Konten dari Pengguna

Saatnya Rumah Tangga 'Gotong Royong' kurangi Emisi Dunia

Maulana Afif

Maulana Afif

Teknik Elektro - Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulana Afif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebutuhan energi merupakan masalah vital di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Seiring pertumbuhan penduduk di Indonesia yang terus meningkat, kebutuhan energi di Indonesia juga akan turut bertambah. Namun, hingga hari ini kesenjangan antara pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia dengan ketersediaan sumber energi masih menjadi persoalan. Apalagi saat ini kebutuhan energi di Indonesia masih tergantung pada energi fosil seperti energi dari batubara dan minyak bumi yang jumlahnya terbatas dan tidak ramah lingkungan.

Pada tahun 2020 penduduk di Indonesia diperkirakan telah mencapai angka 270,6 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang begitu banyaknya tentu dibutuhkan adanya inovasi dalam meningkatkan ketersediaan energi secara cepat. Impor energi tak bisa dihindarkan. Padahal kita memiliki sumber daya energi yang tak dimiliki negara-negara di dunia lainnya.

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral potensi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia cukup besar yaitu sekitar 417 GW. Potensi ini mencakup tenaga panas bumi, angin, air dan surya. Sebagai negara dengan iklim tropis, EBT terbesar di Indonesia terdapat pada energi surya yaitu sebesar 207 GW. Dari potensi yang begitu besar, EBT yang sudah terpasang hanya 11% dan untuk tenaga surya hanya sebesar 0,07% (0,15 GW) saja.

Saat ini, dalam pemanfaatan EBT Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia. Vietnam saat ini sudah memasang PV kumulatif sebesar 16,5 GW, Thailand sudah memasang PV kumulatif sebesar 3 GW dan Malaysia juga sudah memasang PV kumulatif sebesar 1,49 GW.

Sebenarnya, Indonesia telah memiliki target bauran pemanfaatan EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050. Tetapi, berdasarkan pada data Kementerian ESDM rata-rata pengembangan pembangkit listrik yang memanfaatkan EBT baru sebesar 500 MW per tahun selama 4 tahun terakhir. Ini artinya jika tidak ada upaya serius untuk mengatasi kondisi tersebut, pada tahun 2025 EBT hanya akan tumbuh sebesar 2,5 GW. Nilai ini tentunya masih jauh dari target, karena terdapat gap sebesar 9-10 GW untuk mencapai target bauran energi 23% pada tahun 2025. Bisakah kita membantu Pemerintah turut serta mencapai target tersebut?

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Sumber : pixabay.com)

Beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam pengembangan EBT di Indonesia di antaranya yaitu masih rendahnya pemahaman atau sosialisasi terkait teknologi panel surya di kalangan masyarakat. Selain itu, harga panel surya yang relatif mahal serta tingkat perekonomian masyarakat yang masih terbilang rendah tentu akan menjadi pertimbangan masyarakat dalam menggunakan panel surya. Terlepas dari itu, kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri dalam mendistribusikan listrik secara merata.

Dari berbagai tantangan yang ada, tugas yang tak mudah adalah bagaimana melakukan penetrasi EBT khususnya penggunaan panel surya ke masyarakat luas dan memberikan fasilitas panel surya dengan harga yang terjangkau kepada masyarakat. Beberapa hal dapat didorong lebih serius oleh pemerintah bersama elemen masyarakat lainnya. Untuk mensosialisasikan penggunaan panel surya, fokus dapat dilakukan melalui pemahaman bahwa listrik dari PLTS akan memberikan manfaat yang sangat besar seperti dapat menghemat biaya listrik, menurunkan emisi gas karbon, dan dapat mengurangi pencemaran udara.

Apabila masing-masing elemen masyarakat sudah paham akan pentingnya penggunaan panel surya, bauran EBT sebenarnya sangat berpotensi untuk di kembangkan di Indonesia. Saat ini Indonesia tercatat memiliki jumlah penduduk sebanyak 270,6 juta jiwa, dari jumlah penduduk tersebut 70 juta rumah telah tercatat berlangganan listrik PLN. Dengan banyaknya jumlah rumah yang berlangganan listrik PLN, hal tersebut dapat kita jadikan momentum untuk meningkatkan jumlah EBT di Indonesia, apabila di setiap rumah telah memasang panel surya dengan sistem on-grid yang dapat meningkatkan daya listrik, maka pemerintah melalui PLN dapat mengurangi jumlah pembangkit yang berbahan fosil. Kemudian untuk daerah-daerah yang tidak terjangkau listrik PLN dapat di fokuskan menggunakan sistem PLTS off-grid. Dengan seperti itu tentu pemanfaatan bauran EBT dapat meningkat dan daerah-daerah yang sebelumnya tidak terjangkau listrik dapat memperoleh listrik.

Untuk mengatasi permasalahan mahalnya pembelian panel surya pemerintah dapat memberikan solusi dengan cara melakukan kerja sama dengan bank atau pihak-pihak terkait untuk memberikan pinjaman tanpa bunga atau dengan bunga yang rendah kepada masyarakat yang ingin membeli atau memasang panel surya. Agar masyarakat semakin tertarik untuk menggunakan panel surya, pemerintah juga dapat mendukung dengan cara tidak mempersulit perizinan dalam penggunaan panel surya. Dari pihak PLN juga dapat mendukung masyarakat untuk menggunakan panel surya dengan memberikan layanan khusus untuk jasa instalasi atau perawatan panel surya dengan harga yang terjangkau.

Saya yakin dengan cara tersebut, kita dapat mendongkrak pemanfaatan EBT di kalangan rumah tangga. Karena menurut saya apabila di setiap rumah telah menggunakan panel surya maka persentase bauran pemanfaatan EBT di Indonesia akan meningkat dan dapat menyusul angka persentase pemanfaatan EBT dari negara-negara tetangga. Dengan hal tersebut juga berpeluang menumbuhkan kesadaran dalam diri kita dan masyarakat luas terkait pentingnya pemanfaatan EBT untuk kehidupan di masa mendatang. Kita bisa gotong royong kurangi emisi dunia lewat panel surya.