Depo Trem Wonokromo: Dulu Tersibuk, Kini Terlapuk
Tulisan dari Pierre Rainer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gedung terbengkalai ini menjadi bukti kejayaan transportasi massal di Kota Surabaya, bahkan sejak Era Kolonial.
Pemandangan sekitar Jalan Raya Pos di Kota Surabaya tidak lepas dari keberadaan salah satu transportasi massal yang sering digunakan masyarakat setempat yaitu trem. Keberadaan trem menjadi sangat penting bagi warga dikota ini mengingat tingkat mobilitas warga kota pahlawan cukup tinggi pada masa itu. Sebelum mengitari seluruh penjuru kota, trem-trem di kota pahlawan berangkat dari depo yang sama, yaitu Depo Trem Wonokromo.
Depo Trem Wonokromo terletak di area Waringin, cukup dekat dengan Terminal Bus Joyoboyo Surabaya. Sebagai tempat pemberhentian pertama sebuah trem, tentunya tempat ini ramai dengan lalu-lalang warga setempat yang ingin menggunakan transportasi ke berbagai tempat hingga tahun 1970-an.
Semenjak pemerintah kota menghentikan operasional trem, stasiun ini menjadi tidak terpakai. Meskipun lokasi ini masih dikelola oleh PT. Kereta Api (Persero), namun tetap saja bangunan ini menjadi terbengkalai. Lokasi ini malah penuh dengan kendaraan-kendaraan tua berkarat yang tidak terpakai yang “diparkirkan” begitu saja, sambil dijadikan tempat parkir berbayar. Bekas-bekas rel pada depo yang bertuliskan “ANNO 1913” ini telah ditutup semen, namun masih bisa dideteksi keberadaannya.
Tentunya gedung ini seyogyanya diberdayakan kembali. Gedung yang merupakan saksi kebesaran transportasi di kota penting yang dilewati Jalan Raya Pos ini masih menyimpan sejuta cerita yang belum terungkap sampai saat ini. Jangan sampai gedung ini hanya menjadi sebuah bangunan yang tidak berguna, mengingat gedung bersejarah ini pernah berjaya dan sangat dibutuhkan pada masanya.
Sebagai penutup, saya telah membuat tayangan singkat mengenai Depo Trem Wonokromo, baik dari kondisi diluar maupun kondisi didalam gedung.
Ditulis oleh: Pierre Rainer, Siswa SMA Gloria 2 Surabaya.

