Konten dari Pengguna

Peran Relawan Pendidikan: Urgensi Dukungan, Apresiasi, dan Perlindungan

MOHAMMAD RAFIIF APRIADITA

MOHAMMAD RAFIIF APRIADITA

Siswa SMK TELKOM PURWOKERTO

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MOHAMMAD RAFIIF APRIADITA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam sektor pendidikan, relawan tidak hanya beroperasi di sekolah formal, tetapi juga terjun langsung ke kawasan pinggiran kota melalui sekolah jalanan. Para relawan berhadapan langsung dengan realitas sosial untuk membantu anak-anak yang kesulitan mengakses literasi, sekaligus mendampingi mereka yang putus sekolah akibat kendala ekonomi. Oleh sebab itu, keberadaan relawan sudah sepatutnya didukung, diapresiasi, dan dilindungi oleh masyarakat serta pemerintah.

Peran Relawan Pendidikan di Area Kembangan

Aksi kerelawanan di bidang pendidikan terbukti mampu menjadi solusi nyata dalam menjangkau kelompok masyarakat Kembangan yang luput dari akses pendidikan formal. Banyak anak dari keluarga kurang mampu terkendala masalah ekonomi sehingga tidak dapat menikmati fasilitas sekolah yang layak. Dampak nyata dari gerakan sukarela ini terlihat dari inisiatif Aiptu Agus Riyanto bersama sejumlah relawan yang berhasil mengubah area Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menjadi sekolah gratis bernama “TPA Maju Bersama” di RT 10 RW 03 Joglo, Kembangan, Jakarta Barat. Berlokasi di bawah pemukiman warga dan beratap seng yang juga difungsikan sebagai musala, sekolah ini menjadi wadah menimba ilmu bagi sekitar 70 anak pemulung, anak yatim piatu, dan warga kurang mampu. Fakta ini membuktikan bahwa dedikasi para relawan dapat membuka pintu masa depan bagi anak-anak yang terancam putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.

Relawan Pendidikan dalam Tanggap Bencana

Tidak hanya di kawasan Kembangan, peran sukarelawan pendidikan juga menjadi tumpuan krusial dalam menjaga keberlangsungan belajar serta pemulihan psikologis anak-anak di wilayah pascabencana. Ketika bencana alam menghancurkan sekolah formal, fokus publik kerap kali hanya tertuju pada bantuan fisik dan bahan pangan, padahal hak pendidikan serta kesehatan mental anak-anak tidak boleh terhenti. Gambaran nyata mengenai kondisi ini dilaporkan oleh Ernawati, Pustakawan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, terkait dampak bencana banjir di Aceh. Ernawati. (2026, 9 Februari). Belajar diBawah Tenda, Saat Sukarelawan Pendidikan Jadi Simbol Harapan. SerambiNews.com. Di tengah rusaknya infrastruktur sekolah yang masih berlumpur, para sukarelawan pendidikan dari berbagai lembaga dan perguruan tinggi turun ke area pengungsian untuk mendirikan sekolah tenda darurat. Lebih dari sekadar membagikan modul dan membantu literasi digital darurat, kehadiran para relawan ini—yang telah dibekali pelatihan oleh Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Bireuen, dan Pidie—berperan penting sebagai pendamping psikologis (trauma healing) untuk memulihkan rasa aman anak-anak. Fenomena ini membuktikan bahwa sukarelawan pendidikan merupakan elemen pendukung yang vital untuk menjaga harapan, rutinitas, dan masa depan generasi muda di tengah situasi darurat.

Regulasi Pemerintah untuk Relawan Pendidikan

Pentingnya peran relawan pendidikan kini semakin diakui secara struktural oleh pemerintah sebagai mitra strategis dalam mengentaskan masalah sistemik, seperti tingginya angka anak putus sekolah. Tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) memerlukan pendekatan langsung di akar rumput yang sering kali sulit terjangkau oleh birokrasi formal semata. Urgensi ini dibuktikan oleh langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang tengah menyusun regulasi resmi pembentukan Relawan Pendidikan. Berdasarkan data Dapodik, puluhan ribu peserta didik di Indonesia terpaksa putus sekolah—dengan angka tertinggi berada di jenjang SD yang mencapai lebih dari 38 ribu anak. Sebagaimana dipaparkan oleh Staf Ahli Menteri Kemendikdasmen, Biyanto, hadirnya relawan pendidikan dirancang untuk mendeteksi dini anak-anak yang putus sekolah akibat bekerja, sekaligus membimbing mereka agar mau kembali mengakses pendidikan formal maupun nonformal. Langkah kebijakan ini menegaskan bahwa keberadaan sukarelawan bukan lagi sekadar aksi sosial sukarela, melainkan instrumen vital negara dalam menjamin pemerataan hak belajar bagi seluruh anak bangsa.

Pada akhirnya, keberadaan sukarelawan pendidikan sudah sepatutnya mendapatkan dukungan penuh, apresiasi, serta jaminan perlindungan dari masyarakat dan pemerintah. Rekam jejak mereka terbukti vital, mulai dari menghidupkan harapan anak-anak di kawasan marjinal, menjaga keberlanjutan belajar dan pemulihan psikologis di wilayah bencana, hingga menjadi mitra strategis negara dalam mendeteksi serta menekan angka anak putus sekolah. Menjaga dan memfasilitasi gerakan kerelawanan ini merupakan investasi sosial yang sangat krusial demi menjamin hak setiap anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang layak.