seharusnya menekankan materi hafalan, melainkan membentuk lingkungan sebagai simulasi miniatur dari masyarakat. Peran guru adalah sebagai fasilitator bagi muridnya, bukan sekadar mengisi gelas kosong dengan instruksi hafalan.
Ironi Hafalan dan Pentingnya Refleksi
Belum lama ini, saya bertanya kepada sepupu saya yang masih duduk di kelas tiga SD. Saya memintanya membaca teks di LKS-nya “Ondel-ondel adalah kesenian dari Jakarta.” Saya lega saat dia bisa membacanya dengan lancar. Namun, ketika saya tanya, “Kesenian itu apa?”, dia tidak tahu.
Di sinilah saya menyadari ironi dari mengutamakan hafalan daripada pemahaman. Anak-anak menghafal, tetapi tidak mengetahui makna di balik hafalan tersebut. Mungkin ini alasan sebagian besar dari kita lupa pada pelajaran yang ditempuh selama 12 tahun. Kita baru benar-benar belajar saat mengalami, melakukan, dan merefleksikan pengalaman tersebut.
Sebab, informasi bisa dipinjam, tetapi pemahaman hanya bisa didapat melalui refleksi dan renungan.
